Tentang Gula dan Garam

Tentang Gula dan Garam

Gula & Garam, "Orang yang mati rasa boleh jadi tidak akan bisa membedakan (rasa) manisnya gula dan atau (rasa) asinnya garam."

Hijaupopuler.id - Segera setelah dilantik sebagai Kepala Desa, Angga, mendatangi Gurunya, sekedar sowan, melaporkan predikatnya yang sudah naik kelas sebagai Kepala Desa, suatu status sosial yang paling prestisius, setidaknya di tingkat desanya.

Sang guru pun mengucapkan selamat dan tersenyum, lalu beranjak sejenak dari tempat duduknya, mendatangi sang Kepala Desa dengan menyuguhkan dua toples yang bentuk dan isinya sama; kristal berwarna putih;

Angga sejenak mengerutkan dahi mengamati kedua toples tsb., sebelum sempat bertanya, sang Guru lebih dahulu menjelaskan:

Kedua toples itu isinya sama. Kristal berwarna putih, walaupun nama, sifat dan rasanya berbeda; Kristal di toples A adalah gula, rasanya manis; Kristal di toples B rasanya asin; keduanya dibutuhkan dalam takaran yang proporsional; keduanya memiliki keistimewaan memberi dan mempengaruhi rasa tanpa kelihatan secara kasat mata.

Angga walaupun sudah berpredikat Kepala Desa, tetap bingung;

Melihat xpresi sang murid (yang sesungguhnya bLo’on, tpi nasibnya saja yang bicara lain), sang Guru melanjutkan:

Sehari-hari kamu akan menerima pemberian yang bentuk dan penampilannya sama, terkadang sulit membedakan yang mana gula dan yang mana garam;

Sehari-hari kamu akan mendapat pujian dan sanjungan dari para pemujamu, itulah gula; kritikan, celaan, bahkan hinaan dari mereka yang berbeda haluan denganmu, itulah garam;

Kelebihan mengkomsumsi gula bisa menyebabkan kadar gula tinggi, hingga mengakibatkan diabetes melitus, penyakit yang tidak akan bisa disembuhkan;

Jangan anti kepada garam dengan rasa asinnya, karena sehebat apapun istrimu memasakkan makanan untukmu, dia tetap akan membutuhkan garam, walaupun dalam takaran yang (hanya) sedikit; karena kelebihan (mengkomsumsi) garam dalam waktu yang lama bisa menyebabkan hipertensi, yang (bisa saja) berujung stroke!

Karenanya sLm buku2 resep masak, penggunaan gula dan garam selalu diikuti kata 'secukupnya'.

Tidak ada kawan yang tega memberimu garam, semua akan memberi "gula," sebaliknya "lawan"-mu boleh jadi hanya akan memberimu "garam," hingga boleh jadi mereka memberimu "gula" tapi kamu melihatnya "garam."

Sang Guru mengakhiri nasihat (baca: peringatan)-nya hari itu: "Orang yang mati rasa boleh jadi tidak akan bisa membedakan (rasa) manisnya gula dan atau (rasa) asinnya garam." 

Sembari membaca potongan kalimat Arab "'Alaa bi zikr Allah tathmainn al-qulub," beliau menutup nasihatnya: "Agar lidahmu tidak cepat mati rasa, maka perbanyaklah berzikir."

Si-Angga, yang beberapa jam ini larut dalam euphoria, tetiba hanya bisa terdiam seribu bahasa.

Abbas Langaji, Facebook 3 Maret 2021.

(*Cakk)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow