UIN Palopo Dorong Pelestarian Pengetahuan Lokal dan Penguatan Tata Kelola Digital
Penggalian kearifan lokal sendiri dapat menjadi bagian dari kajian akademik yang mempertemukan bahasa, budaya, lingkungan, dan pengetahuan masyarakat. Sementara penguatan pengelolaan website menjadi bagian penting dari penyediaan informasi institusi di ruang digital. Foto: Humas UIN Palopo.
Kabar | hijaupopuler.id
Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo dalam waktu berdekatan memperkuat dua sisi pengembangan pengetahuan, yakni penggalian kearifan lokal masyarakat adat Rongkong serta peningkatan kapasitas pengelolaan teknologi informasi dan keamanan digital kampus.
Dua agenda tersebut berlangsung melalui forum akademik dan pengembangan kapasitas kelembagaan. Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan (AUPK) UIN Palopo, Masruddin Asmit, menjadi narasumber Webinar Kesehatan yang digelar Akademi Kebidanan Tahirah Al-Baeti Bulukumba, Jumat (25/9/2026). Sehari berselang, Unit Penunjang Akademik (UPA) Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (TIPD) UIN Palopo menggelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelola Website, Sabtu (26/9/2026).
Dalam webinar yang berlangsung melalui zoom meeting tersebut, Masruddin mengangkat tema pengetahuan masyarakat adat Rongkong melalui materi berjudul “Leksikon Tumbuhan Obat Masyarakat Adat Rongkong: Bentuk Lingual, Dimensi Ekologis, dan Pengetahuan Pengobatan Tradisional.”
Kajian tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat Rongkong mengenai tumbuhan obat tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan tanaman, tetapi juga merefleksikan hubungan antara bahasa, budaya, lingkungan, dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Berdasarkan kajian yang dipaparkan, terdapat 62 entri tumbuhan obat yang mencakup 33 famili botani dan 55 genus. Nama-nama tumbuhan tersebut hadir dalam beragam bentuk kebahasaan, mulai dari satu kata hingga gabungan kata, di antaranya kariango, tambaga, leyya, paku lando, dan jambu biji.
Masruddin juga menguraikan tiga dimensi ekologis dalam pengetahuan tumbuhan obat masyarakat Rongkong, yakni biologis, ideologis, dan sosiologis.
Dimensi biologis berkaitan dengan kemampuan masyarakat mengenali ciri fisik tumbuhan, bagian tanaman, dan habitatnya. Dimensi ideologis berkaitan dengan nilai pengobatan dan pemaknaan budaya, sementara dimensi sosiologis berkaitan dengan praktik pemanfaatan serta proses pewarisan pengetahuan.
Dalam kajian tersebut, tumbuhan obat antara lain dimanfaatkan melalui proses perebusan, perendaman, dan pemerasan. Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi daun, rimpang, umbi, herba atau seluruh bagian tumbuhan, buah, batang, biji, tunas, akar, eksudat atau getah, serta air.
Sejumlah contoh yang dipaparkan antara lain daun jambu biji untuk keluhan diare, daun bulunangko atau iler untuk batuk, daun tambaga atau pegagan untuk gastritis, rimpang allikku atau lengkuas untuk gangguan kulit, serta daun nippon atau sintrong untuk luka terbuka.
Masruddin menegaskan, contoh tersebut merupakan dokumentasi praktik pengobatan tradisional yang dilaporkan dalam kajian, bukan bukti efektivitas klinis maupun petunjuk pengobatan.
“Leksikon tumbuhan obat bukan sekadar daftar nama tanaman. Di dalamnya tersimpan pengetahuan masyarakat tentang lingkungan, cara mengenali tumbuhan, cara memanfaatkannya, serta bagaimana pengetahuan tersebut diwariskan,” tuturnya.
Menurutnya, dokumentasi pengetahuan lokal penting dilakukan agar pengetahuan tersebut tidak terputus di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman. Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah pengembangan glosarium nama lokal dan dokumentasi pengetahuan pengobatan sebagai bagian dari upaya menjaga pengetahuan antargenerasi.
Sementara itu, dari sisi penguatan ekosistem digital, UPA TIPD UIN Palopo menggelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelola Website di Kopi Galung, Jalan Pong Simpin, Kecamatan Mungkajang, Kota Palopo, Sabtu (26/9/2026).
Workshop yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti para pengelola website dari lingkungan rektorat, fakultas, pascasarjana, unit kerja, hingga UPA di lingkungan UIN Palopo.
Kegiatan dibuka Rektor UIN Palopo, Abbas Langaji. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya penguatan kapasitas pengelola website sebagai bagian dari transformasi digital dan tata kelola informasi perguruan tinggi.
Menurut Abbas, website merupakan salah satu wajah institusi yang dapat diakses dan dinilai masyarakat.
“Instansi kita juga dilihat melalui website. Bagusnya kampus kita itu tercermin dalam sistem website kita,” ujarnya.
Ia berharap workshop tersebut meningkatkan kemampuan pengelola website di masing-masing fakultas dan unit kerja sekaligus mendukung pencapaian target pengembangan teknologi informasi UIN Palopo.
Materi pertama disampaikan Amin RS Budiantono, Ketua Tim Pengembangan Aplikasi dan Keamanan Informasi PUSDATIN Kementerian Agama RI. Ia membawakan materi “Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi di Lingkungan Kementerian Agama.”
Amin menjelaskan pentingnya kebijakan dalam pengelolaan sistem informasi, mulai dari alasan dan tujuan kebijakan hingga prinsip pengelolaan aplikasi dan sistem informasi. Tata kelola yang baik diperlukan agar pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi berjalan terarah, aman, serta sesuai ketentuan.
Materi berikutnya disampaikan Ashabul Kahfi, Web Developer Specialist, dengan topik “Cyber Security Awareness.” Materi tersebut membahas keamanan website, termasuk tanda-tanda sebuah situs mengalami serangan siber serta langkah yang dapat dilakukan pengelola dalam menghadapinya.
Ashabul juga mengingatkan bahwa website perguruan tinggi dapat menjadi sasaran serangan siber. Salah satu faktor yang membuat website kampus menarik adalah reputasi domain perguruan tinggi, termasuk domain ac.id, yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi di mesin pencari.
Selain itu, website yang tidak mendapatkan pemeriksaan keamanan secara berkala berpotensi memiliki celah yang dapat dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dua agenda tersebut memperlihatkan penguatan kapasitas UIN Palopo pada ranah yang berbeda namun saling melengkapi. Di satu sisi, perguruan tinggi didorong untuk menggali dan mendokumentasikan pengetahuan lokal sebagai bagian dari kekayaan akademik dan budaya. Di sisi lain, pengelolaan pengetahuan dan informasi institusi terus diperkuat melalui kapasitas teknologi, tata kelola sistem, serta kesadaran keamanan digital.
Penggalian kearifan lokal sendiri dapat menjadi bagian dari kajian akademik yang mempertemukan bahasa, budaya, lingkungan, dan pengetahuan masyarakat. Sementara penguatan pengelolaan website menjadi bagian penting dari penyediaan informasi institusi di ruang digital.
Apa Reaksi Anda?

