AI Menguasai Ilmu? Mahasiswa UIN Palopo–UINAM Bongkar Ancaman di Balik Digitalisasi

AI Menguasai Ilmu? Mahasiswa UIN Palopo–UINAM Bongkar Ancaman di Balik Digitalisasi
AI Menguasai Ilmu? Mahasiswa UIN Palopo–UINAM Bongkar Ancaman di Balik Digitalisasi
AI Menguasai Ilmu? Mahasiswa UIN Palopo–UINAM Bongkar Ancaman di Balik Digitalisasi
AI Menguasai Ilmu? Mahasiswa UIN Palopo–UINAM Bongkar Ancaman di Balik Digitalisasi

Mahasiswa harus adaptif terhadap perkembangan teknologi, tapi jangan sampai kehilangan sanad keilmuan. Foto: Humas UIN Palopo.

Kabar | hijaupopuler.id

Di era ketika Artificial Intelligence (AI) mampu merangkum kitab dalam hitungan detik, muncul pertanyaan besar: apakah otoritas keilmuan masih bisa dipercaya?

Isu inilah yang mengemuka dalam Kuliah Kolaborasi antara Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT) FUAD UIN Palopo dan Prodi Hadis UIN Alauddin Makassar (UINAM), Kamis (9/4/2026) pagi.

Mengangkat tema “Perkembangan Media Tulis dari Masa ke Masa,” forum ini justru berkembang menjadi diskusi kritis tentang masa depan ilmu pengetahuan di tengah gempuran teknologi digital.

Tiga narasumber, Mujadid Sigit Aliah dan Khairul Anam dari UINAM, serta Ahmad Tri Muslim dari UIN Palopo, mengulas perjalanan panjang media tulis—dari papirus, manuskrip klasik, hingga kini memasuki era algoritma dan AI.

Namun yang paling menyita perhatian bukan sekadar sejarahnya, melainkan dampaknya.

Di era digital, akses ilmu memang semakin mudah. Tapi di saat yang sama, batas antara pengetahuan yang valid dan informasi yang menyesatkan semakin kabur.

“Inilah tantangan terbesar hari ini. Bukan lagi sulit mencari ilmu, tapi sulit memastikan kebenarannya,” menjadi salah satu sorotan dalam diskusi.

Dekan FUAD UIN Palopo, Abdain, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus menjadi penjaga tradisi keilmuan.

“Mahasiswa harus adaptif terhadap perkembangan teknologi, tapi jangan sampai kehilangan sanad keilmuan,” tegasnya.

Sebanyak 64 mahasiswa Prodi Hadis UINAM hadir langsung dan terlibat dalam diskusi yang berlangsung dinamis. Berbagai isu mengemuka, mulai dari validitas sumber digital, peran AI dalam studi keislaman, hingga potensi krisis otoritas ilmu di kalangan generasi muda.

Fenomena “banjir informasi” juga menjadi perhatian. Kemudahan akses justru memunculkan tantangan baru: overload informasi yang berpotensi mengaburkan kebenaran.

Kuliah kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa di tengah kecanggihan teknologi, fondasi keilmuan tetap menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Ke depan, kolaborasi antara UIN Palopo dan UIN Alauddin Makassar diharapkan terus berkembang sebagai ruang kritis dalam merespons perubahan zaman.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow