Saat Warga Malangke Luwu Utara Menjadi "Kurban" Tahunan
Air mata warga akan terus jatuh di atas sisa tanggul yang rapuh—tahun ini, tahun depan, dan mungkin tahun-tahun berikutnya. Foto: Penulis.
Kabar | hijaupopuler.id
Esensi Iduladha adalah keikhlasan melepaskan sesuatu yang dicintai. Namun di Malangke dan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara, pengorbanan itu justru berlangsung secara paksa. Warga bukan menyerahkan hewan ternak sebagai kurban, melainkan kehilangan rumah, sawah, tambak, bahkan ketenangan hari raya mereka.
Dua hari menjelang Iduladha, Sungai Rongkong dan Sungai Baliase kembali meluap. Air berlumpur masuk ke rumah-rumah warga, meninggalkan bau tanah basah dan suara deras arus yang menakutkan. Kampung-kampung yang biasanya sibuk menyiapkan perayaan lebaran mendadak sunyi. Yang terdengar hanya deru perahu kayu yang sesekali melintas membawa warga menyelamatkan diri.
Sabtu lalu, proses evakuasi berjalan lambat. Petugas BPBD dan Basarnas harus memanggul lansia serta menggendong anak-anak keluar dari Desa Tingkara. Di Desa Pombakka, tanggul kembali jebol. Jalan utama terendam hingga setinggi dua meter. Lebih dari 7.000 jiwa terdampak. Sebagian warga yang memilih bertahan terpaksa menggunakan rakit seadanya untuk beraktivitas.
Situasi semakin mengkhawatirkan di Desa Tolada, setelah kemunculan buaya yang terbawa arus hingga ke permukiman. Kepala Desa bahkan mengimbau warga agar tidak turun ke air. Ancaman yang dihadapi masyarakat kini berlapis: banjir dan predator sungai.
Kerugian ekonomi dipastikan besar. Sawah yang siap panen terendam, tambak udang rusak, dan aktivitas sekolah dihentikan sementara. Masjid beralih fungsi menjadi tempat pengungsian sekaligus penyimpanan kasur-kasur basah milik warga. Di posko-posko darurat, persediaan logistik mulai menipis, sementara warga hanya bisa menunggu air surut.
Geografi Malangke yang berada di pertemuan tiga sungai kerap dijadikan alasan utama. Namun banjir tahunan ini tidak lagi bisa dianggap semata-mata sebagai bencana alam. Pendangkalan sungai dibiarkan terjadi, tanggul yang jebol sejak 2024 hanya ditambal seadanya, dan proyek normalisasi sungai berjalan tanpa kejelasan.
Pemerintah daerah memang cepat menetapkan status tanggap darurat dan menyalurkan bantuan. Namun penanganan akar persoalan selalu berhenti setelah banjir surut. Janji perbaikan menguap bersama lumpur yang mengering.
Ketabahan warga Malangke tidak boleh terus-menerus dijadikan alasan untuk memaklumi pembiaran. Warga tidak membutuhkan seremoni pembagian sembako atau dokumentasi pejabat di lokasi bencana. Mereka membutuhkan langkah konkret: pengerukan sungai, pembangunan tanggul permanen, serta evaluasi tata ruang yang serius dan berkelanjutan.
Iduladha tahun ini seharusnya menjadi pengingat bagi para pengambil kebijakan. Kurban terbesar seorang pemimpin bukanlah retorika di mimbar, melainkan keberanian memutus rantai kelalaian yang terus mengorbankan rakyatnya sendiri.
Selama kebijakan mitigasi tidak berubah, banjir akan tetap menjadi ritual tahunan di Malangke. Air mata warga akan terus jatuh di atas sisa tanggul yang rapuh—tahun ini, tahun depan, dan mungkin tahun-tahun berikutnya.
---
Mubarak Djabal Tira
Jurnalis Tana Luwu
Apa Reaksi Anda?

