Diaspora Kopi: Ritual Keagamaan Timteng Hingga Komoditas Global

Diaspora Kopi: Ritual Keagamaan Timteng Hingga Komoditas Global

Kedai kopi yang dulu merupakan tempat ibadah dan diskusi intelektual kini menjadi simbol globalisasi yang menghubungkan orang dari berbagai latar belakang.

Opini | hijaupopuler.id

Minum kopi bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga fenomena budaya yang telah berkembang selama berabad-abad.

Asal usul Kopi awalnya menyebar dari dunia Islam ke Barat dan akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di seluruh dunia. Transformasi budaya ini tentu dipengaruhi beberapa faktor seperti sosial, politik, ekonomi dan intelektual dalam berbagai peradaban.

Selama berabad-abad, budaya minum kopi telah mengalami banyak perubahan dan tetap bertahan dalam berbagai bentuk. Awalnya kopi dikonsumsi oleh para Sufi di Timur Tengah untuk membantu mereka tetap terjaga saat beribadah di malam hari.

Seiring waktu, kopi mulai dinikmati dalam berbagai kesempatan, seperti saat bersantai, berdiskusi dalam kegiatan intelektual, bersosialisasi, hingga menjadi bagian dari budaya di tempat kerja.

Dari Timur Tengah, kebiasaan minum kopi menyebar ke Kekaisaran Utsmani, lalu ke Italia, Inggris, Prancis serta Austria. Setiap negara memiliki cara unik dalam menikmati kopi, seperti espresso di Italia, kedai kopi intelektual di Inggris, dan kafe elegan di Prancis dan Austria.

Akhirnya, kopi menjadi minuman yang mendunia, dinikmati oleh berbagai kalangan di berbagai belahan dunia, baik di rumah, kantor, maupun kedai kopi modern.

Diaspora kopi

Sebelum kopi dikenal di seluruh dunia seperti sekarang, minuman ini pertama kali digunakan di Yaman oleh para Sufi pada abad ke-15. Mereka meminum kopi agar tetap terjaga saat beribadah di malam hari. Mereka menyadari bahwa kopi bisa membantu mengusir rasa kantuk dan membuat mereka lebih fokus dalam berzikir dan berdoa. Dari sinilah kopi mulai dikenal sebelum akhirnya menjadi komoditas perdagangan yang mendunia.

Mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Kairo, mulai mengenalkan kopi ke lingkungan kampus pada abad ke-14. Dari sana, minuman ini menyebar ke berbagai kelompok sosial lainnya dan semakin populer di Mesir. (Tuchsherer, 2003).

Kedai-kedai kopi mulai bermunculan di Kota-kota Timur Tengah seperti Kairo, Madinah, Damaskus dan Konstantinopel. Salah satu alasan berkembangnya budaya kopi di wilayah ini adalah pergaulan mahasiswa Sufi dari Al-Azhar, Kairo, yang berasal dari Yaman dengan teman-teman mereka di Mekkah dan Madinah. Hal ini membuat kebiasaan minum kopi semakin dikenal dan menyebar luas.

Di Inggris, kedai kopi di Universitas Oxford dikenal sebagai Penny University karena menjadi tempat diskusi ilmiah yang terbuka bagi siapa saja dengan harga secangkir kopi.

Salah satu kelompok tetap di kedai kopi ini adalah oxford coffee club, yang kemudian berkembang menjadi the royal society, organisasi ilmiah tertua di dunia hingga saat ini. (Ukers, 1992).

Di Indonesia, kebiasaan minum kopi juga memiliki cerita tersendiri. Soekarno, saat masih menjadi mahasiswa di ITB, tinggal di rumah kos milik Inggit Garnasih, yang kemudian menjadi istrinya.

Setiap pagi, Inggit selalu menyiapkan secangkir kopi tubruk dan sarapan untuk Soekarno, baik saat masih menjadi mahasiswa maupun setelah menikah.

Sementara itu, di masa mudanya, Muhammad Hatta, yang saat itu berkuliah di Stovia, memiliki kebiasaan jalan-jalan setiap Sabtu sore bersama teman-temannya. Mereka biasanya makan nasi goreng, sate ayam dan minum kopi di warung sekitar Pasar Baru hingga malam.

Setelah itu, mereka menonton bioskop di Pasar Baru sebelum melanjutkan perjalanan ke Weltevreden hingga larut malam. Perjalanan ini selalu diakhiri dengan singgah di kedai kopi di Senen, tempat para mahasiswa Stovia biasa berkumpul dan menikmati kopi. (Hatta, 2013).

Setelah kembali dari studi di Belanda, Hatta tetap mempertahankan kebiasaannya meminum dua gelas kopi susu setiap pagi dan siang. Kopi susu tidak hanya dikonsumsi sebagai minuman pagi, tetapi juga sering digunakan sebagai dessert atau campuran dalam pembuatan kue.

Turki: pusat penyebaran kopi di Eropa

Kekaisaran Ottoman memiliki peran besar dalam menyebarkan kopi ke berbagai penjuru dunia, terutama ke Eropa.

Sebagai kekaisaran yang menghubungkan dunia Timur dan Barat, Ottoman menjadi perantara utama dalam perdagangan kopi yang berasal dari Yaman dan kawasan Timur Tengah. Melalui jalur perdagangan yang mereka kuasai, kopi dengan mudah masuk ke Eropa dan mulai dikenal luas.

Kedai-kedai kopi pertama didirikan di Istanbul pada abad ke-16, menjadikan budaya minum kopi sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat Ottoman. Kedai-kedai ini bukan hanya tempat menikmati kopi, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial, tempat berkumpulnya seniman, penyair dan cendekiawan untuk berdiskusi dan bertukar gagasan.

Pada abad ke-16, kopi mulai dikenal di kota-kota besar Eropa berkat hubungan perdagangan dan diplomasi Ottoman dengan dunia Barat. Melalui interaksi ini, kopi bukan hanya dianggap sebagai komoditas dagang, tetapi juga sebagai bagian dari budaya sosial yang menginspirasi lahirnya kedai-kedai kopi di Eropa.

Kedai kopi di Istanbul menjadi model bagi perkembangan kedai kopi di Eropa. Di berbagai kota besar seperti London, Paris dan Wina, kedai kopi mulai bermunculan dan berkembang menjadi pusat kegiatan intelektual serta sosial. Di tempat-tempat ini, para pemikir, ilmuwan dan tokoh masyarakat berkumpul untuk berdiskusi, mirip dengan yang terjadi di kedai kopi Ottoman.

Dengan peran besar yang dimainkan oleh Kekaisaran Ottoman, budaya minum kopi yang awalnya berasal dari dunia Islam akhirnya menjadi fenomena global yang bertahan hingga saat ini. Kopi tidak hanya menjadi minuman sehari-hari, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan budaya di berbagai belahan dunia.

Transisi menjadi komoditas

Awalnya, kopi hanya dikonsumsi dalam ritual keagamaan dan sebagai minuman sosial di Timur Tengah. Namun ketika bangsa Eropa mengenal kopi, mereka melihatnya sebagai peluang bisnis yang menguntungkan.

Belanda dan negara-negara kolonial lainnya mulai menanam kopi di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Dari sinilah kopi berubah dari sekadar minuman tradisional menjadi komoditas global yang diperdagangkan di berbagai negara.

Kopi yang awalnya hanya dikonsumsi dalam ritual keagamaan dan pertemuan sosial mulai dilihat sebagai komoditas berharga. Hal ini menunjukkan bagaimana suatu produk budaya dapat berubah menjadi produk ekonomi yang memiliki nilai jual tinggi.

Negara-negara Eropa, terutama Belanda, memanfaatkan daerah jajahannya untuk membudidayakan kopi dalam skala besar. Hal ini menunjukkan bagaimana kolonialisme berperan dalam ekspansi dan dominasi perdagangan kopi secara global.

Di satu sisi, budidaya kopi membawa perkembangan ekonomi di daerah koloni, seperti Indonesia. Namun di sisi lain, rakyat pribumi tidak mendapatkan keuntungan besar karena sistem tanam paksa dan eksploitasi yang diterapkan oleh penjajah.

Setelah dibudidayakan di berbagai negara jajahan, kopi menjadi salah satu komoditas perdagangan paling berharga di dunia. Perubahan ini menandai era baru dalam industri kopi, dimana kopi tidak hanya dikonsumsi secara lokal tetapi juga menjadi produk ekspor utama yang mendukung perekonomian banyak negara.

Perubahan status kopi dari minuman ritual menjadi komoditas global menunjukkan bagaimana budaya dapat berkembang menjadi industri besar. Kolonialisme memainkan peran penting dalam penyebaran dan produksi kopi secara massal, meskipun sering kali dengan dampak negatif bagi masyarakat di negara jajahan. Hingga saat ini, kopi tetap menjadi salah satu produk paling berharga dalam perdagangan internasional.

Dari ritual keagamaan di dunia Islam hingga menjadi bagian dari gaya hidup modern, kopi telah mengalami transformasi yang luar biasa.

Kedai kopi yang dulu merupakan tempat ibadah dan diskusi intelektual kini menjadi simbol budaya global, menghubungkan orang-orang dari berbagai latar belakang.

Evolusi budaya minum kopi mencerminkan bagaimana tradisi dapat bertahan dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Al Mudzil | Alumni IAIN Palopo, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow