Di Balik Panggung MTQ Sulsel 2026, Dua Dosen UIN Palopo Pegang Kunci Penilaian
Keterlibatan dua akademisi UIN Palopo ini sekaligus menegaskan bahwa kampus tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam agenda keagamaan berskala besar. Foto: Humas UIN Palopo.
Kabar | hijaupopuler.id
Sorotan publik biasanya hanya tertuju pada peserta yang melantunkan ayat-ayat suci di panggung Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Namun sedikit yang menyadari, hasil akhir justru ditentukan oleh mereka yang nyaris tak terlihat.
Di MTQ XXXIV Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026, “kunci penilaian” itu antara lain berada di tangan dua dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo.
Melalui Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor: 468/III/TAHUN 2026, M Zuhri Abu Nawas ditunjuk sebagai dewan hakim cabang tilawah, sementara Rukman AR Said dipercaya menilai cabang hifz 10, 20, hingga 30 juz.
Penunjukan ini bukan sekadar administratif. Ia adalah sinyal kuat tentang siapa yang dianggap memiliki otoritas dalam menentukan standar bacaan dan hafalan Alquran di level provinsi.
MTQ yang berlangsung di Kabupaten Maros pada 10–19 April 2026 sejatinya bukan hanya ajang lomba, tetapi juga arena “pertarungan sunyi” soal kualitas, akurasi, dan legitimasi keilmuan. Di ruang inilah peran dewan hakim menjadi sangat menentukan—bahkan lebih menentukan dari yang tampak di atas panggung.
Satu penilaian bisa mengangkat nama, sekaligus menentukan arah pembinaan tilawah dan tahfiz di Sulawesi Selatan ke depan. Karena itu, posisi dewan hakim bukan hanya teknis, tetapi juga strategis.
Rukman AR Said menyebut kepercayaan ini sebagai amanah besar yang tidak lepas dari dukungan institusi.
“Terima kasih atas kepercayaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan serta dukungan dari pimpinan universitas,” ujarnya singkat.
Keterlibatan dua akademisi UIN Palopo ini sekaligus menegaskan bahwa kampus tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam agenda keagamaan berskala besar. Mereka kini berada di pusat—menentukan, menilai, dan menjaga standar.
Di balik panggung MTQ, di sanalah sesungguhnya kualitas Alquran diuji. Dan tahun ini, UIN Palopo ikut memegang kendalinya.
Apa Reaksi Anda?

