Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik Saja Tidak Cukup: Saatnya Pendidikan Islam Menambahkan Domain Spiritualistik

Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik Saja Tidak Cukup: Saatnya Pendidikan Islam Menambahkan Domain Spiritualistik
Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik Saja Tidak Cukup: Saatnya Pendidikan Islam Menambahkan Domain Spiritualistik

Selama dimensi spiritual masih ditempatkan di pinggiran, pendidikan Islam akan terus menghadapi paradoks: mengajarkan agama dengan kerangka yang tidak sepenuhnya dibangun dari pandangan hidup Islam. Ilustrasi/foto: langit7.id dan penulis.

Edukasi | hijaupopuler.id

Ada ironi yang selama puluhan tahun hidup di ruang-ruang pendidikan Islam. Kita mengajarkan tentang ruh, qalb, fitrah, dan tazkiyatun nafs, tetapi ketika menyusun tujuan pembelajaran, kita tetap tunduk pada tiga domain klasik Benjamin Bloom: kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Seolah-olah manusia hanya terdiri atas kepala yang berpikir, hati yang merasa, dan tangan yang bekerja.

Padahal, Islam sejak awal menawarkan pandangan yang lebih utuh tentang manusia. Di dalamnya terdapat dimensi spiritual yang bukan sekadar pelengkap, melainkan pusat orientasi seluruh proses pendidikan.

Persoalannya Bukan Teknis, Melainkan Ontologis

Ketika Benjamin Bloom dan koleganya memperkenalkan taksonomi pendidikan pada 1956, mereka tidak sedang melakukan kesalahan. Mereka bekerja berdasarkan asumsi filosofis zamannya: manusia dipahami sebagai makhluk empiris yang seluruh perilakunya dapat diamati dan diukur.

Pandangan ini lahir dari tradisi positivisme, yaitu keyakinan bahwa pengetahuan yang sah hanyalah pengetahuan yang dapat diverifikasi melalui pengalaman indrawi.

Dalam kerangka tersebut, ruh memang tidak memperoleh ruang. Bukan karena dianggap tidak ada, melainkan karena tidak termasuk objek yang dapat diukur.

Masalah muncul ketika paradigma itu diadopsi begitu saja oleh pendidikan Islam.

Kita menggunakan peta yang dibuat untuk memahami manusia dalam perspektif sekuler, kemudian memaksakannya menjelaskan manusia sebagaimana dipahami Alquran.

Padahal Alquran sendiri menegaskan bahwa ruh adalah wilayah yang berada di luar jangkauan pengetahuan manusia.

"Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku..." (QS. Al-Isra': 85).

Ketika Ruh Tidak Masuk Kurikulum

Mengabaikan dimensi spiritual bukan berarti ruh menghilang. Ia hanya kehilangan ruang untuk dibina.

Akibatnya, lahirlah generasi yang mampu menghafal dalil tentang zuhud, tetapi menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan hidup. Mereka memahami ayat-ayat tentang akhirat, tetapi seluruh orientasi hidupnya berhenti pada capaian duniawi.

Ini bukan semata-mata persoalan moral individu.

Ini merupakan konsekuensi logis dari sistem pendidikan yang menjadikan agama sebagai objek pengetahuan, bukan sebagai cara hidup.

Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut keadaan ini sebagai loss of adab, yakni hilangnya kemampuan menempatkan sesuatu pada posisi yang benar.

Peserta didik mengetahui banyak hal, tetapi kehilangan orientasi mengapa pengetahuan itu harus dimiliki. Mereka menjadi terampil, tetapi tidak lagi memahami kepada siapa keterampilan itu dipersembahkan.

Ketika spiritualitas tidak dipelihara, ruang batin manusia tidak pernah benar-benar kosong. Kekosongan itu akan diisi oleh sesuatu yang lain.

Jika orientasi kepada Tuhan melemah, orientasi kepada materi perlahan mengambil alih.

Mengapa Pendidikan Islam Tidak Berani Merumuskan Kerangkanya Sendiri?

Pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa domain spiritual belum masuk dalam sistem pembelajaran.

Pertanyaannya adalah, mengapa pendidikan Islam tidak pernah benar-benar berani merumuskannya?

Salah satu jawabannya adalah rasa rendah diri epistemologis.

Kita terlalu lama menganggap bahwa teori pendidikan yang ilmiah harus berasal dari Barat. Akibatnya, yang dilakukan hanyalah menambahkan ayat Alquran atau hadis pada kerangka yang sejatinya dibangun dari paradigma sekuler.

Ini bukan integrasi ilmu.

Ini lebih menyerupai mimikri: meniru bentuk tanpa menghadirkan ruh yang melahirkannya.

Padahal sejarah intelektual Islam menunjukkan hal yang berbeda.

Al-Ghazali tidak sekadar meminjam filsafat Yunani lalu menempelinya dengan hadis. Ia membangun ulang konsep pendidikan dan penyucian jiwa dari paradigma Islam sendiri.

Begitu pula Ibn Sina, Ibn Khaldun, dan Al-Zarnuji. Mereka adalah perumus kategori, bukan sekadar pengguna kategori yang diwariskan orang lain.

Ironisnya, kita mewarisi nama besar mereka, tetapi belum sepenuhnya mewarisi keberanian intelektual mereka.

Apa yang Dimaksud Domain Spiritualistik?

Domain spiritualistik bukan sekadar pelajaran agama yang diperbanyak. Ia juga bukan perluasan dari domain afektif.

Perbedaannya bersifat mendasar.

Domain afektif menilai hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya: sikap, empati, tanggung jawab, dan kepedulian.

Sementara domain spiritualistik berangkat dari pertanyaan yang berbeda:

Apakah seseorang menyadari kehadiran Allah dalam setiap tindakannya?

Apakah kejujurannya lahir karena takut kepada Tuhan, atau sekadar takut diketahui orang lain?

Apakah amalnya didorong oleh kesadaran ihsan, yaitu beribadah seakan-akan melihat Allah, dan bila tidak mampu, yakin bahwa Allah selalu melihat dirinya?

Dalam tradisi tasawuf, keadaan ini dikenal sebagai murāqabah.

Di sinilah letak pembeda antara perilaku yang sekadar baik secara sosial dengan perilaku yang lahir dari kesadaran spiritual.

Apakah Spiritualitas Bisa Diukur?

Keberatan yang sering muncul adalah bahwa aspek spiritual bersifat batiniah sehingga tidak dapat diukur.

Keberatan ini dapat dipahami, tetapi tidak sepenuhnya tepat.

Faktanya, pendidikan juga tidak pernah mengukur sikap secara langsung. Yang dinilai adalah manifestasi sikap melalui perilaku.

Prinsip yang sama dapat diterapkan pada dimensi spiritual.

Kesadaran batin memang tidak tampak, tetapi ia meninggalkan jejak melalui konsistensi amal, integritas ketika tidak diawasi, orientasi niat, keteguhan menghadapi ujian, serta kesediaan berbuat baik tanpa mengharapkan pengakuan.

Namun, mungkin koreksi terbesar justru berada pada paradigma kita sendiri.

Tidak semua hal yang bernilai harus direduksi menjadi angka.

Barangkali domain spiritualistik tidak perlu diposisikan sebagai "kotak penilaian keempat," melainkan sebagai orientasi utama yang menerangi seluruh proses pembelajaran.

Ia bukan lampu tambahan.

Ia adalah cahaya yang memberi makna pada tiga domain lainnya.

Saatnya Memperbaiki dari Hulu

Persoalan pendidikan Islam hari ini sesungguhnya bukan terletak pada metode pembelajaran.

Persoalannya berada pada pertanyaan paling mendasar: untuk apa manusia dididik?

Selama tujuan pendidikan masih didefinisikan terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, inovasi metode apa pun hanya akan memperhalus persoalan yang sama.

Sungai tidak akan jernih bila yang dibersihkan hanya bagian hilirnya.

Yang dibutuhkan bukan keberanian menolak teori Barat. Islam tidak pernah mengajarkan penolakan terhadap ilmu.

Yang diperlukan adalah keberanian menjadi subjek yang merumuskan, bukan sekadar objek yang menerima rumusan.

Pendidikan Islam memiliki pandangan antropologisnya sendiri tentang manusia. Karena itu, sudah semestinya ia juga memiliki kerangka pendidikannya sendiri.

Tiga domain Bloom tidak salah.

Namun, bagi pendidikan Islam, tiga domain itu belum lengkap.

Selama dimensi spiritual masih ditempatkan di pinggiran, pendidikan Islam akan terus menghadapi paradoks: mengajarkan agama dengan kerangka yang tidak sepenuhnya dibangun dari pandangan hidup Islam.

Sudah saatnya pendidikan Islam tidak hanya meminjam peta, tetapi mulai menggambar petanya sendiri.

---

Dr Bustanul Iman RN SHI MA
Ketua Prodi Magister PAI Pascasarjana UIN Palopo

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow