Opor, Burasa’ dan Fitnah yang Lebih Cepat dari Viral
Dalam peristiwa Haditsul Ifki, kebenaran baru terungkap setelah waktu berlalu, dan mereka yang menyebarkan fitnah mendapatkan peringatan keras. Ilustrasi/foto: ngopibareng.id dan penulis.
Perspektif | hijaupopuler.id
Lebaran tahun ini kembali hadir dengan perbedaan. Ada yang merayakan di Jumat, ada yang Sabtu, bahkan sebagian kecil sudah lebih dulu di Kamis.
Menariknya, suasana tidak lagi seramai dulu. Perdebatan panjang tentang siapa yang paling benar nyaris tak terdengar. Masyarakat tampak lebih tenang, lebih dewasa. Di beberapa tempat, panitia bahkan mengakomodasi dua kali pelaksanaan salat Id. Media sosial pun relatif adem—yang biasanya panas, kini lebih banyak diisi foto opor ayam, burasa’ (penganan khas), ketupat, hingga toppalad.
Kita seolah mulai memahami satu hal penting: persatuan tidak harus berarti keseragaman. Unity, not uniform.
Kalau dipikir-pikir, perbedaan Lebaran hari ini hanya berdampak pada ritme makan. Yang Jumat mungkin sudah masuk ronde ketiga opor, sementara yang Sabtu masih pemanasan. Tapi ujungnya sama: sama-sama kenyang, sama-sama mencari obat perut.
Di meja makan, semua perbedaan melebur. Burasa’ bersanding dengan opor, sambal bertemu kerupuk, dan obrolan mengalir tanpa sekat. Lebaran kembali pada esensinya: hangat, sederhana, dan menyenangkan.
Namun, seperti biasa, selalu ada “bumbu tambahan” yang tak diundang.
Menjelang hari raya lalu, media sosial—khususnya di Kabupaten Gowa—diramaikan oleh kabar yang menyerang pribadi Bupati. Entah benar atau tidak, informasi itu menyebar begitu cepat. Bahkan mungkin lebih cepat daripada burasa’ matang di dapur. Tanpa sadar, suasana yang semula hangat ikut terpengaruh oleh kabar yang belum tentu jelas kebenarannya.
Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Dalam sejarah Islam, kita mengenal peristiwa besar yang disebut Haditsul Ifki. Sebuah fitnah yang menimpa Aisyah binti Abu Bakar, istri Nabi Muhammad saw, akibat kesalahpahaman sederhana yang kemudian berkembang menjadi tuduhan serius.
Dari satu kejadian, lahir cerita. Dari cerita menjadi gosip. Dari gosip berubah menjadi “katanya.” Dan pada akhirnya, dianggap sebagai kebenaran.
Jika terasa familiar, memang demikian adanya. Polanya tidak banyak berubah. Bedanya, dulu menyebar dari mulut ke mulut, kini cukup dengan satu sentuhan: tombol share.
Yang lebih mengkhawatirkan, kita sering tanpa sadar menjadi bagian dari rantai penyebaran itu. Alasannya sederhana: “sekadar meneruskan,” “biar semua tahu,” atau bahkan karena merasa kabarnya menarik.
Padahal, dalam peristiwa Haditsul Ifki, kebenaran baru terungkap setelah waktu berlalu, dan mereka yang menyebarkan fitnah mendapatkan peringatan keras. Ini menegaskan bahwa menyebarkan informasi yang belum terverifikasi bukanlah perkara sepele.
Sekarang, mari jujur pada diri sendiri: lebih sulit mana, menahan diri untuk tidak menekan tombol forward, atau menahan diri untuk tidak menambah porsi opor dan burasa’?
Jika jawabannya soal makanan, mungkin kita memang perlu lebih waspada terhadap “jempol” kita sendiri.
Lebaran seharusnya menjadi momen kembali ke fitrah—bukan hanya saling memaafkan, tetapi juga membersihkan cara kita berbicara dan menyebarkan informasi.
Jangan sampai suasana yang sudah damai justru terganggu oleh kabar yang belum tentu benar.
Sebelum ikut berkomentar atau membagikan sesuatu, mungkin kita bisa bertanya: apakah ini penting, atau hanya sekadar sensasi?
Karena menjaga persatuan bukan hanya soal menerima perbedaan hari raya, tetapi juga tentang menahan diri agar tidak memperkeruh keadaan.
Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang siapa yang lebih dulu atau belakangan. Melainkan tentang bagaimana kita menjaganya tetap hangat—tanpa prasangka, tanpa fitnah, dan tanpa hoaks.
Selamat menikmati—dan mungkin memanaskan kembali—opor ayamnya. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.
Fathahuddin Lewa
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Apa Reaksi Anda?

