Kabar | hijaupopuler.id
Rencana pengembangan proyek geotermal di Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, terus menuai penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Penolakan tersebut disuarakan kelompok masyarakat adat, pemuda lokal, hingga mahasiswa melalui media sosial, aksi solidaritas, dan kampanye penyadaran publik.
Kelompok penolak menilai aktivitas eksplorasi panas bumi berpotensi mengancam lingkungan dan ruang hidup masyarakat. Kekhawatiran yang muncul meliputi potensi kerusakan sumber mata air, ancaman longsor, penurunan produktivitas pertanian, hingga risiko pencemaran lingkungan.
Meski sejumlah kajian menyebut energi geotermal sebagai salah satu sumber energi rendah emisi apabila dikelola sesuai standar, perbedaan pandangan di tengah masyarakat Rongkong masih cukup tajam. Sebagian warga menilai manfaat proyek belum sebanding dengan risiko ekologis dan sosial yang mungkin ditimbulkan.
Yeyen, salah seorang pemuda adat Rongkong, menilai pemerintah dan sejumlah pihak terlalu optimistis dalam mendorong proyek tersebut. Ia menyebut sikap itu sebagai “optimisme irasional” karena dinilai mengabaikan berbagai kasus penolakan geotermal di sejumlah daerah lain di Indonesia yang menurutnya berkaitan dengan persoalan kerusakan sumber air dan lahan produktif. Rabu (6/5/2026) Kemarin.
Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih berhati-hati serta mengedepankan keterlibatan masyarakat sejak tahap awal perencanaan. Ia juga mengajak masyarakat, pemuda, dan mahasiswa untuk bersatu menyatakan penolakan terhadap rencana pengembangan geotermal di Rongkong sebagai bentuk perlindungan terhadap lingkungan, ruang hidup masyarakat adat, dan keberlanjutan sosial-ekonomi warga.
Sementara itu, kelompok penolak menegaskan bahwa Rongkong memiliki nilai ekologis, budaya, dan sosial yang tidak dapat dikompromikan. Mereka menuntut transparansi serta pelibatan penuh masyarakat dalam setiap proses pengambilan keputusan terkait proyek tersebut.