Bebas Aktif di Era Rivalitas Global: Saatnya Indonesia Bermanuver Zig-Zag

Bebas Aktif di Era Rivalitas Global: Saatnya Indonesia Bermanuver Zig-Zag
Bebas Aktif di Era Rivalitas Global: Saatnya Indonesia Bermanuver Zig-Zag

Dunia berubah cepat. Hanya negara yang mampu membaca arah angin yang akan bertahan—dan pada saatnya, memengaruhi arah perjalanan zaman. Ilustrasi/foto: penulis.

Opini | hijaupopuler.id

Geopolitik global bergerak dalam spektrum abu-abu. Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok kian mengeras, Rusia tetap menjadi variabel ketidakpastian, sementara krisis energi, pangan, dan iklim saling bertumpuk. Dunia tak lagi terbelah dua blok, melainkan terfragmentasi oleh kepentingan yang saling bertabrakan.

Indonesia tidak berada di luar pusaran itu—Indonesia ada di dalamnya. Dengan posisi geografis strategis, ekonomi yang terus tumbuh, dan peran regional yang signifikan, setiap langkah politik luar negeri Indonesia membawa implikasi luas. Dalam konteks ini, politik luar negeri bebas aktif tidak bisa lagi dibaca sebagai doktrin statis, melainkan sebagai prinsip yang membutuhkan kelincahan manuver.

Sejarah mencatat, politik luar negeri bebas aktif lahir dari penolakan Indonesia terhadap dominasi kekuatan besar. Namun dunia yang melahirkannya telah berubah. Jika dulu bebas aktif berhadapan dengan bipolarisme Perang Dingin, kini ia diuji dalam tatanan multipolar yang cair dan tidak menentu. Agar tetap relevan, bebas aktif tidak cukup dijalankan secara lurus—ia memerlukan seni zig-zag.

Seni Zig-Zag dan Logika Kucing Deng Xiaoping

Istilah zig-zag kerap disalahpahami sebagai ketidakkonsistenan. Padahal dalam geopolitik modern, zig-zag justru adalah seni bermanuver. Negara menengah seperti Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk bersikap kaku. Tekanan memilih kubu hadir bersamaan dengan kebutuhan menjaga stabilitas kawasan dan kepentingan strategis nasional.

Pemikiran Deng Xiaoping relevan di sini: tidak penting kucing berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus. Dalam kebijakan luar negeri, ukuran utamanya bukan kedekatan ideologis, tetapi manfaat nyata bagi negara.

Bebas aktif yang zig-zag bekerja dengan logika ini: membuka kerja sama seluas mungkin, namun tetap menjaga jarak strategis. Hubungan dipelihara, tekanan dikelola, kepentingan dinegosiasikan. Zig-zag menjadi cara membaca momentum global—kapan mendekat, kapan menjaga jarak, kapan bersuara lantang, dan kapan memilih diam.

Namun zig-zag bukan tanpa risiko. Pragmatisme berlebihan dapat menggerus kredibilitas. Karena itu, manuver harus berpijak pada kompas yang jelas: kedaulatan, kepentingan nasional jangka panjang, dan stabilitas kawasan. Tanpa kompas, zig-zag berubah menjadi inkonsistensi.

ASEAN sebagai Arena Uji Bebas Aktif

Peran Indonesia tidak bisa dilepaskan dari ASEAN. Asia Tenggara kini menjadi salah satu medan utama perebutan pengaruh global. Jalur perdagangan, sumber daya, dan pertumbuhan ekonomi kawasan menjadikan ASEAN pusat perhatian kekuatan besar. ASEAN bisa menjadi kekuatan kolektif—atau justru arena perebutan.

Indonesia memiliki modal kuat: penguasaan jalur maritim vital, kekuatan ekonomi dan demografi terbesar di kawasan, serta reputasi sebagai jangkar stabilitas regional. Modal ini memberi Indonesia ruang untuk memimpin, bukan sekadar mengikuti.

Di sinilah bebas aktif zig-zag menemukan panggung riil. Indonesia perlu menjaga hubungan baik dengan berbagai kekuatan besar, sembari memastikan ASEAN tidak terseret rivalitas adidaya. ASEAN centrality harus dijaga agar kawasan tetap menjadi subjek geopolitik, bukan objek.

Namun kepemimpinan regional tidak otomatis. ASEAN terdiri dari negara dengan kepentingan berbeda. Tantangan Indonesia adalah menjaga konsistensi di tingkat kawasan meski harus fleksibel di tingkat global. Di sinilah diplomasi diuji—fleksibel tanpa kehilangan arah.

Bebas Aktif sebagai Kompas Masa Depan

Dunia ke depan tidak akan lebih sederhana. Fragmentasi ekonomi, perang teknologi, dan krisis iklim akan memperumit geopolitik global. Politik luar negeri Indonesia harus bergerak dari reaktif menjadi proaktif. Bebas aktif perlu dipahami sebagai strategi jangka panjang.

Zig-zag bukan tujuan akhir, melainkan metode. Seperti kucing Deng Xiaoping, yang diuji bukan warnanya, tetapi hasilnya. Apakah zig-zag memperkuat posisi Indonesia di ASEAN? Apakah meningkatkan daya tawar global? Apakah memperluas ruang kepentingan nasional?

Pada akhirnya, bebas aktif yang zig-zag adalah refleksi realitas strategis. Dalam dunia yang tidak hitam-putih, kemampuan berbelok tanpa kehilangan tujuan adalah kekuatan. Indonesia tidak harus memilih satu sisi untuk tetap berdaulat. Yang dibutuhkan adalah manuver terarah, konsistensi nilai, dan visi jangka panjang.

Dunia berubah cepat. Hanya negara yang mampu membaca arah angin yang akan bertahan—dan pada saatnya, memengaruhi arah perjalanan zaman.

Muhammad Suryadi R
Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi
Peneliti Parametric Development Center
Mahasiswa Pascasarjana IAIN Parepare
Sekretaris PC GP Ansor Kabupaten Barru

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow