Duka di Balandai: Kisah Perpisahan Terakhir untuk Guru Besar UIN Palopo
Bagi banyak orang, Almarhum Prof Hamzah bukan sekadar guru besar. Ia adalah sosok pendidik yang membekas Foto: Humas UIN Palopo.
Kabar | hijaupopuler.id
Pagi di Jalan Cempaka, Kelurahan Balandai, Kecamatan Bara, suasana berbeda terasa. Tidak seperti biasanya, rumah duka dipenuhi wajah-wajah sendu. Keluarga besar Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo berkumpul, mengantar kepergian salah satu guru besar terbaiknya, Prof Dr Hamzah K MHI, Selasa (31/3/2026).
Sejak pukul 10.00 Wita, prosesi pelepasan jenazah secara sipil berlangsung khidmat. Pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga para purnabakti hadir dalam satu suasana: duka yang sama.
Bagi banyak orang, Almarhum Prof Hamzah bukan sekadar guru besar. Ia adalah sosok pendidik yang membekas—tenang, rendah hati, dan konsisten dalam pengabdian sejak pertama kali mengabdi pada tahun 1991.
Di tengah prosesi, suara perwakilan keluarga, HM Suyuti Yusuf, terdengar lirih menyampaikan permohonan maaf.
“Atas nama keluarga, kami memohon maaf apabila selama hidup almarhum terdapat kesalahan, baik dalam interaksi di kampus maupun di lingkungan pesantren.”
Kepergian di usia 67 tahun itu meninggalkan ruang yang tak mudah terisi.
Rektor UIN Palopo, Abbas Langaji, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menyebut kepergian Prof Hamzah sebagai kehilangan besar, tidak hanya bagi kampus, tetapi juga bagi dunia keilmuan.
“Kepergian beliau merupakan kehilangan besar bagi kita semua,” ujarnya.
Namun lebih dari itu, yang ditinggalkan bukan hanya duka. Ada jejak panjang pengabdian, nilai keteladanan, dan semangat yang terus hidup di tengah sivitas akademika.
Usai dilepas dari rumah duka, jenazah dibawa ke Kampus I UIN Palopo. Di pelataran Fakultas Syariah—tempat yang selama ini menjadi ruang pengabdiannya—jenazah disemayamkan sejenak, seolah memberi kesempatan terakhir bagi kampus untuk mengucap perpisahan.
Salat jenazah kemudian dilaksanakan di Masjid Alauddin UIN Palopo sebelum almarhum dimakamkan di kompleks Pesantren Modern Datok Sulaiman Bagian Putra Palopo.
Prof Hamzah meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Namun bagi banyak orang, ia juga meninggalkan sesuatu yang lebih luas: warisan keilmuan, terutama dalam bidang hukum Islam, serta teladan hidup yang akan terus dikenang.
Di balik suasana duka itu, satu hal terasa jelas—kepergian ini bukan sekadar kehilangan, tetapi juga pengingat tentang arti pengabdian yang sesungguhnya.
Apa Reaksi Anda?

