HARMODA Cup Satukan Pemuda Angkona Lutim, Olahraga Jadi Jalan Merawat Toleransi
Pertandingan tetap berlangsung kompetitif, tetapi setiap peserta diharapkan tidak kehilangan semangat persaudaraan. Foto: Humas UIN Palopo.
Kabar | hijaupopuler.id
Suara sorak penonton dan riuh pertandingan voli mewarnai Lapangan Desa Balirejo, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur. Di tempat itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) UIN Palopo menghadirkan HARMODA Cup, turnamen voli yang membawa pesan lebih luas dari sekadar perebutan kemenangan.
HARMODA yang merupakan akronim dari Harmoni dalam Moderasi resmi dimulai pada Kamis (24/9/2026) lalu. Turnamen ini menjadi salah satu program kerja mahasiswa KKN-T UIN Palopo yang mempertemukan pemuda dan masyarakat dari berbagai latar belakang di Kecamatan Angkona.
Selama dua pekan hingga 8 Oktober mendatang, lapangan voli Desa Balirejo tidak hanya menjadi arena pertandingan. Mahasiswa KKN-T menjadikannya sebagai ruang perjumpaan, tempat masyarakat dapat berinteraksi, bersilaturahmi, sekaligus menyalurkan minat dan bakat di bidang olahraga.
Koordinator Desa KKN-T UIN Palopo Desa Balirejo sekaligus Ketua Panitia HARMODA Cup, Riswan, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan aktivitas positif bagi pemuda dan masyarakat.
“HARMODA Cup ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa KKNT UIN Palopo yang diharapkan dapat menjadi wadah positif bagi pemuda dan masyarakat, khususnya dalam menyalurkan minat dan bakat di bidang olahraga serta mempererat silaturahmi,” ujar Riswan.
Pembukaan turnamen turut dihadiri Camat Angkona, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, mahasiswa KKN-T, peserta turnamen, serta masyarakat setempat.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari KONI setempat. Olahraga dinilai menjadi ruang pembentukan sportivitas, kedisiplinan, kerja sama, dan sikap saling menghargai.
Camat Angkona, I Putu Gede Sudarsana, saat membuka HARMODA Cup menekankan bahwa nilai utama kegiatan tersebut justru berada di luar hasil pertandingan.
Menurutnya, perjumpaan pemuda dari berbagai latar belakang melalui olahraga dapat menjadi sarana memperkuat komunikasi dan kebersamaan masyarakat.
“HARMODA Cup bukan sekadar kegiatan olahraga atau kompetisi antarpemuda. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ruang untuk membangun persaudaraan, memperkuat toleransi, mempererat komunikasi, dan menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat kita,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu napas utama HARMODA Cup. Pertandingan tetap berlangsung kompetitif, tetapi setiap peserta diharapkan tidak kehilangan semangat persaudaraan.
Sudarsana juga berharap kegiatan serupa tidak berhenti setelah turnamen berakhir. Ia mendorong agar keterlibatan pemuda dari berbagai desa, komunitas, dan latar belakang dapat terus berkembang melalui kegiatan-kegiatan positif lainnya.
“Semoga kegiatan ini tidak berhenti pada HARMODA Cup saja. Mudah-mudahan dapat menjadi awal lahirnya berbagai kegiatan positif yang melibatkan pemuda dari berbagai desa, berbagai latar belakang, dan berbagai komunitas di Kecamatan Angkona,” tuturnya.
Semangat tersebut kemudian dikaitkan dengan jargon Angkona SIGAP, yang merupakan kependekan dari Semangat, Inovatif, Tanggap, Adaptif, dan Profesional.
Kepada para peserta, Camat Angkona juga mengingatkan bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran dalam sebuah pertandingan.
“Bertandinglah dengan semangat, bermainlah dengan sportif, junjung tinggi persaudaraan, dan jadikan setiap pertandingan sebagai momentum untuk saling mengenal dan saling menghargai,” pesannya.
Bagi mahasiswa KKN-T UIN Palopo, HARMODA Cup sekaligus menjadi bentuk keterlibatan langsung mereka dalam kehidupan sosial masyarakat selama menjalankan program pengabdian.
Melalui lapangan voli, mahasiswa dan masyarakat bertemu dalam suasana yang lebih cair. Perbedaan latar belakang tidak menjadi sekat, sementara pertandingan menjadi medium untuk membangun interaksi dan saling mengenal.
HARMODA Cup pun masih akan bergulir hingga 8 Oktober 2026. Di tengah persaingan mengejar poin dan kemenangan, turnamen ini membawa pesan sederhana: lapangan boleh menjadi tempat berkompetisi, tetapi persaudaraan tetap harus menjadi tujuan bersama.
Apa Reaksi Anda?

