Memperingati Nuzulul Quran: Menghidupkan Daya Kritis, Bukan Sekadar Seremonial

Memperingati Nuzulul Quran: Menghidupkan Daya Kritis, Bukan Sekadar Seremonial
Memperingati Nuzulul Quran: Menghidupkan Daya Kritis, Bukan Sekadar Seremonial

Sebagai bangsa yang religius, kita kerap terjebak pada simbol dan ritualitas. Padahal, tantangan utama kita bukan kekurangan ayat, melainkan defisit keberanian menjadikan ayat sebagai basis transformasi. Ilustrasi/foto: detik.com dan penulis.

Islami | hijaupopuler.id

Ramadan kembali hadir membawa satu momentum agung dalam sejarah peradaban Islam: Nuzulul Quran, peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw di Gua Hira. Ketika malaikat menyampaikan perintah iqra’ kepada Muhammad, yang lahir bukan sekadar teks suci, melainkan fondasi epistemologis sebuah peradaban. “Bacalah” adalah seruan untuk membangun kesadaran, menumbuhkan nalar, dan menegakkan keadilan.

Namun, di tengah semarak peringatan Nuzulul Quran, kita layak mengajukan pertanyaan reflektif: apakah interaksi kita dengan Alquran telah melahirkan kegelisahan sosial? Ataukah ia berhenti pada tartil yang indah, hafalan yang fasih, dan seremoni yang khidmat?

Alquran tidak turun di ruang steril. Ia hadir dalam lanskap sosial yang sarat ketimpangan, ketidakadilan, eksploitasi ekonomi, dan penindasan terhadap kelompok lemah. Wahyu turun sebagai kritik sosial sekaligus peta jalan transformasi. Karena itu, bila bacaan kita hari ini tidak menggugah nurani saat menyaksikan kemiskinan struktural, ketimpangan hukum, atau kerusakan lingkungan yang sistemik, bisa jadi kita baru mengeja huruf-hurufnya, tetapi belum menangkap pesan etiknya.

Ironi tampak jelas: masjid-masjid penuh, tilawah menggema, khataman digelar di berbagai ruang; namun pada saat yang sama, jurang sosial melebar, akses keadilan kian timpang, dan sumber daya alam dikelola tanpa prinsip keberlanjutan. Problem kita bukan pada kuantitas bacaan, melainkan pada kualitas pemaknaan dan keberanian menerjemahkannya ke dalam praksis sosial.

Alquran secara konsisten menunjukkan keberpihakan pada mustadh’afin—mereka yang dilemahkan oleh sistem. Ia mengecam penimbunan harta, praktik riba, pengabaian anak yatim, serta manipulasi timbangan dalam aktivitas ekonomi. Ia memerintahkan keadilan bahkan terhadap diri sendiri dan kelompok terdekat. Dalam konteks kekinian, pesan tersebut relevan untuk membaca ulang wajah hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kebijakan ekonomi yang memarginalkan rakyat kecil, hingga model pembangunan yang abai terhadap daya dukung lingkungan.

Nuzulul Quran semestinya menjadi momentum reaktualisasi daya kritis umat. Iqra’ tidak berhenti pada pembacaan tekstual, melainkan menuntut pembacaan kontekstual. Membaca struktur sosial, membaca relasi kuasa, membaca kebijakan publik. Membaca dengan hati yang terusik oleh ketidakadilan dan dengan akal yang jernih untuk merumuskan solusi berbasis nilai.

Sebagai bangsa yang religius, kita kerap terjebak pada simbol dan ritualitas. Padahal, tantangan utama kita bukan kekurangan ayat, melainkan defisit keberanian menjadikan ayat sebagai basis transformasi. Spirit Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari sikap apatis terhadap ketimpangan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Di titik inilah makna terdalam Nuzulul Quran menemukan relevansinya: membumikan wahyu dalam realitas sosial. Menghubungkan teks dengan praksis. Menjadikan tilawah sebagai energi etik untuk memperjuangkan keadilan sosial. Sebab Alquran bukan hanya untuk dilantunkan, tetapi untuk diperjuangkan dalam kebijakan, dalam sistem hukum, dalam tata kelola ekonomi, dan dalam etika lingkungan.

Maka, mari kita rayakan Nuzulul Quran secara lebih substansial: memperbarui komitmen intelektual dan moral. Membaca dengan kesadaran kritis, memahami dengan keberanian etik, dan bertindak dengan integritas. Jika Alquran belum menggerakkan kita melawan kemiskinan struktural, membenahi sistem hukum yang timpang, dan menjaga bumi dari eksploitasi yang serakah, barangkali benar kita baru mengeja hurufnya—tetapi belum sepenuhnya membaca pesannya.

Muh Akbar SH MH
Mahasiswa Program Doktoral UIN Palopo
Pemerhati masalah sosial, hukum & etika

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow