Serial Jumat (Edisi 21) : Tauhid, Pegangan Hidup di Tengah Dunia yang Goyah

Serial Jumat (Edisi 21) : Tauhid, Pegangan Hidup di Tengah Dunia yang Goyah
Serial Jumat (Edisi 21) : Tauhid, Pegangan Hidup di Tengah Dunia yang Goyah

Tauhid bukan sekadar konsep teologis, tapi energi yang membuat kita tetap berdiri saat semua orang runtuh. Ilustrasi/foto: Abel Uribe, Chicago Tribune via AP dan Penulis.

Islami | hijaupopuler.id

Dunia yang Tidak Stabil, Hati yang Harus Stabil

Kita hidup di zaman yang cepat berubah. Kadang terasa tidak pasti. Hari ini sehat, besok sakit. Hari ini bekerja, esok diberhentikan. Hari ini dipuji, besok dihujat. Dunia memang goyah. Namun, tauhid adalah jangkar yang menstabilkan hati. Ia mengikat kita pada Tuhan Yang Tidak Pernah Berubah: Allah Yang Maha Kokoh, Maha Tahu, dan Maha Mengatur segalanya.

“Allah adalah sebaik-baik pelindung, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 64)

Tauhid mengajarkan bahwa apa pun yang terjadi bukan tanpa makna. Ada hikmah. Ada rencana ilahi. Dan dalam semua pergolakan itu, tempat paling aman untuk berpijak adalah tauhid—keyakinan bahwa hanya Allah yang mengatur segala sesuatu.

Memahami Takdir dan Ikhtiar: Dua Sayap Kehidupan

Tauhid juga membuat kita tidak terjebak dalam sikap pasrah yang salah. Sebaliknya, ia menyelaraskan antara takdir dan ikhtiar.
• Takdir adalah keputusan Allah.
• Ikhtiar adalah usaha kita yang diperintahkan Allah.

Seorang muslim yang bertauhid percaya bahwa semua yang terjadi adalah dalam genggaman Allah. Tapi itu tidak membuatnya malas. Justru ia semakin giat berusaha karena tahu:

"Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Tauhid membuat kita kuat saat gagal, karena tahu bahwa Allah sedang mendidik kita. Tauhid juga membuat kita rendah hati saat sukses, karena sadar bahwa semua ini karunia-Nya, bukan karena hebatnya kita.

Kembali ke Allah dalam Segala Situasi

Tauhid adalah jalan pulang. Ketika semuanya terasa terlalu berat, ketika dunia terasa gelap, tauhid membisikkan satu hal: kembalilah kepada Allah. Dialah tempat kita bermula dan tempat kita akan kembali.

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nya kita kembali) (QS. Al-Baqarah: 156)

• Di saat bahagia: tauhid mengingatkan kita untuk bersyukur.
• Di saat sedih: tauhid menguatkan kita untuk bersabar. 
• Di saat bingung: tauhid menenangkan kita untuk berserah diri. 
• Di saat takut: tauhid menegaskan bahwa hanya Allah yang layak ditakuti.

Tauhid menjadikan Allah sebagai poros hidup. Bukan pekerjaan, pasangan, teman, atau prestasi. Maka meskipun dunia di luar goyah, hatimu tetap bisa tenang.

Keteguhan Orang-orang Bertauhid

Kita bisa belajar dari para Nabi dan orang-orang saleh bagaimana mereka menghadapi dunia yang tidak selalu ramah.

• Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup, tapi tetap yakin: “Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl” (Cukuplah Allah sebagai pelindungku).
• Nabi Yusuf difitnah, dijebloskan ke penjara, tapi tetap percaya bahwa Allah punya skenario terbaik.
• Nabi Muhammad ﷺ diboikot, dihina, diancam, tapi tetap tegar dengan kalimat “Lā ilāha illā Allāh” yang beliau perjuangkan sampai akhir.

Mereka bukan tidak punya masalah. Tapi mereka punya tauhid yang kuat, yang membuat mereka tidak kehilangan arah dalam kesulitan.

Pegangan yang Membebaskan dari Ketergantungan

Tauhid juga memerdekakan. Ia membebaskan kita dari ketergantungan berlebihan pada makhluk.
• Kita tetap butuh manusia, tapi tidak menggantungkan kebahagiaan padanya.
• Kita bekerja sungguh-sungguh, tapi tahu rezeki itu dari Allah.
• Kita belajar keras, tapi sadar bahwa hasil di tangan-Nya.

Tauhid membuat kita mandiri secara ruhani. Tidak mudah hancur ketika ditolak. Tidak sombong saat berhasil. Tidak panik saat diuji. Karena kita sadar: semua ini hanya bagian dari skenario Allah.

Tenanglah, Allah Tidak Pernah Tidur

Ketika dunia terasa terlalu ribut, terlalu banyak masalah, terlalu banyak tuntutan, tauhid datang sebagai penyejuk hati. Ia berkata:

“Tenanglah, kamu tidak sendirian. Allah bersama orang-orang yang bertakwa. Allah tahu setiap air matamu. Allah tahu setiap detak hatimu. Allah tidak pernah tidur.”

Refleksi

• Tauhid bukan sekadar konsep teologis, tapi energi yang membuat kita tetap berdiri saat semua orang runtuh.
• Karena hidup bukan tentang bisa mengendalikan segalanya. Tapi tentang percaya penuh kepada Allah yang mengendalikan segalanya.

Dr H Rukman AR Said Lc MThI | Ketua LP2M UIN Palopo dan Sekretaris Umum MUI Kota Palopo

Untuk membaca kembali edisi sebelumnya (ke-20) dari Serial Jumat ini, silahkan klik tautan berikut:

https://hijaupopuler.id/serial-jumat-edisi-20-tauhid-dan-toleransi

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow