Serial Jumat (Edisi 20) : Tauhid Dan Toleransi
Dengan tauhid, kita bisa menjadi muslim yang kukuh dalam iman, tapi ramah dalam sikap. Berbeda dalam keyakinan, namun tetap bersaudara dalam kemanusiaan. Ilustrasi/foto : detik.com dan penulis.
Islami | hijaupopuler.id
Tauhid dan Realitas Keberagaman
Tauhid mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tapi dari keesaan itu lahir keragaman ciptaan yang luar biasa. Langit dan bumi, gunung dan laut, bahasa dan budaya, warna kulit, cara berpikir, hingga perbedaan etnis dan agama—semua diciptakan oleh satu Tuhan yang sama.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, dan perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu.” (QS. Ar-Rūm: 22)
Keberagaman bukanlah ancaman bagi tauhid. Justru ia adalah pantulan dari keagungan dan keluasan ciptaan Allah swt. Maka orang yang bertauhid seharusnya tidak takut pada perbedaan, tapi justru menghargainya sebagai bagian dari kehendak Ilahi.
Tauhid dan Toleransi: Menghormati Tanpa Menggadaikan Iman
Toleransi bukan berarti menyamakan semua keyakinan. Tauhid tetap menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang layak disembah. Namun dalam waktu yang sama, tauhid juga mengajarkan penghormatan terhadap pilihan orang lain, karena hidayah bukan berada di tangan manusia, tapi di tangan Allah swt.
“Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat...” (QS. Al-Baqarah: 256)
Tauhid melatih kita untuk:
• Teguh dalam keyakinan
• Lembut dalam pergaulan
• Adil dalam bersikap
• Tidak memaksakan iman, tapi menghadirkannya dengan hikmah
Teologi Damai dalam Perspektif Tauhid
Tauhid bukan sekadar membebaskan manusia dari penyembahan kepada berhala atau kekuasaan manusia, tetapi juga membebaskan dari kebencian dan permusuhan yang lahir dari fanatisme sempit.
Nabi Muhammad ﷺ datang membawa misi tauhid sekaligus misi damai.
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā: 107)
Rahmat ini dirasakan oleh semua makhluk:
• Orang beriman atau belum beriman
• Kaum mayoritas maupun minoritas
• Manusia maupun hewan dan alam
Dalam Piagam Madinah, Nabi mengatur kehidupan masyarakat multi agama dengan prinsip: hak, tanggung jawab, dan keadilan yang seimbang. Inilah praktik tauhid yang konkret dalam membangun masyarakat inklusif dan damai.
Tauhid Mengikis Kesombongan Kelompok
Tauhid menghancurkan keangkuhan identitas kelompok. Karena semua manusia berasal dari satu Tuhan, maka tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah kecuali takwa.
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt: 13)
Tauhid membentuk sikap:
• Tidak rasis
• Tidak membenci orang karena agamanya
• Tidak memonopoli kebenaran dengan arogansi
• Tidak merasa paling “surga-sentris” sambil merendahkan yang lain
Tauhid yang benar tidak memproduksi kekerasan dan kebencian. Ia menumbuhkan rasa damai, empati, dan kasih kepada sesama manusia, sambil tetap setia pada prinsip keimanan.
Tauhid Bukan Alat untuk Menghakimi
Ketika seseorang benar-benar memahami tauhid, ia sadar bahwa:
• Tugas manusia adalah menyampaikan, bukan menghakimi
• Urusan iman seseorang, yang tersembunyi dalam hati, adalah hak prerogatif Allah
• Dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan kelembutan, bukan dengan makian atau kekerasan
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik...” (QS. An-Naḥl: 125)
Maka orang yang bertauhid tidak tergesa-gesa dalam melabeli, tidak ringan mengkafirkan, dan tidak mudah menuduh “sesat” hanya karena berbeda pendapat. Ia menjaga lisan, membuka telinga, dan merangkul dengan akhlak.
Tauhid yang Membuka Hati, Bukan Menyempitkan Dunia
Tauhid adalah cahaya yang menerangi hati. Dan hati yang diterangi tauhid tidak akan gelap oleh kebencian, fanatisme, atau intoleransi. Ia tidak menjadikan orang sempit, tapi justru lebih lapang, lebih bijak, dan lebih damai.
“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabi’in, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal saleh, maka bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62)
Tauhid sejati bukan hanya menjaga relasi dengan Allah swt, tapi juga memperbaiki relasi dengan manusia. Dengan tauhid, kita bisa menjadi muslim yang kukuh dalam iman, tapi ramah dalam sikap. Berbeda dalam keyakinan, namun tetap bersaudara dalam kemanusiaan.
Dr H Rukman AR Said Lc MThI | Ketua LP2M UIN Palopo dan Sekretaris Umum MUI Kota Palopo
Untuk membaca kembali edisi sebelumnya (ke-19) dari Serial Jumat ini, silahkan klik tautan berikut:
https://hijaupopuler.id/serial-jumat-edisi-19-tauhid-gaya-hidup-muslim-menyatukan-iman-dan-aksi
Apa Reaksi Anda?
