Serial Jumat (Edisi 19) : Tauhid Gaya Hidup Muslim (Menyatukan Iman dan Aksi)

Serial Jumat (Edisi 19) : Tauhid Gaya Hidup Muslim (Menyatukan Iman dan Aksi)
Serial Jumat (Edisi 19) : Tauhid Gaya Hidup Muslim (Menyatukan Iman dan Aksi)

Tauhid bukan hanya soal siapa Tuhanku, tapi juga tentang apa dampaknya bagiku dan bagi sekitarku. Ilustrasi dan foto : pelakubisnis.com dan penulis.

Islami | hijaupopuler.id

Tauhid Bukan Cuma di Hati, Tapi Harus Terwujud di Aksi

Tauhid yang benar tidak berhenti di lisan yang mengucap Lā ilāha illā Allāh, atau hati yang percaya bahwa hanya Allah yang layak disembah. Tauhid yang sejati mengalir dari keyakinan menjadi perbuatan, dari pengakuan menjadi pengaruh dalam kehidupan nyata.

Iman itu bukan sekadar ucapan, tapi keyakinan yang menggerakkan.

Rasulullah ﷺ adalah teladan utama. Kalimat tauhid beliau tanamkan dalam hati umat, tapi beliau juga membangun masyarakat yang:
• Adil dan menolak penindasan
• Saling menolong dalam kebaikan
• Peduli terhadap anak yatim, fakir miskin, dan kaum lemah

Tauhid tidak membuat seseorang apatis terhadap realitas sosial. Justru sebaliknya, tauhid menuntun seorang mukmin untuk menjadi agen perubahan, karena ia merasa hidupnya adalah amanah dari Allah swt.

Tauhid dan Tanggung Jawab Sosial

Mengapa tauhid harus berdampak sosial? Karena orang yang benar-benar mengesakan Allah swt tidak akan membiarkan kezaliman terjadi, tidak akan hidup untuk diri sendiri, dan tidak akan menutup mata dari penderitaan sesama.

Tauhid melahirkan akhlak dan tanggung jawab:
• Karena Allah Maha Melihat → kita berlaku jujur
• Karena Allah Maha Memberi Rezeki → kita tidak menipu demi keuntungan
• Karena Allah Maha Pengasih → kita ikut peduli kepada yang kesulitan

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat..." (QS. An-Nisā: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah swt harus disertai dengan kebaikan kepada manusia. Tauhid dan aksi sosial tidak bisa dipisahkan.

Tauhid Mendorong Keadilan dan Anti Penindasan

Tauhid juga memiliki sisi perjuangan. Ia melawan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, termasuk penyembahan kepada:
• Kekuasaan yang zalim
• Sistem yang menindas
• Uang dan jabatan yang dijadikan tujuan hidup

Dalam sejarah, para Nabi bukan hanya menyeru “Sembahlah Allah,” tetapi juga menentang para penguasa lalim yang menyetarakan diri dengan Tuhan. Contoh:
• Musa ‘alaihissalam menghadapi Fir’aun
• Ibrahim ‘alaihissalam melawan Namrud
• Rasulullah ﷺ menghadapi elit Quraisy yang mengopresi rakyat

Mereka tidak hanya membenahi iman, tapi juga memperjuangkan keadilan sosial.

Tauhid Melahirkan Hamba yang Bertanggung Jawab

Orang yang bertauhid tahu bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri. Ia hidup sebagai hamba Allah swt, dan setiap aktivitasnya akan dimintai pertanggungjawaban.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Żāriyāt: 56)

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ḥijr: 92–93)

Tauhid menanamkan kesadaran:
• Aku hidup bukan untuk menumpuk harta, tapi untuk memberi manfaat
• Aku sekolah bukan cuma untuk ijazah, tapi untuk jadi jalan maslahat
• Aku bekerja bukan hanya mencari nafkah, tapi juga berkontribusi
• Aku berdakwah bukan untuk populer, tapi menyampaikan amanah

Tauhid yang benar menjadikan seseorang merasa dia wajib berbuat kebaikan, bukan karena ingin dipuji, tapi karena merasa ditugaskan.

Tauhid Menyatukan Dunia dan Akhirat

Kadang orang mengira bahwa beriman itu hanya soal ibadah ritual. Tapi tauhid mengintegrasikan seluruh hidup—ibadah, pekerjaan, aktivitas sosial, keluarga, bahkan hiburan—menjadi satu sistem yang terarah kepada Allah swt.

“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An'ām: 162)

Maka ketika kita membersihkan sampah, membantu tetangga, menyantuni anak yatim, menenangkan teman yang stres, menulis yang bermanfaat, atau bahkan tersenyum kepada sesama—semua itu bisa menjadi bukti tauhid, asal diniatkan untuk Allah swt.

Tauhid yang Bergerak

Tauhid sejati adalah iman yang bergerak. Ia bukan hanya menghiasi hati dan lisan, tapi juga menggerakkan tangan untuk membantu, kaki untuk melangkah ke masjid atau rumah dhuafa, dan pikiran untuk mencari solusi umat.

Iman yang tidak melahirkan aksi adalah iman yang belum tumbuh.

Maka mari kita bertanya:
• Apakah tauhid kita mendorong kita untuk lebih jujur, lebih adil, lebih peduli?
• Apakah tauhid kita sudah terasa dampaknya di keluarga, tetangga, komunitas?
• Apakah orang lain merasa lebih aman, lebih nyaman, dan lebih terbantu karena kita?

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)

Tauhid bukan hanya soal “siapa Tuhanku,” tapi juga tentang “apa dampaknya bagiku dan bagi sekitarku.”

Dr H Rukman AR Said Lc MThI | Ketua LP2M UIN Palopo dan Sekretaris Umum MUI Kota Palopo

Untuk membaca kembali edisi sebelumnya (ke-18) dari Serial Jumat ini, silahkan klik tautan berikut:

https://hijaupopuler.id/serial-jumat-edisi-18-tauhid-dan-ujian-hidup

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow