Nusantara: Bangsa Laut yang Terlalu Lama Memunggungi Samudra

Nusantara: Bangsa Laut yang Terlalu Lama Memunggungi Samudra
Nusantara: Bangsa Laut yang Terlalu Lama Memunggungi Samudra

Jika sejarah adalah guru, maka pesan Nusantara jelas: bangsa ini besar ketika ia kembali menatap lautnya, bukan membelakanginya. Ilustrasi/foto: destinasian.co.id dan penulis.

Opini | hijaupopuler.id

Sejarah panjang Nusantara menunjukkan satu kenyataan yang tak terbantahkan: Indonesia lahir dari laut. Jauh sebelum nama Indonesia disepakati, wilayah ini telah dikenal dunia sebagai Swarnadwipa, Dwipantara, hingga Nusantara—sebuah ruang peradaban yang disatukan bukan oleh daratan, melainkan oleh samudra. Laut bukan sekadar batas geografis, tetapi fondasi identitas, sumber penghidupan, dan jalur peradaban.

Namun ironisnya, sebagai bangsa yang tumbuh dari laut, Indonesia justru kerap memunggungi lautnya sendiri. Pembangunan nasional lebih sering berorientasi darat, sementara visi kemaritiman hadir sebatas slogan, belum sepenuhnya menjadi kesadaran kolektif dan kebijakan yang konsisten.

Sejak awal, masyarakat Nusantara—baik pesisir maupun pedalaman—hidup dalam ketergantungan pada laut. Dari aktivitas bertahan hidup hingga perdagangan lintas benua, laut membentuk karakter bangsa pelaut yang terbuka, adaptif, dan kosmopolit. Tak mengherankan jika kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Gowa-Tallo tumbuh sebagai kekuatan maritim, bukan agraris semata.

Sriwijaya, misalnya, bukan hanya pusat perdagangan dan pelayaran, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan dan agama Buddha di Asia Tenggara. Melalui penguasaan jalur laut dan Selat Malaka, Sriwijaya menunjukkan bahwa kekuatan maritim bukan semata soal armada, melainkan visi geopolitik, kecerdasan diplomasi, dan pengelolaan sumber daya yang strategis.

Laut pula yang menjadikan Nusantara titik temu peradaban dunia. Jalur perdagangan internasional membawa rempah-rempah, tetapi juga membawa ide, budaya, dan agama. Laut yang dahulu dianggap pemisah justru berubah menjadi jembatan peradaban, sebagaimana dikemukakan Fernand Braudel: laut menciptakan kesatuan melalui perjumpaan manusia dan bangsa-bangsa.

Hari ini, ketika Indonesia kembali menggagas diri sebagai poros maritim dunia, pertanyaannya bukan lagi apakah kita bangsa maritim, melainkan sejauh mana kita sungguh-sungguh belajar dari sejarah maritim itu sendiri. Apakah laut masih kita pandang sebagai ruang hidup bersama, atau sekadar objek eksploitasi ekonomi?

Menghidupkan kembali semangat Nusantara berarti menempatkan laut sebagai pusat pembangunan—bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga budaya, pendidikan, dan kebijakan publik. Kejayaan masa lalu tidak untuk diratapi, melainkan dijadikan cermin: bahwa keterbukaan global, toleransi, kepemimpinan yang kuat, dan visi maritim yang jelas pernah membawa Nusantara pada puncak peradaban.

Jika sejarah adalah guru, maka pesan Nusantara jelas: bangsa ini besar ketika ia kembali menatap lautnya, bukan membelakanginya.

Zulkifli
Mahasiswa IAI DDI Mangkoso, Kader PC PMII Kabupaten Barru

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow