Surga yang Terlalu Jauh dari Meja Takjil

Surga yang Terlalu Jauh dari Meja Takjil
Surga yang Terlalu Jauh dari Meja Takjil

Jika Ramadan adalah bulan rahmat, maka rahmat itu seharusnya terasa paling dekat dengan mereka yang paling membutuhkan. Ilustrasi/foto: merdeka.com dan penulis.

Perspektif | hijaupopuler.id

Setiap Ramadan tiba, mimbar-mimbar dakwah kembali ramai oleh seruan yang terdengar indah: mari berlomba menuju surga. Para dai mengingatkan tentang pahala puasa, keutamaan tarawih, hingga janji balasan surga bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Narasi tentang surga mengalir deras—dari ceramah di masjid, majelis taklim, hingga unggahan yang berseliweran di media sosial.

Namun di tengah gemuruh ajakan menuju surga itu, ada satu pertanyaan yang terasa mengganjal; mengapa seruan untuk membuka pintu meja makan bagi kaum miskin tidak sekeras ajakan menuju surga?

Menjelang waktu berbuka di banyak kota, restoran dan kafe dipenuhi oleh mereka yang mampu. Meja-meja dipenuhi aneka hidangan; minuman manis berderet, makanan berat tersaji berlimpah. Sementara itu, di sudut-sudut jalan yang sering luput dari perhatian, masih ada orang-orang yang menunggu azan dengan sebotol air mineral dan sebungkus nasi sederhana.

Mereka juga berpuasa. Mereka juga menanti pahala Ramadan.

Tetapi ruang-ruang kenyang sering kali tidak benar-benar terbuka bagi mereka.

Padahal inti ajaran Islam tidak hanya berbicara tentang surga yang jauh di akhirat, tetapi juga tentang kepedulian yang nyata di dunia. Rasulullah saw pernah menegaskan bahwa siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang diberi makan.

Pesan ini sangat sosial. Ibadah tidak berhenti pada ritual, melainkan menjelma menjadi solidaritas.

Ramadan seharusnya menjadi bulan yang meruntuhkan jarak sosial. Bulan ketika orang yang kenyang belajar merasakan lapar, agar mampu memahami perut-perut yang setiap hari terbiasa kosong. Lapar dalam puasa bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga pendidikan empati.

Namun jika rasa lapar itu berhenti hanya sebagai pengalaman spiritual pribadi—tanpa menjelma menjadi kepedulian sosial—maka Ramadan berisiko berubah menjadi ritual yang kehilangan ruhnya.

Di sinilah peran para dai dan tokoh agama menjadi penting. Dakwah tentang surga tentu saja perlu. Tetapi dakwah tentang manusia yang lapar tidak kalah pentingnya. Seruan untuk memperbanyak sedekah, membuka dapur umum, atau bahkan sekadar mengundang orang-orang yang kurang mampu berbuka bersama di rumah makan, adalah bentuk dakwah yang sangat nyata.

Barangkali surga tidak hanya dibangun dari banyaknya ceramah tentang pahala. Surga juga dibangun dari meja-meja makan yang diperluas, dari tangan-tangan yang memberi, dan dari hati yang bersedia berbagi ruang dengan mereka yang sering kali tak terlihat.

Jika Ramadan adalah bulan rahmat, maka rahmat itu seharusnya terasa paling dekat dengan mereka yang paling membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, jalan menuju surga mungkin tidak selalu dimulai dari mimbar ceramah. Kadang ia justru dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana; sepiring makanan yang diberikan kepada seseorang yang berbuka dengan perut kosong.

Muh Akbar SH MH
Mahasiswa Program Doktoral UIN Palopo
Pemerhati isu-isu hukum, etika & peradilan

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow