14 Menit yang Menjadi Garis Pembatas antara Hidup dan Mati

14 Menit yang Menjadi Garis Pembatas antara Hidup dan Mati
14 Menit yang Menjadi Garis Pembatas antara Hidup dan Mati

Jika sirene berbunyi dan kita hanya memiliki 14 menit sebelum bencana datang, apakah seluruh warga sekolah tahu harus melakukan apa? Ilustrasi/foto: kompas.id dan penulis.

Opini | hijaupopuler.id

Bencana tidak pernah mengirimkan undangan sebelum datang. Di wilayah yang dikelilingi sesar aktif dan ancaman hidrometeorologi, waktu bisa menjadi kemewahan yang paling mahal.

Ketika alam mulai menunjukkan amarahnya, keselamatan manusia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar bencana yang datang. Sering kali, pembeda antara selamat dan tragedi justru terletak pada apa yang telah dipersiapkan sebelum detik-detik kritis itu tiba.

Belum lama ini, sebuah peristiwa dramatis di Bidur, Nepal, memberikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan. Sebuah sekolah hanya memiliki waktu 14 menit sejak sirene peringatan dini berbunyi hingga banjir bandang menerjang dan meluluhlantakkan bangunan sekolah.

Di tengah kepanikan, kepemimpinan yang tenang dan sistem evakuasi yang telah dilatih mampu menyelamatkan lebih dari 900 siswa. Ruang kelas hancur, tetapi nyawa dan masa depan anak-anak itu berhasil diselamatkan.

Peristiwa tersebut memperlihatkan satu hal penting: early warning system tidak akan banyak berarti tanpa early action.

Tantangan bagi Sekolah di Indonesia

Bagi negara seperti Indonesia yang berada di kawasan ring of fire dan menghadapi berbagai ancaman hidrometeorologi, sekolah semestinya menjadi salah satu tempat yang paling siap menghadapi bencana.

Namun, kenyataan di lapangan belum selalu demikian.

Masih ada institusi pendidikan yang berada di kawasan rawan gempa, likuefaksi, banjir, longsor, maupun bencana lainnya, tetapi belum memiliki refleks kebencanaan yang memadai.

Simulasi gempa bumi atau kebakaran pun terkadang masih ditempatkan sebatas kegiatan tahunan untuk memenuhi kebutuhan administratif. Padahal, ketika bencana benar-benar terjadi, manusia tidak selalu bertindak berdasarkan apa yang pernah dibaca dalam buku atau disampaikan dalam ruang kelas.

Dalam situasi krisis, manusia cenderung bertindak berdasarkan kebiasaan yang telah dilatih.

Di situlah latihan menjadi penting.

Tanpa jalur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang dipahami, sistem peringatan yang dapat berfungsi, serta kepemimpinan yang mampu mengambil keputusan dalam hitungan detik, waktu 14 menit bisa berubah dari kesempatan menyelamatkan nyawa menjadi awal sebuah tragedi.

Tiga Pilar Sekolah Tangguh Bencana

Membangun sekolah tangguh bencana tidak cukup dengan memasang papan jalur evakuasi atau menggelar simulasi sekali dalam setahun. Ketangguhan harus menjadi bagian dari budaya sekolah.

Setidaknya ada tiga pilar yang perlu diperkuat.

Pertama, kepemimpinan krisis yang otonom.

Kepala sekolah dan guru harus memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan evakuasi secara cepat ketika situasi mengharuskan. Dalam kondisi darurat, keputusan menyelamatkan nyawa tidak boleh terhambat oleh rantai birokrasi yang panjang.

Ketika hitungan waktu sudah dimulai, keselamatan harus menjadi prioritas utama.

Kedua, refleks kolektif melalui latihan rutin.

Simulasi bencana harus menjadi bagian dari budaya sekolah, bukan sekadar agenda seremonial.

Siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga pengelola sekolah perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika sirene berbunyi, ke mana harus bergerak, siapa yang bertanggung jawab, dan di mana harus berkumpul.

Ketika keadaan darurat benar-benar terjadi, kepanikan harus dilawan dengan kebiasaan yang sudah terbentuk melalui latihan berulang.

Ketiga, infrastruktur mitigasi yang fungsional.

Jalur evakuasi harus benar-benar dapat digunakan. Tidak boleh terhalang meja, kursi, kendaraan, atau barang lainnya.

Papan penunjuk arah harus terlihat jelas. Titik kumpul harus ditentukan dan diketahui seluruh warga sekolah.

Sistem peringatan juga tidak boleh sepenuhnya bergantung pada listrik. Sirene manual, lonceng, kentongan, atau perangkat sederhana lainnya tetap harus tersedia sebagai cadangan ketika sistem utama tidak berfungsi.

Jangan Menunggu Bencana untuk Belajar

Investasi terbaik dalam mitigasi bencana tidak selalu berupa teknologi paling mahal.

Teknologi memang penting. Sistem peringatan dini, sensor, sirene, peta risiko, hingga infrastruktur mitigasi memiliki peran besar.

Namun, semua itu pada akhirnya bergantung pada manusia yang menerima peringatan dan mengambil tindakan.

Kisah 14 menit di Nepal mengingatkan kita bahwa ketangguhan bukanlah sebuah kebetulan. Ia lahir dari persiapan, kepemimpinan, latihan, disiplin, dan keberanian mengambil keputusan pada saat yang tepat.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar apakah sekolah kita sudah memiliki sistem peringatan dini.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Jika sirene berbunyi dan kita hanya memiliki 14 menit sebelum bencana datang, apakah seluruh warga sekolah tahu harus melakukan apa?

Sebab dalam bencana, 14 menit mungkin terasa singkat.

Tetapi bagi mereka yang siap, 14 menit bisa menjadi jarak antara hidup dan mati.

---

Faisal Tahadju ST MSi CCTr CPSE CSDP CPS CNeg CMTr
Penelaah Teknis Kebijakan BPBD Kabupaten Morowali Utara

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow