Masjid: Identitas Moral dan Ruang Kontrol Ummat

Masjid: Identitas Moral dan Ruang Kontrol Ummat
Masjid: Identitas Moral dan Ruang Kontrol Ummat

Masjid adalah pilar penting dalam kehidupan ummat Islam. Ia bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kesadaran sosial. Ilustrasi/foto : Yaslinda Utari/detikSulsel dan penulis.

Opini | hijaupopuler.id

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial modern, masjid sejatinya tidak sekadar berdiri sebagai bangunan ibadah. Ia adalah ruang pembentuk identitas moral sekaligus mekanisme kontrol sosial ummat Islam. Sejak masa Nabi Muhammad SAW, masjid telah berfungsi sebagai pusat kehidupan—tempat bertemunya dimensi spiritual, sosial, dan budaya dalam satu ruang yang hidup.

Masjid menjadi jembatan antara keyakinan personal dan tanggung jawab kolektif. Di sanalah nilai-nilai agama tidak hanya diajarkan, tetapi juga diuji dan dipraktikkan dalam relasi sosial sehari-hari. Ummat belajar bahwa keimanan tidak berhenti pada ritual, melainkan harus tercermin dalam sikap, perilaku, dan kepedulian terhadap sesama.

Sebagai pusat pembentukan identitas moral, masjid memainkan peran strategis. Shalat berjamaah, pengajian, serta pembelajaran Alquran dan Sunnah menjadi sarana internalisasi nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan kebersamaan. Khutbah Jumat, misalnya, kerap mengingatkan ummat tentang kepedulian terhadap kaum lemah, pentingnya menjaga lisan, hingga kewajiban merawat harmoni sosial. Pesan-pesan ini, ketika disampaikan secara konsisten, membentuk kesadaran kolektif tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap di ruang publik.

Lebih dari itu, masjid juga berfungsi sebagai ruang kontrol sosial yang bersifat alami dan konstruktif. Bukan dalam makna represif, melainkan sebagai ruang saling mengingatkan. Melalui kegiatan sosial, kajian, hingga musyawarah warga, masjid menjadi tempat ummat merespons persoalan sosial di lingkungannya. Di sinilah nilai agama diterjemahkan menjadi solusi nyata atas problem kemiskinan, konflik sosial, atau degradasi moral.

Kehadiran jamaah yang rutin menciptakan ikatan sosial yang kuat. Setiap individu merasa menjadi bagian dari komunitas yang saling peduli dan bertanggung jawab. Mekanisme kontrol ini bekerja secara halus namun efektif, mencegah lahirnya perilaku menyimpang sekaligus menjaga kemurnian ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun demikian, peran ideal masjid tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Dalam sejumlah kasus, masjid justru terseret konflik internal, bahkan dipolitisasi untuk kepentingan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Ketika hal ini terjadi, masjid kehilangan fungsinya sebagai ruang pemersatu dan pembangun moral ummat.

Karena itu, menjaga marwah masjid menjadi tanggung jawab bersama. Pengelolaan masjid harus dilakukan secara amanah dan inklusif, dengan menghadirkan imam dan pengurus yang berilmu, berakhlak, serta memiliki sensitivitas sosial. Aktivitas masjid pun perlu dirancang relevan dengan kebutuhan ummat, bukan sekadar rutinitas seremonial.

Pada akhirnya, masjid adalah pilar penting dalam kehidupan ummat Islam. Ia bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kesadaran sosial. Dengan komitmen kolektif, masjid dapat terus berfungsi sebagai pusat nilai, kontrol moral, dan harapan—bukan hanya bagi ummat Islam, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Abustan Djunaedi
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow