Begini Cara UIN SATU Tulungagung Raih Silver AASHE STARS
Rating silver bukan garis akhir, ia menjadi pijakan untuk memperbaiki data, memperkuat kebijakan, memperluas riset, dan meningkatkan partisipasi sivitas akademika. Foto: UIN SATU Tulungagung.
Kabar | hijaupopuler.id
Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung meraih rating Silver dalam Sustainability Tracking, Assessment & Rating System (AASHE STARS) per 1 Oktober 2026 baru-baru ini.
Capaian tersebut tidak hanya ditopang oleh penghijauan atau ruang terbuka hijau. Di balik rating tersebut terdapat upaya membangun keberlanjutan sebagai bagian dari sistem akademik, penelitian, tata kelola, operasional, hingga keterlibatan sivitas akademika dan masyarakat.
Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof Abd Aziz menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika.
“Alhamdulillah, selamat dan sukses kepada seluruh sivitas akademika UIN SATU Tulungagung atas capaian peringkat Silver dari STARS. Capaian ini membuktikan bahwa kampus kita mampu mengelola institusi secara terencana, terukur, akuntabel, serta berani menilai kinerjanya dengan standar internasional,” sebutnya.
Salah satu kekuatan UIN SATU berada pada sektor akademik. Dalam kategori curriculum, UIN SATU memperoleh 34 dari maksimal 45 poin, antara lain melalui sustainability course offerings, program sarjana dan pascasarjana, serta applied learning.
Artinya, isu keberlanjutan tidak ditempatkan sekadar sebagai program tambahan, tetapi mulai menjadi bagian dari proses pendidikan.
Sebagai perguruan tinggi Islam, pendekatan tersebut juga dipertemukan dengan perspektif ekoteologi. Lingkungan tidak hanya dipandang sebagai persoalan sains dan kebijakan, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardhi.
“Manusia diberi mandat sebagai khalifah fil ardhi, yakni pemakmur dan penjaga bumi. Dalam perspektif tersebut, ekoteologi menjadi pendekatan penting untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dalam merawat lingkungan dan keberlanjutan hidup,” kata Prof Abd Aziz lagi.
Keberlanjutan juga mendapat ruang dalam ekosistem penelitian UIN SATU. Pada kategori research, komponen sustainability research dan center for sustainability research menjadi salah satu capaian yang memperoleh poin maksimal.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan tidak berhenti pada aksi penghijauan, tetapi dikembangkan menjadi tema pengetahuan dan penelitian.
UIN SATU juga mendorong penelitian dan pengabdian kepada masyarakat pada tema strategis, termasuk pengembangan ekoteologi dan ReliGreen.
“Seluruh tema penelitian dan PkM harus selaras dengan Asta Protas Kementerian Agama. Penelitian kolaboratif perlu diarahkan untuk menghasilkan luaran yang aplikatif, termasuk pengembangan kurikulum ekoteologi dan Religreen yang berkelanjutan,” tambahnya.
Pada sektor operasional, pengelolaan air menjadi salah satu kekuatan UIN SATU. Dalam kategori water use, kampus tersebut memperoleh poin maksimal.
Penggunaan air secara bijak di toilet, tempat wudu, dan wastafel diposisikan tidak hanya sebagai upaya efisiensi sumber daya, tetapi juga bagian dari kesadaran bahwa air merupakan amanah.
Sementara itu, gerakan penghijauan dikembangkan melalui ReliGreen – Sustainable Minds, Greener Futures. Program ini menghubungkan agenda lingkungan dengan pendidikan, penelitian, pengabdian, tata kelola, dan kehidupan sivitas akademika.
Bagi UIN SATU, menanam pohon bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Jangan hanya menanam lalu ditinggal,” pesan Prof Abd Aziz dalam salah satu kegiatan penanaman pohon.
Ia menempatkan aksi ekologis sebagai bagian dari hablun min al-'alam, yakni hubungan manusia dengan alam yang harus dijaga secara berkelanjutan.
Capaian Silver AASHE STARS memperlihatkan pergeseran cara pandang UIN SATU dari sekadar green campus menuju sustainable university.
Kampus berkelanjutan tidak cukup hanya ditandai dengan pohon, taman, pengelolaan sampah, atau fasilitas hemat energi. Keberlanjutan perlu masuk ke dalam cara universitas mendidik mahasiswa, menghasilkan pengetahuan, mengelola sumber daya, mengambil keputusan, serta membangun hubungan dengan masyarakat dan mitra.
Pendekatan itu juga tercermin dalam gagasan SIP: sustainable, inclusive, partnership, yang dikembangkan UIN SATU.
“Kita semua memiliki peran dan tanggung jawab membesarkan UIN SATU. Inilah kampus yang inklusif sekaligus partnership, sesuai dengan prinsip SIP,” imbuh Prof Abd Aziz.
UIN SATU juga memperoleh poin bonus inovasi dalam penilaian STARS. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa inovasi keberlanjutan tidak selalu harus berupa teknologi canggih, tetapi juga dapat hadir melalui pengelolaan pengetahuan, penelitian, keterlibatan masyarakat, serta tata kelola kampus.
Bagi UIN SATU, rating Silver bukan garis akhir. Capaian tersebut menjadi pijakan untuk memperbaiki data, memperkuat kebijakan, memperluas riset, dan meningkatkan partisipasi sivitas akademika. Pada akhirnya, kampus berkelanjutan adalah yang menghasilkan manusia, pengetahuan, dan kebijakan yang membuat kehidupan di sekitarnya menjadi lebih berkelanjutan.
Apa Reaksi Anda?

