Doa ke Langit, Excavator ke Bumi

Doa ke Langit, Excavator ke Bumi
Doa ke Langit, Excavator ke Bumi

Tidak semua bencana ekologis dapat dijelaskan hanya dengan perubahan musim atau cuaca yang semakin ekstrem. Ilustrasi/foto: Penulis.

Perspektif | hijaupopuler.id

Manusia berkumpul, membentangkan sajadah, lalu merapalkan doa ke langit setelah melaksanakan salat istisqa. Pemandangan seperti ini mungkin terasa menarik setiap kali kemarau dirasa terlalu panjang.

Kita melaksanakan salat istisqa, meminta hujan segera diturunkan di atas tanah yang retak, sumur yang mulai mengering, sawah yang mulai tandus, dan udara yang semakin panas.

Tidak ada yang keliru dengan doa. Doa adalah salah satu bentuk ikhtiar yang diperintahkan Tuhan. Yang menjadi persoalan adalah apa yang terjadi setelah berdoa.

Kita menengadahkan tangan ke langit, tetapi pada saat yang sama membiarkan tangan-tangan buas mengeruk bumi.

Kita meminta hujan turun, tetapi hutan ditebang, tanah dibongkar, bukit diporak-porandakan, dan sumber daya alam terus dikeruk atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Kita memohon air dari langit, tetapi pada saat yang sama membiarkan bumi kehilangan kemampuannya menyimpan air.

Sajadah di Atas Tanah yang Dikeringkan

Salat istisqa, dalam bahasa agama, adalah ekspresi kerendahan hati manusia. Ketika hujan tidak juga turun, manusia sadar bahwa ada sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Manusia menghadap Tuhan, memohon agar langit kembali menurunkan rahmatnya. Namun, hujan dan ekosistem tidak pernah bergerak secara independen. Semuanya bekerja seperti sebuah rumah besar yang memiliki mekanismenya sendiri.

Hanya saja, manusia kerap kali hanya membicarakan ekosistem itu. Hutan dibicarakan sebagai sumber ekonomi. Tanah dibicarakan sebagai aset. Sungai dibicarakan sebagai sumber daya. Gunung dibicarakan sebagai cadangan mineral. Air pun perlahan diperlakukan sebagai komoditas.

Ketika semuanya mengering, kita lantas bertanya: mengapa hujan tidak turun?

Kita berharap hujan turun dengan deras, tetapi lupa mempertanyakan apakah tanah yang kita tinggalkan masih memiliki hutan untuk menahan air. Apakah sungai masih cukup sehat untuk mengalirkannya? Apakah mata air masih terlindungi?

Inilah ironi yang sulit diabaikan.

Kita bisa sangat khusyuk meminta air. Sajadah digelar untuk memohon hujan. Tetapi di kejauhan, excavator terus bekerja siang dan malam.

Excavator Tidak Pernah Berdoa

Excavator tidak mengenal doa. Ia tidak mengenal istisqa. Ia tidak mengenal kesedihan petani. Ia tidak mengenal kecemasan.

Excavator hanya bekerja: menggali tanah, memindahkan material, dan membongkar lapisan bumi.

Di sini, bukan excavatornya yang salah.

Persoalannya terletak pada sistem ekonomi dan kekuasaan yang memungkinkan eksploitasi berlangsung. Dalam bahasa Slavoj Žižek, kapitalisme dapat dipahami sebagai sistem yang memiliki dorongan kuat untuk mengejar akumulasi dan keuntungan. Persoalannya bukan semata-mata pada ilmu pengetahuan atau teknologi, melainkan pada tujuan produksi yang dapat diarahkan pada pengerukan keuntungan sebesar-besarnya.

Pertambangan, sama seperti aktivitas ekonomi lainnya, dapat menghasilkan manfaat ekonomi, lapangan kerja, dan pendapatan negara. Namun, jangan lupa, ekonomi ekstraktif juga memiliki konsekuensi ekologis yang tidak kecil.

Dalam konteks inilah istilah oligarki relevan untuk dibicarakan. Bukan untuk melabeli setiap pengusaha tambang, melainkan untuk mempersoalkan konsentrasi kekuasaan ekonomi dan kemampuan kelompok-kelompok tertentu memengaruhi keputusan publik.

Sumber daya alam berada di bawah tanah. Namun, keputusan tentang siapa yang boleh mengeruknya berada di atas meja kekuasaan.

Di sana terdapat izin, modal, kebijakan, investasi, kepentingan politik, dan berbagai bentuk relasi ekonomi lainnya. Sementara itu, masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah ekstraksi sering kali berhadapan langsung dengan air, debu, kebisingan, dan hilangnya ruang hidup.

Yang menikmati hasil tambang tidak selalu orang yang tinggal di sekitar lubang tambang. Namun, ketika lingkungan mengalami tekanan, masyarakat setempat menjadi pihak yang pertama merasakan dampaknya.

Kita seolah-olah memainkan dua retorika yang berbeda.

Ketika berbicara tentang agama, kita menggunakan bahasa amanah, syukur, dan larangan berbuat kerusakan. Ketika berbicara tentang ekonomi, kita tiba-tiba menggunakan bahasa produksi, investasi, target, pertumbuhan, dan eksploitasi.

Seolah-olah Tuhan hanya berada di masjid, sementara bumi berada di luar wilayah moral.

Tuhan Dipaksa, Bumi Disiksa

Kita meminta hujan sebagai rahmat, tetapi pada saat yang sama kita mengukur bumi berdasarkan seberapa banyak keuntungan yang bisa diambil.

Ketika hujan turun, kita menyebutnya berkah. Ketika tanah subur, kita menyebutnya potensi ekonomi. Ketika gunung menyimpan mineral, kita menyebutnya cadangan. Ketika hutan berdiri, kita menghitung nilai kayunya.

Namun, ketika semuanya rusak, kita menyebutnya bencana.

Seolah-olah bencana selalu datang dari langit dan tidak pernah berasal dari keputusan manusia.

Padahal, tidak semua bencana ekologis dapat dijelaskan hanya dengan perubahan musim atau cuaca yang semakin ekstrem. Di baliknya terdapat keputusan politik, kebijakan ekonomi, praktik bisnis, tata ruang, dan pola konsumsi yang turut menentukan kondisi ekologis suatu wilayah.

Sebab itu, definisi kesalehan perlu ditinjau ulang.

Kesalehan tidak cukup diukur dari seberapa sering manusia merapatkan dahi ke sajadah di atas tanah. Kesalehan juga dapat tercermin dari bagaimana manusia memperlakukan tanah ketika dahinya tidak sedang menyentuh sajadah.

Kita boleh membaca salat istisqa sebagai pengingat bahwa manusia tidak berkuasa penuh atas alam. Namun, pengakuan itu seharusnya membawa konsekuensi moral.

Jika alam adalah ciptaan Tuhan, maka memperlakukannya secara semena-mena bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan etika.

Kritik terhadap ekonomi ekstraktif tidak berarti menolak pembangunan. Penekanannya adalah pada batas.

Berapa banyak yang boleh diambil?

Berapa besar kerusakan yang harus ditoleransi?

Siapa yang menentukan batas itu?

Siapa yang memperoleh manfaat?

Dan siapa yang menanggung risikonya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting, sebab krisis ekologis tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat beradaptasi terhadap kerusakan yang terjadi.

Kita tidak bisa meminta petani bersabar ketika air berkurang. Kita tidak bisa meminta warga lebih ikhlas ketika lingkungan berubah, sementara keputusan tentang ruang hidup mereka dibuat jauh dari tempat mereka tinggal.

Salat istisqa karena itu perlu dibaca tidak hanya sebagai ritual meminta hujan. Ia juga dapat menjadi ritual pertobatan ekologis.

Sebuah pengingat bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan penjaga yang suatu hari akan dimintai pertanggungjawaban atas cara memperlakukannya.

Doa memang diarahkan ke langit.

Tetapi setelah itu, tangan manusia juga harus kembali bekerja di bumi.

---

Muhammad Suryadi R SPdI MPd
Direktur Eksekutif Parametric Development Center

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow