Bencana karena Ulah Manusia: Pelajaran Besar dari Kisah Nabi Nuh
Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan sebabnya, tetapi juga menawarkan solusinya. Melalui Surah Ar-Rum dan kisah Nabi Nuh AS, kita diajak untuk mengevaluasi tindakan. Foto : Penulis.
Perspektif | hijaupopuler.id
Bencana akibat tangan manusia adalah bentuk kerusakan yang lahir dari aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab. Ia mencakup pencemaran lingkungan—seperti banjir akibat sampah, deforestasi, dan polusi—hingga kecelakaan industri dan teknologi (chernobyl, lumpur Lapindo), konflik sosial (perang, terorisme, kerusuhan), ancaman siber dan biologis, serta perubahan iklim yang dipercepat oleh emisi gas rumah kaca.
Jenis bencana ini berbeda dengan bencana alam murni. Namun dalam banyak kasus, justru memperparah dampak bencana alam yang sudah ada, menjadikannya lebih destruktif dan sulit ditangani.
Al-Qur’an secara tegas menyinggung fenomena kerusakan akibat ulah manusia ini. Dalam Surah Ar-Rum ayat 41, Allah Swt berfirman,
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini memberikan pencerahan penting: kerusakan di bumi bukanlah peristiwa kebetulan semata, melainkan konsekuensi dari tindakan manusia sendiri. Allah Swt membiarkan sebagian dampak itu dirasakan agar manusia menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar—jalan yang menghormati alam, kehidupan, dan sesama.
Dalam konteks tersebut, Al-Qur’an juga menghadirkan kisah Nabi Nuh AS. Ia diperintahkan Allah Swt membangun sebuah bahtera besar di tempat yang tak lazim—di daratan tinggi—sebagai antisipasi banjir dahsyat. Perintah ini datang setelah ratusan tahun dakwah Nabi Nuh diabaikan oleh kaumnya yang tenggelam dalam kemusyrikan dan kejahatan.
Banjir besar itu bukan semata peristiwa alam, melainkan azab atas keingkaran kolektif. Bahtera Nuh menjadi simbol keselamatan bagi orang-orang beriman dan makhluk hidup yang diselamatkan, hingga akhirnya air bah surut dan kapal itu berlabuh di Gunung Judi.
Kisah ini memberi pesan mendalam tentang pentingnya antisipasi dan tanggung jawab ketika kerusakan akibat ulah manusia telah mencapai titik kritis. “Membangun bahtera di gunung” tidak hanya dimaknai sebagai persiapan fisik menghadapi bencana, tetapi juga sebagai upaya preventif: memperbaiki perilaku, menghentikan perusakan, serta membangun kesadaran iman agar manusia mau mendengar dan mematuhi petunjuk Ilahi.
Kisah Nabi Nuh AS mengajarkan bahwa meskipun azab dapat datang akibat kesalahan manusia sendiri, selalu ada jalan keselamatan bagi mereka yang mau sadar, beriman, dan bertindak benar.
Hari ini, bencana akibat tangan manusia adalah realitas yang nyata di hadapan kita. Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan sebabnya, tetapi juga menawarkan solusinya. Melalui Surah Ar-Rum dan kisah Nabi Nuh AS, kita diajak untuk mengevaluasi tindakan, kembali ke jalan yang lurus, serta membangun kesiapsiagaan yang berlandaskan iman dan tanggung jawab ekologis.
Hanya dengan cara itulah, dampak bencana dapat dikurangi, dan kehidupan yang lebih sejahtera serta damai dapat diwujudkan.
Abustan Djunaedi | ASN Kementerian Agama Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Apa Reaksi Anda?
