Belajar ke Bandung, UIN Palopo Perkuat Peran DWP dan Satgas PPKS
Hal menarik yang menjadi perhatian delegasi UIN Palopo adalah model pelibatan DWP sebagai “ruang aman” konsultasi awal bagi korban. Foto: Humas UIN Palopo.
Kabar | hijaupopuler.id
Upaya membangun kampus yang aman dan responsif gender terus diperkuat Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo. Kali ini, tim UIN Palopo melakukan kunjungan kerja ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tepatnya ke Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Senin (9/2/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi kelembagaan, tetapi juga ruang belajar untuk mengadopsi praktik baik dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi.
Delegasi UIN Palopo dipimpin Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Palopo, Riswi Abbas, bersama tim LP2M dan Satgas PPKS. Mereka disambut jajaran LP2M, PSGA, dan Satgas PPKS UIN Bandung.
DWP Jadi Mitra Strategis
Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan konstruktif, pihak UIN Bandung memaparkan bagaimana DWP dilibatkan sebagai mitra strategis dalam ekosistem pencegahan kekerasan seksual.
Korpus PSGA UIN Bandung, Irma Riyani PhD, menjelaskan bahwa Satgas PPKS bekerja dengan standar operasional yang tegas, termasuk batas waktu pelaporan 2×24 jam dan masa penanganan maksimal 30 hari.
“Pendekatannya bukan hanya administratif, tetapi juga psikologis dan edukatif, agar tidak terjadi pengulangan,” jelasnya.
Satgas PPKS UIN Bandung beranggotakan 18 orang dari unsur dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang merepresentasikan seluruh fakultas. Bahkan, kasus perundungan (bullying) juga masuk dalam cakupan penanganan.
Ruang Aman bagi Korban
Hal menarik yang menjadi perhatian delegasi UIN Palopo adalah model pelibatan DWP sebagai “ruang aman” konsultasi awal bagi korban.
Dr Hj Teti Ratnatih MAg, Koordinator Satgas Divisi Pencegahan sekaligus Sekretaris DWP UIN Bandung, menyampaikan bahwa ibu-ibu DWP di setiap fakultas difungsikan sebagai perantara atau volunteer yang memudahkan akses pelaporan.
“Banyak korban merasa lebih nyaman bercerita secara personal. Di situ peran DWP sangat penting,” ujarnya.
Selain itu, DWP juga aktif melakukan edukasi berbasis keluarga, termasuk kepada pemilik kos dan lingkungan tempat tinggal mahasiswa. Langkah ini dinilai efektif karena pencegahan tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga di ruang sosial mahasiswa.
Komitmen UIN Palopo
Mewakili UIN Palopo, Dr Hj Salmilah SKom MT, dari LP2M, menegaskan bahwa kunjungan ini menjadi langkah awal membangun kolaborasi konkret di bidang penelitian, pengabdian, serta penguatan sistem PPKS berbasis PSGA.
“Ini bukan hanya studi banding, tetapi komitmen untuk memperkuat sistem yang lebih komprehensif di UIN Palopo,” tegasnya.
Melalui sinergi antar-PTKIN, UIN Palopo berharap dapat menghadirkan lingkungan kampus yang lebih aman, inklusif, dan berkeadilan gender, sekaligus mengoptimalkan peran DWP sebagai mitra strategis dalam pencegahan dan edukasi.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi dan berbagi praktik baik antarperguruan tinggi adalah kunci dalam mewujudkan kampus yang bermartabat dan bebas dari kekerasan.
Apa Reaksi Anda?

