Dari Morowali ke Australia, Nur Jihadilla Tuntaskan Studi Magister Berkat Beasiswa LPDP

Dari Morowali ke Australia, Nur Jihadilla Tuntaskan Studi Magister Berkat Beasiswa LPDP
Dari Morowali ke Australia, Nur Jihadilla Tuntaskan Studi Magister Berkat Beasiswa LPDP

Jihadilla menunjukkan mimpi besar layak diperjuangkan, tanpa harus menyerah pada keterbatasan sebelum mencoba. Foto: Humas UIN Palopo.

Human | hijaupopuler.id

Mimpi melanjutkan pendidikan ke luar negeri tidak lagi menjadi angan-angan bagi Nur Jihadilla. Alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UIN Palopo angkatan 2022 asal Morowali, Sulawesi Tengah, itu kini telah menuntaskan pendidikan magisternya di Adelaide University, Australia.

Jihadilla menyelesaikan studi selama dua tahun melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Perjalanannya menuju kampus di Australia tersebut dimulai setelah melewati tahapan seleksi beasiswa pada 2023.

Ketertarikannya mendalami neuroscience of education atau ilmu saraf dalam pendidikan menjadi salah satu alasan memilih Australia sebagai tempat melanjutkan studi.

Bagi Jihadilla, pengalaman belajar di luar negeri memberinya kesempatan memperdalam pengetahuan melalui materi perkuliahan yang terstruktur dan mendetail, sekaligus mengasah kemampuan bahasa Inggris dalam lingkungan akademik yang menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa pengantar.

Pengalaman itu juga menjadi bekal untuk mempersiapkan diri kembali berkiprah sebagai pendidik bahasa Inggris.

Aktif Mengembangkan Diri Sejak Bangku Kuliah

Perjalanan Jihadilla tidak dimulai ketika ia menginjakkan kaki di Australia. Proses pengembangan diri telah dibangun sejak menempuh pendidikan sarjana di UIN Palopo.

Ia menilai masa kuliah merupakan kesempatan penting untuk memperluas pengalaman dan mengembangkan kompetensi. Mahasiswa, menurutnya, tidak cukup hanya mengandalkan aktivitas perkuliahan, tetapi juga perlu terlibat dalam organisasi, mengikuti kursus, serta mengambil bagian dalam kegiatan sukarela (volunteering) yang relevan dengan bidang keilmuan.

Meski demikian, aktivitas di luar kelas tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab akademik.

“Perbanyak volunteering yang berkaitan dengan jurusan. Berorganisasi juga penting, tetapi tetap mementingkan kelas kuliah,” pesannya, Sabtu (10/10/2026).

Pesan tersebut menunjukkan pengembangan diri membutuhkan keseimbangan. Pengalaman organisasi dan kegiatan di luar kampus dapat memperkaya kemampuan mahasiswa, tetapi tanggung jawab utama sebagai pelajar tetap tidak boleh diabaikan.

Bahasa dan Perbedaan Budaya Menjadi Ruang Belajar

Menempuh pendidikan di negara lain tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Bagi Jihadilla, bahasa menjadi salah satu tantangan terbesar selama menjalani studi di Australia.

Jurnal akademik, diskusi, hingga materi perkuliahan berbahasa Inggris menuntutnya belajar lebih intensif agar dapat memahami pembahasan secara optimal.

Namun, tantangan itu tidak semata-mata menjadi hambatan. Ia justru menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membentuk kemampuan dan ketahanan dirinya.

Di sisi lain, kesempatan bertemu mahasiswa dari berbagai negara membuka ruang untuk mengenal perspektif pendidikan yang beragam. Interaksi lintas budaya tersebut memperluas wawasannya sekaligus membantunya membangun cara pandang yang lebih terbuka terhadap perubahan.

Pengalaman itu memperkaya perjalanan akademiknya, sekaligus memberinya pemahaman bahwa belajar di luar negeri bukan hanya tentang ruang kelas dan materi kuliah, melainkan juga tentang kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.

Jangan Biarkan Keterbatasan Membatasi Mimpi

Dari pengalaman yang dijalaninya, Jihadilla berharap mahasiswa UIN Palopo tidak merasa bahwa studi ke luar negeri hanya dapat dijangkau oleh orang-orang tertentu.

Keterbatasan ekonomi maupun keraguan terhadap kemampuan diri, menurutnya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Tekad perlu dibarengi persiapan, kemauan belajar, dan keberanian mengambil kesempatan.

“Jangan pernah merasa mimpi itu terlalu tinggi hanya karena keterbatasan ekonomi, atau merasa belum cukup cerdas untuk mencapai mimpi tersebut. Milikilah tekad pejuang tersebut, sehingga Allah swt membuka jalan yang kalian anggap tidak mungkin itu,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan seseorang tidak harus menunggu sampai merasa hebat untuk mulai mencoba sesuatu yang besar. Keberanian untuk melangkah dapat menjadi awal dari proses pertumbuhan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Kita tidak perlu menjadi seseorang yang hebat dahulu untuk mencoba sesuatu yang besar. Terkadang kita hanya perlu berani memberikan diri kita kesempatan untuk bertumbuh,” tutup Jihadilla.

Kisah Nur Jihadilla menjadi pengingat perjalanan menuju kesempatan akademik internasional dibangun melalui proses panjang, mulai dari pengembangan diri, kesungguhan belajar, hingga keberanian menghadapi tantangan. Dari bangku kuliah di UIN Palopo hingga Adelaide, ia menunjukkan mimpi besar layak diperjuangkan, tanpa harus menyerah pada keterbatasan sebelum mencoba.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow