Menjangkau Wilayah Terluar, Program Dai 3T Kemenag Hadirkan Layanan Keagamaan hingga Pelosok Luwu Timur

Menjangkau Wilayah Terluar, Program Dai 3T Kemenag Hadirkan Layanan Keagamaan hingga Pelosok Luwu Timur
Menjangkau Wilayah Terluar, Program Dai 3T Kemenag Hadirkan Layanan Keagamaan hingga Pelosok Luwu Timur
Menjangkau Wilayah Terluar, Program Dai 3T Kemenag Hadirkan Layanan Keagamaan hingga Pelosok Luwu Timur

Melalui program ini, Kemenag RI dinilai tidak sekadar mengirim dai, tetapi juga membangun ekosistem pembinaan keagamaan yang lebih inklusif dan merata. Foto: Humas UIN Palopo.

Kabar | hijaupopuler.id

Upaya Kementerian Agama RI dalam memperluas akses layanan keagamaan hingga wilayah terluar, terdalam, dan terpencil (3T) kembali menunjukkan dampak nyata. Melalui Program Nasional Pengiriman Dai 3T Tahun 2026, masyarakat di pelosok kini semakin dekat dengan pembinaan keagamaan yang berkelanjutan.

Salah satu implementasi program tersebut terlihat di Desa Ujung Baru, Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Di wilayah yang tergolong minim akses layanan dakwah ini, kehadiran dai muda menjadi penguat kehidupan religius masyarakat.

Adalah Fiqran Abdillah, mahasiswa Program Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana UIN Palopo, yang dipercaya menjalankan misi pengabdian tersebut. Selama bertugas, ia tidak hanya menjadi imam salat fardu dan tarawih, tetapi juga aktif mengisi ceramah Ramadan, khutbah Jumat, serta menjalin silaturahim dengan tokoh masyarakat.

Lebih dari sekadar rutinitas ibadah, program ini menjadi ruang penguatan literasi keagamaan. Fiqran turut membina baca tulis Alquran bagi anak-anak dan membuka layanan konsultasi keagamaan bagi warga. Tercatat enam masjid telah dikunjungi dan lima layanan konsultasi perorangan diberikan selama masa pengabdian.

Program Dai 3T yang digagas Kemenag RI memang dirancang untuk menjawab kesenjangan akses dakwah di wilayah-wilayah yang selama ini sulit dijangkau. Di banyak daerah, keterbatasan jumlah dai dan guru ngaji menjadi tantangan tersendiri dalam pembinaan umat.

Di Desa Ujung Baru, kondisi tersebut terasa nyata. Letak geografis yang berada di wilayah paling ujung kecamatan membuat akses komunikasi dan transportasi terbatas. Namun di tengah keterbatasan itu, ikatan sosial masyarakat justru terbangun kuat.

“Sebagai mahasiswa, pengabdian ini menjadi bentuk nyata penerapan ilmu yang telah diperoleh dari bangku perkuliahan,” ujar Fiqran, Selasa (7/4/2026).

Ia mengakui bahwa adaptasi di awal penugasan bukan hal yang mudah. Kendala akses jalan, jaringan komunikasi, hingga perbedaan bahasa menjadi tantangan tersendiri. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi proses pembelajaran tentang kesabaran dan makna kehidupan sosial di daerah terpencil.

Di sisi lain, program ini juga membuka perspektif baru tentang semangat masyarakat dalam menempuh pendidikan. Fiqran menyaksikan langsung anak-anak yang harus melintasi sungai dan medan berat setiap hari demi bersekolah.

“Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga untuk lebih bersyukur dan terus semangat dalam menuntut ilmu,” ungkapnya.

Kehadiran Program Dai 3T tidak hanya menghadirkan dai sebagai penyampai dakwah, tetapi juga menjadi simbol hadirnya negara dalam menjangkau kebutuhan dasar keagamaan masyarakat hingga ke pelosok.

Melalui program ini, Kemenag RI tidak sekadar mengirim dai, tetapi juga membangun ekosistem pembinaan keagamaan yang lebih inklusif dan merata. Peran mahasiswa sebagai bagian dari generasi terdidik turut menjadi kunci dalam memperluas dampak program tersebut.

Partisipasi mahasiswa Pascasarjana UIN Palopo diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terlibat aktif dalam pengabdian, khususnya di wilayah yang masih membutuhkan perhatian lebih.

Di akhir masa pengabdiannya, Fiqran berpesan agar mahasiswa tidak hanya berorientasi pada penyelesaian studi, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow