Ngalap Ilmu ala Mahasiswa Al-Azhar Kairo: Menggali Kearifan di Balik Debu Padang Pasir

Ngalap Ilmu ala Mahasiswa Al-Azhar Kairo: Menggali Kearifan di Balik Debu Padang Pasir

Gambar Ilustrasi Kampus di Tengah Padang Pasir, Hijaupopuler.id, Maret 2024.

Kairo, Hijaupopuler.id

Kawasan tempat kampus pusat Universitas al-Azhar berada di sebuah kota tua yang bernama Darrasah. Sekeliling kampus juga berdiri kokoh bangunan-bangunan tua peninggalan berbagai dinasti yang pernah berkuasa di Mesir, seperti Dinasti Fatimiyah, Ayyubiyah, Mamluk, dan lain-lain. Sekira satu kilometer dari kampus, masih berdiri kokoh Benteng Salahuddin al-Ayyubi (dikenal dengan nama Qal’ah), simbol kebesaran Islam mengalahkan pasukan Salib. 

Di balik bangunan-bangunan tua yang menjulang di sekeliling Universitas al-Azhar dengan warna khas debu. Sengaja memang bangunan-bangunan di Kota Kairo (Ibu Kota Mesir) memilih warna demikian mengingat posisi kota yang dikelilingi hamparan padang pasir yang luas, bahkan di waktu-waktu tertentu kadang mengalami hujan debu. Namun, di balik itu, terdapat sebuah inti yang memancarkan cahaya kebijaksanaan, yaitu Universitas Al-Azhar.

Dikenal sebagai pusat dan kiblat pengetahuan Islam terkemuka di dunia, Al-Azhar tidak hanya merupakan lembaga pendidikan, tetapi juga sebuah simbol dari penjagaan tradisi dan harta intelektual. Di sinilah puluhan ribu mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru dunia; dari benua Afrika, Eropa, dan Asia, termasuk Indonesia, mengejar cahaya ilmu di bawah bayang kehormatan yang menjulang tinggi.

Bagi mahasiswa Al-Azhar, ngalap ilmu (mencari ilmu) bukanlah sekadar rutinitas akademis, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mengalir dalam aliran sejarah dan tradisi keilmuan Islam. Mereka tidak hanya belajar untuk memperoleh gelar, tetapi juga untuk mendalami makna kebijaksanaan yang terkandung dalam setiap ayat Al-Quran, setiap hadis, dan setiap karya ulama besar masa lalu, namun juga tetap merelevankan diri dengan perkembangan zaman, sesuai motto: al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah (melestarikan tradisi lama yang baik, serta mengadopsi hal baru yang lebih baik).

Setiap langkah dalam penuntutan ilmu di Al-Azhar memancarkan semangat kerja keras dan ketekunan. Mahasiswa di sini terbiasa dengan intensitas belajar yang tinggi dan tak kenal lelah. Membaca buku-buku klasik dan diskusi-diskusi mendalam dengan para guru mereka. Mereka belajar bukan hanya dari buku teks, tetapi juga dari pemahaman kolektif yang ditransmisikan melalui tradisi lisan dan kajian-kajian kolektif melalui kelompok-kelompok belajar dan diskusi yang dibentuk di setiap kerukunan dan organisasi mahasiswa.

Ngalap ilmu di Al-Azhar tak hanya tentang belajar di dalam kelas. Di sekitaran kampus, berseliwerang markaz-markaz belajar yang dikenal dengan istilah midhyafah atau saahah. Midhyafah atau saahah ini semacam tempat pengajian (mahasiswa menyebutnya: talaqqi) kitab yang diasuh oleh syekh-syekh dan ulama-ulama besar al-Azhar di Mesir yang mengajarkan berbagai bidang ilmu; mulai dari ilmu bahasa (Nahwu, Saraf, dan Balagah), Aqidah, Fiqhi, Tasawuf, dan lain-lain. Mereka mengajar secara sukarela, tanpa pamrih (bahkan terkadang mereka membagi-bagikan buku secara gratis kepada peserta), dan setiap pertemuan selalu penuh dengan mahasiswa-mahasiswa yang haus ilmu. Mahasiswa tinggal memilih tempat sesuai kecenderungan keilmuan masing-masing. Waktu-waktu pertemuan pun bervariasi; ada setelah salat Subuh, Asar, Magrib, dan Isya.

Bagi para mahasiswa al-Azhar, kampus ini merupakan ibarat sebuah laboratorium kehidupan, tempat di mana mereka menguji dan memperkuat iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar tentang moderasi beragama, toleransi antara sesama meski berbeda agama dan aliran, keadilan, dan kemanusiaan, nilai-nilai yang tercermin dalam ajaran Islam yang mereka pelajari.

Di tengah pergulatan antara modernitas dan tradisi, mahasiswa Al-Azhar belajar untuk mengintegrasikan kebijaksanaan lama dengan tuntutan zaman yang terus berubah. Mereka tidak hanya menutup diri dari ilmu pengetahuan dunia, tetapi juga berusaha memahaminya dalam konteks keislaman. Dengan demikian, mereka menjadi agen perubahan yang membawa cahaya kebijaksanaan ke dalam dunia yang gelap.

Bagi mahasiswa Al-Azhar, ngalap ilmu bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan bagian dari perjalanan ke arah pencerahan spiritual dan intelektual. Mereka adalah pewaris tradisi panjang keilmuan Islam, yang bertekad untuk membawa kebaikan bagi umat manusia. Dengan tekad yang teguh dan hati yang tulus, mereka menelusuri jalan menuju kebenaran, membawa terang dalam kegelapan, dan menyebarluaskan kebijaksanaan di bawah bayang kehormatan Al-Azhar.

Kairo, 16 Ramadhan 1445 H/ 25 Maret 2024

Rukman Abdul Rahman Said [Dosen IAIN Palopo/ Peserta Daurah Lazis ASFA]

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow