Pendidikan Islam di Era AI Harus Tetap Berporos pada Adab, Pesan Bustanul Iman dari Forum Nasional

Pendidikan Islam di Era AI Harus Tetap Berporos pada Adab, Pesan Bustanul Iman dari Forum Nasional
Pendidikan Islam di Era AI Harus Tetap Berporos pada Adab, Pesan Bustanul Iman dari Forum Nasional
Pendidikan Islam di Era AI Harus Tetap Berporos pada Adab, Pesan Bustanul Iman dari Forum Nasional

Di era ketika teknologi berkembang begitu cepat, peradaban justru akan ditentukan oleh kemampuan manusia menjaga nilai-nilai kemanusiaannya. Foto: Humas UIN Palopo.

Perspektif | hijaupopuler.id

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan memperoleh informasi, Pendidikan Islam dinilai menghadapi tantangan baru yang jauh lebih mendasar. Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana menguasai teknologi, melainkan bagaimana memastikan teknologi tetap berada di bawah kendali nilai, adab, dan spiritualitas.

Gagasan tersebut disampaikan Kaprodi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Palopo, Bustanul Iman RN, saat menjadi narasumber Webinar Nasional dan Kuliah Pakar bertema "Pemikiran Pendidikan Islam di Era Digital" yang diselenggarakan Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro, Sabtu (1/8/2026) kemarin.

Kegiatan ini merupakan implementasi Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UIN Palopo dan UNUGIRI dalam memperkuat kolaborasi akademik, penelitian, serta pengembangan keilmuan Pendidikan Islam. Dalam forum tersebut, Bustanul tampil bersama Direktur Pascasarjana UNUGIRI, M Ridlwan Hambali, dan Kaprodi S2 PAI UNUGIRI, Hamam Burhanuddin.

Mengangkat materi "Pendidikan Islam di Era Digital: Cerdas Teknologi, Kuat Spiritualitas," Bustanul menilai derasnya arus digitalisasi telah mengubah hampir seluruh lanskap pendidikan. Namun, menurutnya, keberhasilan lembaga pendidikan tidak boleh hanya diukur dari kemampuan mengadopsi teknologi terbaru.

"Keberhasilan Pendidikan Islam di era digital tidak diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi sejauh mana teknologi mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang berilmu, beradab, dan bertakwa," ujarnya.

Ia menjelaskan, tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan kehilangan arah dalam memanfaatkan informasi. Karena itu, teknologi harus diposisikan sebagai instrumen pembelajaran, sedangkan nilai-nilai Islam menjadi kompas moral yang mengarahkan penggunaannya.

Menurut Bustanul, paradigma Pendidikan Islam masa depan harus mampu mengintegrasikan literasi digital, berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi dengan nilai-nilai Alquran dan Sunnah. Integrasi tersebut diharapkan melahirkan generasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan identitas keislaman, integritas moral, maupun tanggung jawab sosial.

Dalam paparannya, ia juga menyoroti perubahan peran guru di era digital. Pendidik, kata dia, tidak lagi cukup menjadi penyampai pengetahuan, tetapi harus hadir sebagai murabbi, mentor, fasilitator, sekaligus teladan yang menanamkan adab, etika digital, moderasi beragama, dan integritas kepada peserta didik.

Di tengah maraknya penggunaan AI dalam dunia pendidikan, Bustanul mengingatkan kecerdasan buatan hanyalah alat bantu. AI dapat mempercepat proses belajar, tetapi tidak dapat menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir kritis, mengambil keputusan etis, maupun membangun karakter.

Untuk memperkuat perspektif tersebut, Bustanul mengaitkan gagasannya dengan pemikiran sejumlah tokoh pendidikan dunia, mulai dari Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang konsep ta'dib, Ismail Raji al-Faruqi mengenai integrasi ilmu, Paulo Freire tentang pendidikan yang membangun kesadaran kritis, hingga Donald Schön yang memperkenalkan praktik reflektif yang sejalan dengan konsep muhasabah dalam Islam.

Menurutnya, transformasi digital justru harus menjadi momentum untuk memperkuat tujuan hakiki Pendidikan Islam, yakni membentuk manusia yang mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan umat serta pembangunan peradaban.

Webinar nasional yang berlangsung secara hybrid tersebut diikuti dosen, mahasiswa, guru, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. Diskusi berkembang pada isu implementasi teknologi pembelajaran, penguatan riset kolaboratif, publikasi ilmiah, hingga pengembangan kerja sama akademik antarlembaga.

Bagi UIN Palopo sendiri, keikutsertaan dalam forum ilmiah nasional tersebut menjadi bagian dari komitmen memperluas jejaring akademik sekaligus menghadirkan kontribusi pemikiran terhadap arah pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia.

Lebih dari sekadar implementasi kerja sama antarkampus, kolaborasi UIN Palopo dan UNUGIRI menunjukkan transformasi digital perlu dibangun di atas fondasi ilmu, adab, dan spiritualitas. Sebab, di era ketika teknologi berkembang begitu cepat, peradaban justru akan ditentukan oleh kemampuan manusia menjaga nilai-nilai kemanusiaannya.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow