Riset UMKM Kuliner Halal UIN Palopo Raih Best Paper di Konferensi Internasional
Kolaborasi lintas perguruan tinggi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lokal, termasuk pengelolaan UMKM kuliner di Kota Palopo, dapat dikembangkan menjadi kajian yang memiliki relevansi akademik lebih luas. Foto: Humas UIN Palopo.
Jurnal | hijaupopuler.id
Riset kolaborasi dosen dan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo bersama UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten meraih penghargaan Best Paper dalam SATU ICON International Conference 2026.
Penelitian berjudul “Building Visual Green Trust in Halal Culinary MSMEs Through Circular Business Practices” tersebut mengangkat isu UMKM kuliner halal, praktik bisnis sirkular, dan pengelolaan lingkungan di Kota Palopo.
SATU ICON International Conference 2026 berlangsung secara hybrid pada 8–10 September 2026, dengan kegiatan luring di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan secara daring melalui zoom meeting.
Konferensi internasional itu mengusung tema “Green, Blue, and Circular: An Integrated Framework for Sustainable Global Economy.” Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk membahas pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui perspektif ekonomi hijau, biru, dan sirkular.
Riset yang meraih best paper itu dilakukan oleh Adzan Noor Bakri bersama tiga mahasiswa FEBI UIN Palopo, yakni Indah Apriliana, Al Munawati Hafifa, dan Marsya Anggi Pratiwi. Penelitian tersebut juga melibatkan Suryani dan Muhamad Fadli Azim dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Penelitian berfokus pada bagaimana pengelolaan limbah, penggunaan kemasan, kebersihan, dan perilaku pelaku usaha dapat membentuk kepercayaan konsumen terhadap komitmen lingkungan UMKM kuliner halal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek ramah lingkungan belum menjadi pertimbangan utama konsumen muda ketika memilih tempat kuliner. Rekomendasi teman, media sosial, rasa, harga, lokasi, dan jaminan halal masih menjadi pertimbangan yang lebih dominan.
Meski demikian, ketika menilai kredibilitas lingkungan sebuah usaha, konsumen memperhatikan bukti yang dapat dilihat secara langsung. Kemasan, kebersihan tempat usaha, pemilahan sampah, pengelolaan limbah, hingga perilaku penjual menjadi sejumlah indikator yang membentuk kepercayaan konsumen.
Temuan tersebut kemudian melahirkan konsep Visual Green Trust, yakni kepercayaan terhadap komitmen lingkungan yang terbentuk ketika konsumen dapat melihat dan memverifikasi secara langsung kesesuaian antara klaim lingkungan dengan praktik yang dilakukan pelaku usaha.
Penelitian itu juga merekomendasikan agar transisi menuju praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi UMKM dan konsumen. Penggunaan kemasan alternatif, pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, dan peningkatan kebersihan dinilai dapat dilakukan tanpa harus memberikan beban biaya yang tinggi kepada pelaku usaha.
Pengelolaan limbah, lanjut hasil penelitian tersebut, juga tidak dapat hanya dibebankan kepada pelaku UMKM. Konsumen, pengelola kawasan, pemerintah, dan petugas kebersihan menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan lingkungan yang saling berkaitan.
Karena itu, penelitian tersebut merekomendasikan penguatan fasilitas pemilahan sampah, pengaturan jadwal pengangkutan, penerapan standar kebersihan kawasan, serta monitoring pengelolaan lingkungan.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian lain dari penelitian tersebut. Indah Apriliana, Al Munawati Hafifa, dan Marsya Anggi Pratiwi terlibat dalam pengumpulan data, analisis temuan, pengembangan gagasan, hingga presentasi penelitian dalam forum internasional.
Adzan Noor Bakri, Kamis (17/9/2026), menjelaskan raihan best paper menjadi bagian dari upaya membangun budaya riset yang kolaboratif dan berbasis pada persoalan nyata masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi lintas perguruan tinggi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lokal, termasuk pengelolaan UMKM kuliner di Kota Palopo, dapat dikembangkan menjadi kajian yang memiliki relevansi akademik lebih luas.
Ia berharap capaian tersebut dapat ditindaklanjuti melalui penelitian lanjutan, pendampingan UMKM, serta pengembangan rekomendasi tata kelola kawasan kuliner yang lebih efisien, kredibel, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Apa Reaksi Anda?

