Jejak Perjalanan Muhammadi: Menjadi Manusia Semesta dan Proses Healing Menuju Alam Realitas

Jejak Perjalanan Muhammadi: Menjadi Manusia Semesta dan Proses Healing Menuju Alam Realitas
Jejak Perjalanan Muhammadi: Menjadi Manusia Semesta dan Proses Healing Menuju Alam Realitas

Manusia dipanggil untuk melampaui penampakan lahiriah dan menempuh pendakian eksistensial hingga fana fillah. Ilustrasi/ foto : puzzle-mania.pl dan penulis.

Jurnal | hijaupopuler.id

Abstrak

Artikel ini mengkaji konsepsi manusia sebagai wujud semesta (mikrokosmos-makrokosmos) dalam perspektif filsafat Islam dan tasawuf, khususnya dalam kerangka perjalanan Muhammadi. Manusia tidak hanya dipahami sebagai entitas biologis dan sosial, melainkan sebagai realitas kosmik yang mengandung seluruh tingkatan eksistensi.

Dengan menggunakan pendekatan ontologis dan sufistik, tulisan ini menelusuri struktur wujud manusia mulai dari alam nasut hingga lahut, serta mengaitkannya dengan konsep healing spiritual sebagai perjalanan menaik menuju realitas terdalam.

Artikel ini menegaskan bahwa nilai kemanusiaan tidak ditentukan oleh kategori fisik, melainkan oleh capaian eksistensial yang bermuara pada fana fillah sebagai puncak kesempurnaan manusia.

Pendahuluan

Manusia secara kasat mata hadir dalam beragam postur dan karakter fisik. Tinggi dan pendek, gemuk dan kurus, laki-laki dan perempuan, muda dan tua—semuanya merupakan fakta biologis yang kerap dijadikan ukuran idealitas dan nilai sosial. Namun, reduksi manusia pada dimensi fisik semata berpotensi menyingkirkan makna terdalam dari eksistensi manusia itu sendiri.

Dalam khazanah filsafat Islam dan tasawuf, manusia dipahami bukan hanya sebagai makhluk biologis, melainkan sebagai entitas kosmik. Ia tampak kecil dalam bentangan alam raya, tetapi sejatinya memuat seluruh struktur realitas semesta.

Pernyataan Khalifah Ali ibn Abi Thalib ra, bahwa manusia adalah “makrokosmos yang terlipat” menjadi dasar refleksi ontologis bahwa manusia menyimpan rahasia wujud yang melampaui penampakan lahiriah.

Artikel ini bertujuan mengelaborasi manusia sebagai wujud komprehensif, sekaligus menjelaskan proses healing spiritual sebagai perjalanan eksistensial menuju realitas hakiki, dalam bingkai perjalanan Muhammadi.

Manusia antara Mikrokosmos dan Makrokosmos

Secara empiris, manusia tampak sebagai mikrokosmos—entitas kecil di tengah luasnya semesta. Namun dalam perspektif metafisika Islam, manusia justru merupakan cerminan makrokosmos. Seluruh tatanan wujud yang tersebar di alam raya terhimpun dalam struktur eksistensi manusia.

Tasawuf memandang manusia sebagai ringkasan semesta. Apa yang hadir secara terurai dalam kosmos, hadir secara terpadu dalam diri manusia. Oleh karena itu, manusia disebut sebagai al-kawn al-jāmi‘—wujud yang menghimpun seluruh level eksistensi.

Pandangan ini menegaskan bahwa keagungan manusia tidak terletak pada bentuk lahirnya, melainkan pada kapasitas ontologisnya sebagai titik temu antara alam dan Tuhan.

Struktur Wujud Manusia dalam Perspektif Tasawuf

Wujud manusia bersifat komprehensif karena mencakup seluruh tingkatan realitas. Dalam terminologi tasawuf klasik, tingkatan tersebut dikenal sebagai:
-  Alam Nasut–dimensi materi dan jasmani.
-  Alam Malakut–dimensi imaginal atau mitsali.
-  Alam Jabarut–dimensi intelektual dan rasional.
-  Alam Lahut–dimensi ketuhanan.

Keempat alam ini tidak berdiri terpisah, melainkan saling berkelindan dalam eksistensi manusia. Tubuh manusia bersesuaian dengan alam nasut, sementara daya imajinatifnya berakar pada alam malakut. Akal manusia beroperasi pada tingkat jabarut, sedangkan jiwa dan ruhnya terhubung dengan realitas lahut. Dengan demikian, manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki akses eksistensial ke seluruh tingkatan wujud.

Lahut Epistemable dan Lahut Agnostif: Dua Wajah Ketuhanan

Realitas ketuhanan (lahut) dalam tasawuf memiliki dua dimensi penting. Pertama, dimensi ketuhanan yang dapat dikenali melalui nama, sifat, dan perbuatan Tuhan. Inilah wilayah teologi afirmatif, tempat manusia mengenal Tuhan melalui manifestasi-Nya dalam semesta dan pengalaman spiritual.

Lalu yang kedua, dimensi ketuhanan yang sepenuhnya tak terjangkau oleh pengetahuan. Ini disebut sebagai lahut agnostif atau ghayb al-ghuyub. Pada level ini, zat Tuhan melampaui seluruh konsep, bahasa, dan pengetahuan.

Pembedaan ini melahirkan keseimbangan antara pengenalan dan pengakuan keterbatasan. Manusia mengenal Tuhan sejauh yang diizinkan, dan berserah diri pada ketakterjangkauan zat-Nya.

Ruh sebagai Hakikat Terdalam Manusia

Di antara seluruh dimensi manusia, ruh menempati posisi paling tersembunyi. Alquran menegaskan keterbatasan manusia dalam memahami hakikat ruh,

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi pengetahuan tentangnya kecuali sedikit” (QS. Al-Isra’: 85).

Ruh bersesuaian dengan dimensi lahut yang tak terkatakan. Ia merupakan pusat kesadaran terdalam manusia, sekaligus jembatan menuju realitas Ilahi. Oleh karena itu, perjalanan spiritual sejati bukanlah eksplorasi fisik, melainkan pendakian batin menuju sumber ruhani.

Healing sebagai Gerak Eksistensial Menaik

Dalam konteks modern, healing sering dipahami sebagai perjalanan fisik ke ruang-ruang alam atau terapi psikologis. Namun tasawuf menawarkan pemahaman yang lebih mendalam: healing adalah gerak eksistensial menaik, dari alam rendah menuju alam tinggi.

Manusia memiliki kemampuan untuk “berpindah” dari nasut ke malakut, dari malakut ke jabarut, hingga menyentuh realitas asma Ilahi. Puncaknya adalah lenyapnya ego dalam samudra ketuhanan—fana fillah.

Menariknya, perjalanan eksistensial ini tidak memerlukan ongkos material. Satu-satunya tiket adalah amal saleh yang dilandasi oleh spirit penghambaan yang tulus kepada Tuhan.

Fana Fillah dan Manusia Paripurna

Fana fillah bukanlah kehancuran eksistensi manusia, melainkan lenyapnya kesadaran egoistik dalam kesadaran Ilahi. Ia diibaratkan setetes air yang dituang ke samudra: air tidak hilang, tetapi menyatu dengan keluasan yang tak berbatas.

Manusia paripurna (insān kāmil) adalah mereka yang mencapai level ini. Nilai dirinya tidak lagi diukur oleh kategori sosial atau biologis, melainkan oleh kedalaman eksistensial yang telah diraihnya.

Kesimpulan

Manusia adalah semesta dalam bentuk ringkas. Seluruh tingkatan wujud hadir dalam dirinya, menjadikannya makhluk dengan potensi spiritual tertinggi. Healing sejati bukan sekadar pemulihan psikis atau fisik, melainkan perjalanan menaik menuju realitas terdalam.

Dalam perspektif perjalanan Muhammadi, manusia dipanggil untuk melampaui penampakan lahiriah dan menempuh pendakian eksistensial hingga fana fillah. Di sanalah manusia menemukan makna dirinya sebagai wujud semesta yang kembali kepada sumber segala wujud.

Syamsir Nadjamuddin
ASN Kementerian Agama Kabupaten Maros, Sulsel
Praktisi Tarekat Khalwatiyah Samman Maros

Rujukan:
- Al-Qur’an al-Karim.
- Ibn ‘Arabi. Al-Futūhāt al-Makkiyyah. Beirut: Dar al-Fikr.
- Lyceum, Alfit. Kajian Filsafat Harmonisasi. Jakarta: Alfit Institute.
- Majelis Republik Sofiah. Risalah-Risalah Tasawuf Kontemporer. Qum: MRS Press.
- Muthahhari, Murtadha. Filsafat: Teori dan Praktik. Teheran: Sadra Publications.
- Mishbah Yazdi, M. Taqy. Daras Filsafat Islam. Qum.
- Syamsunar. Insan Kamil: Telaah Pemikiran Ibn ‘Arabi. Yogyakarta: Pustaka Sufi.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow