Serial Jumat (Edisi 22) : Iman Itu Sederhana, Jangan Dibuat Rumit

Serial Jumat (Edisi 22) : Iman Itu Sederhana, Jangan Dibuat Rumit
Serial Jumat (Edisi 22) : Iman Itu Sederhana, Jangan Dibuat Rumit

Iman yang kuat adalah iman yang hidup setiap hari: saat mencuci piring, mengantri di kasir, berinteraksi di media sosial, atau saat sendiri di malam hari. Ilustrasi/foto : khotbahjumat.com dan penulis.

Islami | hijaupopuler.id

Tauhid: Bukan Sekadar Ilmu, tapi Cara Hidup

Sering kali kita berpikir bahwa iman dan tauhid itu harus dipelajari lewat buku-buku tebal, bahasa Arab klasik, atau rumus logika yang rumit. Padahal, tauhid adalah sesuatu yang sangat dekat dan membumi—ia bisa dihayati dari rutinitas sehari-hari.

Tauhid bukan hanya untuk ruang kelas. Ia untuk dapur, kantor, jalan raya, kamar tidur, dan status WhatsApp.

Tauhid adalah kesadaran bahwa di setiap detak hidup kita, ada Allah swt yang melihat, mendengar, dan peduli.

Merawat Tauhid Setiap Hari

Seperti tanaman yang harus disiram setiap hari, iman pun harus dirawat. Bukan dengan ritual yang memberatkan, tetapi dengan kesadaran sederhana yang terus dihidupkan:
• Saat bangun tidur: “Alhamdulillah, aku masih hidup berkat izin Allah.”
• Saat makan: “Ini bukan karena kerja kerasku semata, tapi karena rezeki dari Allah.”
• Saat sedih: “Aku curhat sama Allah, Dia Maha Mendengar.”
• Saat senang: “Jangan lupa bersyukur, Allah yang memberi rasa ini.”
• Saat ingin marah, iri, atau menyerah: “Ingat Allah, Dia tak suka jika aku lepas kendali.”

Tauhid bukan hanya akidah, tapi gaya hidup. Ia hidup di shalat, tapi juga di senyum. Ada dalam zikir, tapi juga dalam cara kita memperlakukan orang lain. Merawat tauhid bukan tentang hal besar, tapi tentang konsistensi dalam hal-hal kecil.

Iman Itu Sederhana

Kadang, kita sendiri yang membuat agama terasa berat. Padahal, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama, kecuali ia akan kalah.” (HR. Bukhari)

Iman itu seperti benih kecil yang bisa tumbuh besar bila dijaga. 
• Tidak semua orang bisa langsung menghafal dalil, tapi semua orang bisa menjaga hati agar tetap yakin kepada Allah.
Tidak semua orang bisa menjawab debat teologis, tapi semua bisa berkata dari hati, “Aku percaya kepada Allah, aku mencintai-Nya, dan aku ingin hidup dalam ridha-Nya.”

Itu sudah cukup sebagai titik mula iman yang benar.

Satu Allah, Banyak Cinta

Ketika kita hanya menyembah satu Allah, maka cinta kita akan menjadi bersih. Tidak bercabang, tidak terkotori.

Tauhid menyederhanakan hati—tidak terbelah antara cinta kepada dunia, pengakuan orang, dan gengsi pribadi.

Cinta kepada Allah akan menumbuhkan cinta yang sehat:
• Cinta kepada sesama: karena mereka adalah ciptaan Allah.
• Cinta kepada ilmu: karena ia mendekatkan kepada Allah.
• Cinta kepada pekerjaan: karena itu bentuk ibadah.
• Cinta kepada keluarga: karena Allah memerintahkannya.
• Cinta kepada diri sendiri: karena kita adalah amanah dari-Nya.

Maka tauhid bukan menghilangkan cinta, tapi memurnikan dan menyehatkan cinta. Tauhid mengajarkan kita untuk tidak mencintai sesuatu lebih dari cinta kita kepada Allah.

Tauhid Itu Melegakan, Bukan Menyesakkan

Orang yang benar-benar bertauhid hidupnya lebih ringan.
• Dia tidak sibuk mencari validasi dari manusia.
• Dia tidak mudah stres karena urusan dunia.
• Dia tidak panik ketika gagal, karena yakin Allah punya rencana.
• Dia tidak sombong saat berhasil, karena sadar semua milik Allah.

Iman bukan beban, tapi kekuatan. Ia tidak membuat hidup lebih rumit, tapi justru lebih tenang dan terarah.

Jadikan Imanmu Teman Sehari-hari

Iman yang sehat bukan yang hanya muncul saat Ramadan, di masjid, di majelis taklim, atau ketika masalah datang. 

Iman yang kuat adalah iman yang hidup setiap hari: saat mencuci piring, mengantri di kasir, berinteraksi di media sosial, atau saat sendiri di malam hari. Iman bukan milik para ustaz saja, Tapi milik siapa pun yang ingin hidup dengan Allah dalam hatinya.

Karena iman itu sederhana, jangan dibuat rumit. Cukup mulai dari satu kalimat tulus: “Aku percaya, Allah selalu ada.”

Dr H Rukman AR Said Lc MThI
Ketua LP2M UIN Palopo dan Sekretaris Umum MUI Kota Palopo

Untuk membaca kembali edisi sebelumnya (ke-21) dari Serial Jumat ini, silahkan klik tautan berikut:

https://hijaupopuler.id/serial-jumat-edisi-21-tauhid-pegangan-hidup-di-tengah-dunia-yang-goyah

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow