Tahun 2026: Terus Bertumbuh atau Jumud? (Merawat Imajinasi dan Keyakinan)
Ketika imajinasi dan keyakinan berpadu, manusia akan mampu melampaui keterbatasan yang tampak, berani mengambil risiko, dan membuka jalan untuk pertumbuhan pribadi. Ilustrasi/foto : bincangsyariah.com dan penulis.
Perspektif | hijaupopuler.id
Refleksi Filosofis-Sufistik
Herakleitos mengatakan, "Panta Rhei," "semuanya mengalir," terus berubah tidak ada yang tetap, sekeliling kita tidak ada yang menetap, berubah dalam setiap momen kehidupan. Ini berarti bahwa alam semesta berada dalam situasi dinamis, tidak ada yang konstan selain perubahan itu sendiri. Ibarat sungai, dunia akan selalu bergerak, berubah menyesuaikan musim, dan mengalir sepanjang waktu dari hulu menuju hilir kehidupan. Perubahan adalah bagian hakiki dari kehidupan manusia, baik secara fisik maupun psikologis. Menghadapi situasi ini, fleksibilitas menjadi kunci untuk terus bergerak dan mengalir menjalani kehidupan dengan penuh makna.
Martin Heidegger, mengunci manusia sebagai makhluk yang "ada dalam lorong waktu," di antara pilihan untuk memaknai secara jujur apakah hari-hari yang telah dilalui atau terlewat begitu saja. Setiap pergantian tahun, manusia memulai siklus dari awal lagi (Muharram-Januari), tetapi menuju pada kemungkinan baru apakah kita memilih berubah atau jumud. Detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan tahun berganti, tetapi kesadaran manusia dalam memaknai siklus tersebut adalah satu-satunya lokus yang diuji. Siklus pergantian hari bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi sangat memengaruhi cara kita berpikir, bersikap, dan membuat keputusan penting, kini dan di masa yang akan datang.
Secara sufistik, pergantian tahun adalah mata ranti perjalanan batin manusia untuk dekat kepada Tuhan, atau semakin menjauhinya. Berarti bukan hanya perubahan angka dan waktu, tetapi sebagai amanah untuk memperhalus budi dan menyadari eksistensi diri sebagai bagian dari makhluk-Nya. Bukanlah tahun dan bulan baru yang patut kita rayakan, tetapi bergeraknya maqom kemanusiaan dari ego menjadi ikhlas, dari sekedar ritual menuju hakikat.
Jalaluddin Rumi, mengingatkan kita bahwa waktu tidak secara brutal memberi kita nasihat. Tetapi waktu akan memberikan pelajaran yang halus, agar manusia melepas secara perlahan menanggalkan sifat fujur bergerak perlahan dan pulang menuju hakikat takwa. Beberapa syair Rumi yang mewakili nasihat tersebut,
“Kemarin aku cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku mengubah diriku.”
Syair ini menjadi pengingat bahwa perubahan sejati tidak akan terjadi hanya dengan menaklukkan situasi di luar diri, melainkan sisi terdalam yang ada pada diri manusia.
Rumi menyambung nasihatnya,
“Mengapa engkau tetap terpenjara, padahal pintu terbuka? Lepaskan dirimu, waktu sedang mengajarimu pergi.”
Allah swt telah memberikan peringatan,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa jika kita ingin dunia menjadi lebih baik, maka kita harus terlebih dahulu melakukan perubahan dalam diri sendiri. Perubahan internal adalah titik awal segala perbaikan, sebab dunia luar tidak akan benar-benar berubah sebelum manusia berani menghadapi dan membenahi dirinya sendiri. Ketika seseorang berubah dari dalam, tindakannya menjadi lebih bermakna, pilihannya lebih bijak, dan langkahnya memiliki arah.
Bertumbuh atau Stagnan?
Bertumbuh atau stagnan? pertanyaan ini sangat mendasar karena tidak cukup hanya diucapkan, tetapi mencakup perencanaan hidup dan implementasi dari self improvement jangka panjang. WifiTalents (https://wifitalents.com) sebuah platform komprehensif yang menyediakan laporan berbasis data, berfokus pada data dan statistik pasar, melaporkan adanya sekitar 60% orang yang terlibat dalam kegiatan pengembangan diri mengalami peningkatan kebahagiaan. Serta lebih dari 80% orang Amerika percaya bahwa self improvement itu penting. Ini menunjukkan bahwa banyak orang ingin bertumbuh secara pribadi. Akan tetapi, dari data tersebut hanya sekitar 40% pelaku self improvement yang berhasil mencapai perubahan signifikan jangka panjang karena tantangan terbesar pertumbuhan adalah konsistensi.
Bertumbuh adalah proses perlahan dari waktu ke waktu, melalui akumulasi perubahan yang kecil namun berulang. Semua yang hidup, bergerak menuju eksistensinya yang utuh dan sempurna. Alquran memberikan pelajaran yang sempurna bagaimana proses bumi yang kering, dibasahi air hujan yang turun, maka kehidupan yang tumbuh darinya,
“Dan kamu melihat bumi itu kering, maka apabila Kami turunkan air kepadanya, hiduplah bumi itu dan suburlah serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (QS. Al-Hajj: 5).
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang tanah, tetapi juga pelajaran tentang kehidupan secara utuh. Sesuatu yang terlihat kering kerontang tak memberikan harapan hidup, ketika mendapatkan atau diberikan kesempatan untuk terus bertumbuh, maka ia akan tumbuh. Bertumbuh berarti rela berubah, karena telah mendapatkan pelajaran yang sempurna dari proses kehidupan yang tak mudah.
Memelihara Imajinasi dan Keyakinan
Daya pikiran melalui imajinasi manusia, menjadi energi yang sangat kuat untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan. Secara historis, kekuatan pikiran yang dizahirkan dalam doa telah dibuktikan oleh manusia agung dalam sejarah peradaban manusia, Nabi Ibrahim as. Dalam doa yang diabadikan pada QS. Al-Baqarah: 129,
“Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunnah) kepada mereka, dan menyucikan mereka.”
Doa ini kemudian terkabul dalam waktu 3.000-an tahun berikutnya dengan lahirnya Nabi Muhammad saw. Dari refleksi histori ini, kita belajar bagaimana mengelola keyakinan yang hampir menjadi mimpi, menjadi sebuah cita-cita besar dan mewujudkan suatu peradaban baru bagi umat Islam.
Imajinasi ibarat sebuah jendela, dimana pikiran manusia dapat menerawang berbagai kemungkinan yang belum ada. Manusia diberikan akal untuk memancangkan rencana dan memetakan masa depan yang tentu berbeda dengan kehidupan hari ini. Dalam kitab al-Nafs, Ibnu Sina menulis,
“Jiwa manusia menghimpun antara yang dapat dirasakan, dibayangkan, dan dipikirkan.”
Artinya, manusia memiliki daya untuk merencanakan dan mewujudkan apa yang dipikirkan melalui kreatifitas dan inovasinya. Namun imajinasi saja tidak cukup, namun diperlukan keyakinan. Keyakinan adalah sumber kekuatan, bahwa apa yang dipikirkan oleh manusia dapat diwujudkan.
Ketika imajinasi dan keyakinan berpadu, manusia akan mampu melampaui keterbatasan yang tampak, berani mengambil risiko, dan membuka jalan untuk pertumbuhan pribadi. Imajinasi menunjukkan apa yang mungkin, sedangkan keyakinan memastikan bahwa kemungkinan itu bisa menjadi kenyataan melalui usaha dan ketekunan. Jadi, kita memilih bertumbuh atau jumud?
Hadi Pajarianto
Pecinta Literasi
Apa Reaksi Anda?
