AI Bisa Membantu Belajar, Tapi Tidak Bisa Menggantikan Proses Mendidik
AI boleh semakin cerdas. Guru boleh semakin terbantu. Proses belajar boleh semakin cepat. Tetapi tujuan pendidikan tidak boleh berubah. Foto: Humas UIN Palopo.
Edukasi | hijaupopuler.id
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin dekat dengan kehidupan peserta didik. Mencari informasi, merangkum bahan bacaan, menerjemahkan teks, menyusun materi, membuat soal, hingga memberikan umpan balik kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi dalam waktu singkat.
Namun, kemudahan tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar bagi dunia pendidikan: ketika AI semakin mampu membantu manusia belajar, apakah teknologi juga mampu mendidik manusia?
Pertanyaan itu menjadi salah satu pokok diskusi dalam Seminar Pendidikan yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo di Auditorium Phinisi, Kampus II UIN Palopo, Selasa (8/9/2026) kemarin.
Mengangkat tema “Interkoneksi Pendidikan dan AI: Mendidik Manusia atau Mengajar Ledakan Teknologi?”, seminar tersebut mempertemukan mahasiswa, guru, dosen, dan tenaga pendidik untuk membicarakan posisi AI dalam proses pendidikan.
Persoalannya ternyata bukan lagi sekadar boleh atau tidak boleh menggunakan AI. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan tanpa membuat peserta didik kehilangan kemampuan berpikir, proses belajar, nilai, dan pengalaman kemanusiaannya.
AI jangan sampai membuat manusia berhenti berpikir
Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan UIN Palopo, Masruddin, yang bertindak selaku narasumber, menyoroti salah satu persoalan yang muncul ketika AI digunakan untuk menyelesaikan tugas akademik.
AI dapat membuat pekerjaan menjadi lebih cepat. Namun, pekerjaan yang selesai tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang telah memahami materi.
Karena itu, ia memperkenalkan pendekatan 6I dalam penggunaan AI untuk pembelajaran, yaitu Identify, Initiate, Interact, Inspect, Internalize, dan Introspect.
Identify berarti menetapkan tujuan sebelum menggunakan AI. Initiate mengajak pengguna mencoba dan berpikir secara mandiri terlebih dahulu. Selanjutnya, Interact dilakukan melalui dialog strategis dengan AI, kemudian Inspect dengan memeriksa dan menguji informasi yang diperoleh.
Tahap berikutnya adalah Internalize, yakni membangun pemahaman dari informasi yang diperoleh, lalu Introspect atau melakukan refleksi terhadap proses dan hasil penggunaan AI.
Pendekatan tersebut menempatkan AI bukan sebagai mesin yang memberikan jawaban akhir, melainkan sebagai mitra dalam proses berpikir.
Dengan cara itu, mahasiswa tidak berhenti pada pertanyaan “apa jawaban dari AI?”, tetapi bergerak lebih jauh menjadi “mengapa jawabannya demikian?”, “apa buktinya?”, dan “apakah saya benar-benar memahami jawabannya?”
Di sinilah proses pendidikan tetap membutuhkan manusia.
AI sebagai mitra, bukan pengganti guru
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Palopo, Syamsul Alam, melihat AI sebagai bagian dari perubahan yang tidak mungkin dihindari dunia pendidikan.
AI sudah digunakan dalam berbagai aktivitas belajar. Teknologi tersebut dapat membantu mencari informasi, membuat rangkuman, menerjemahkan teks, menyusun soal dan materi, memberikan umpan balik, bahkan menjadi tutor belajar pribadi.
Namun, penggunaan AI yang tidak terarah juga membawa sejumlah persoalan, mulai dari ketergantungan, keakuratan informasi, etika, hingga persoalan kemanusiaan.
Karena itu, menurut Syamsul, pertanyaan pendidikan hari ini bukan lagi apakah peserta didik akan menggunakan AI.
Pertanyaannya adalah bagaimana memastikan peserta didik menggunakan AI secara benar, kritis, aman, dan sesuai dengan nilai yang dianut.
Dalam konteks pendidikan, guru tetap memiliki posisi penting. Guru menentukan tujuan pembelajaran, nilai, konteks, sekaligus melakukan validasi terhadap materi yang digunakan. AI dapat membantu mencari ide, membuat variasi materi, melakukan simulasi, dan memberikan umpan balik.
Dengan pembagian peran tersebut, AI menjadi alat bantu, bukan pengganti guru.
PAI punya tantangan yang lebih kompleks
Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika AI digunakan dalam Pendidikan Agama Islam.
Direktur Pascasarjana UIN Palopo, Muhaemin, menjelaskan PAI tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan kepada peserta didik.
PAI memiliki dimensi kognitif berupa pemahaman terhadap Alquran, Hadis, Akidah, Fikih, Sejarah Islam, dan Akhlak. Namun, pendidikan agama juga menyentuh dimensi afektif, seperti keimanan, kesadaran, sikap, empati, dan tanggung jawab.
Lebih jauh lagi, PAI berhubungan dengan pembentukan kebiasaan ibadah, perilaku, akhlak, dan pengamalan nilai Islam.
Karena itu, kemampuan AI dalam menyediakan informasi tidak serta-merta membuat teknologi dapat mengambil alih seluruh proses pendidikan agama.
AI bisa memberikan informasi, tetapi pembentukan iman, karakter, adab, dan keteladanan tetap membutuhkan manusia dan pengalaman nyata.
Dalam perspektif pendidikan Islam, AI juga dapat ditempatkan sebagai wasilah atau sarana. Teknologi digunakan untuk membantu mencapai tujuan pendidikan, bukan menjadi tujuan pendidikan itu sendiri.
Tujuan akhirnya tetap membentuk manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Belajar dari AI, bukan menyerahkan pikiran kepada AI
Pemanfaatan AI dalam PAI sebenarnya membuka banyak peluang.
Dalam pembelajaran fikih, misalnya, AI dapat membantu peserta didik menemukan dan membandingkan berbagai pendapat. Tetapi jawaban AI tidak otomatis menjadi otoritas hukum.
Peserta didik tetap perlu memeriksa dalil, konteks, kitab atau sumber fikih, pendapat ulama, serta sumber resmi lembaga keagamaan. Di sinilah AI dapat digunakan untuk mendorong tabayyun dan berpikir kritis.
Hal yang sama dapat diterapkan dalam pembelajaran Akidah Akhlak.
AI dapat menghadirkan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik, terutama persoalan etika di ruang digital. Peserta didik kemudian diminta menganalisis persoalan, mempertimbangkan nilai dan akibatnya, sementara pendidik mengarahkan pembentukan sikap.
Dengan kata lain, AI menghadirkan situasi, tetapi pendidikan tetap membentuk karakter.
Guru tetap menjadi manusia yang mendidik manusia
Ketua Prodi PAI UIN Palopo, Andi Arif Pamessangi, menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh menggeser posisi guru dalam pendidikan.
“Guru menjadi motor utama pendidikan di Indonesia,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi penting di tengah perubahan teknologi yang membuat sebagian pekerjaan manusia dapat dilakukan mesin.
Sebab pendidikan bukan hanya persoalan memindahkan informasi dari satu sumber ke peserta didik. Pendidikan juga menyangkut bagaimana seseorang belajar berpikir, mengambil keputusan, membangun sikap, bertanggung jawab, memahami nilai, dan hidup bersama orang lain.
Hal-hal tersebut membutuhkan relasi manusia.
Karena itu, tantangan pendidikan di tengah ledakan AI bukan tentang siapa yang lebih cepat memberikan jawaban—manusia atau mesin.
Tantangannya adalah bagaimana manusia tetap mampu berpikir ketika mesin semakin mudah memberikan jawaban.
AI boleh semakin cerdas. Guru boleh semakin terbantu. Proses belajar boleh semakin cepat. Tetapi tujuan pendidikan tidak boleh berubah: membentuk manusia yang cerdas, beriman, berakhlak, kritis, dan bertanggung jawab.
Dan pada titik itulah, AI seharusnya berhenti menjadi pengganti manusia dan mulai ditempatkan sebagaimana mestinya: sebagai alat untuk membantu manusia menjadi lebih baik.
Apa Reaksi Anda?

