AI di Dunia Pendidikan: Teknologi Cerdas, Manusia Harus Tetap Berpikir

AI di Dunia Pendidikan: Teknologi Cerdas, Manusia Harus Tetap Berpikir

Teknologi boleh berkembang dengan sangat cepat, tetapi arah perkembangannya harus tetap dikendalikan oleh nilai kemanusiaan. Foto: Penulis.

Tren | hijaupopuler.id

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu perubahan teknologi yang paling berpengaruh terhadap kehidupan manusia saat ini. Kehadirannya telah merambah berbagai bidang, termasuk pendidikan. Dalam dunia akademik, AI dapat membantu mencari informasi, memahami materi, menyusun gagasan, membuat rancangan pembelajaran, hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan dalam waktu yang lebih singkat.

Kemudahan tersebut memberikan peluang besar bagi dunia pendidikan. Namun, pada saat yang sama, AI juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait kemampuan manusia dalam mempertahankan proses berpikir ketika sebagian aktivitas intelektual mulai dapat dilakukan oleh mesin.

Perkembangan AI merupakan sesuatu yang sulit dihindari. Teknologi ini akan terus berkembang dan semakin banyak digunakan dalam kehidupan manusia. Karena itu, persoalan utama bukan lagi sekadar boleh atau tidaknya seseorang menggunakan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan secara tepat dan bertanggung jawab.

AI memiliki kemampuan untuk mempercepat berbagai pekerjaan. Dalam kegiatan pembelajaran, mahasiswa dan guru dapat memanfaatkannya untuk menemukan informasi awal, memahami konsep tertentu, mencari alternatif gagasan, maupun membantu menyusun materi. Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat pengguna kehilangan peran sebagai manusia yang berpikir dan mengambil keputusan.

Penggunaan AI secara berlebihan dapat menimbulkan ketergantungan. Seseorang mungkin memperoleh jawaban dengan cepat, tetapi belum tentu memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh. Jika kebiasaan itu terus berlangsung, kemampuan membaca, menganalisis, mempertanyakan informasi, dan menyelesaikan masalah secara mandiri berpotensi mengalami penurunan.

Karena itu, AI seharusnya digunakan untuk mendukung proses belajar, bukan menggantikan proses belajar itu sendiri.

AI dan Pentingnya Proses Berpikir

Konsep 6I menjadi salah satu bagian dari cara pandang dalam menggunakan AI. Konsep tersebut pada dasarnya mengarahkan pengguna agar tidak berhenti pada kemampuan memperoleh informasi dari teknologi, tetapi tetap melibatkan proses berpikir dan evaluasi manusia.

AI dapat memberikan berbagai kemungkinan jawaban, tetapi pengguna tetap harus memahami, memeriksa, dan menilai informasi tersebut sebelum menjadikannya sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dengan demikian, kecerdasan manusia tetap menjadi unsur utama. Mesin dapat bekerja dengan cepat, tetapi manusia yang harus menentukan apakah hasilnya benar, sesuai kebutuhan, relevan dengan konteks, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Orang yang mampu memanfaatkan AI secara bijak akan memiliki peluang untuk berkembang. Sebaliknya, penggunaan teknologi tanpa kontrol justru dapat membuat seseorang semakin pasif dalam belajar.

AI sebagai Mitra dalam Pembelajaran

Syamsul Alam menjelaskan bahwa teknologi AI dapat memberikan manfaat bagi guru maupun peserta didik. Guru dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan bahan ajar, mencari informasi, merancang kegiatan pembelajaran, serta memperoleh berbagai alternatif metode. Sementara itu, peserta didik dapat menggunakan AI sebagai alat bantu untuk memahami materi, memperluas wawasan, dan menemukan informasi pendukung.

Namun, penggunaan AI dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki karakteristik tersendiri. PAI tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga bertujuan membentuk karakter, akhlak, sikap, dan pemahaman terhadap nilai-nilai agama. Karena itu, AI tidak dapat ditempatkan sebagai pengganti guru.

Seorang guru memiliki kemampuan untuk memahami kondisi peserta didik secara langsung. Guru dapat memberikan keteladanan, membangun komunikasi, menanamkan nilai, memberikan arahan, serta menciptakan hubungan manusiawi dalam proses pembelajaran. Hal-hal tersebut tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sistem AI.

Teknologi dapat memberikan informasi, tetapi manusia tetap diperlukan untuk memberikan makna dan mengarahkan penerapan informasi tersebut.

Literasi Digital dan Berpikir Kritis

Pemahaman terhadap cara kerja AI juga menjadi hal penting. AI bekerja melalui proses yang melibatkan data, pengolahan data, pemilihan metode atau algoritma, pelatihan model, serta evaluasi terhadap hasil. Oleh sebab itu, jawaban AI tidak dapat dianggap selalu benar. Hasil yang diberikan sangat bergantung pada data dan sistem yang digunakan.

Dalam konteks pendidikan, kondisi tersebut menuntut adanya kemampuan literasi digital dan berpikir kritis. Peserta didik harus dibiasakan memeriksa informasi yang diperoleh dari AI dengan membandingkannya terhadap sumber-sumber yang dapat dipercaya.

Guru juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pemahaman bahwa AI adalah alat bantu, bukan sumber kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan.

Pendidik tidak cukup hanya melarang peserta didik menggunakan AI. Yang lebih penting adalah memberikan pemahaman mengenai cara menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab. Dengan demikian, peserta didik dapat memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir secara mandiri.

Teknologi Harus Tetap Berpijak pada Nilai Kemanusiaan

Pembahasan mengenai AI pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga hubungan antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan.

Perkembangan AI perlu disertai tanggung jawab agar penggunaannya tetap memberikan manfaat bagi manusia. Kemajuan teknologi tidak cukup dinilai berdasarkan seberapa cepat atau canggih suatu sistem bekerja, tetapi juga berdasarkan dampaknya terhadap kehidupan manusia.

Penggunaan AI yang bertanggung jawab dapat dikaitkan dengan sejumlah nilai dalam perspektif Islam. Nilai sidq berkaitan dengan kejujuran dan keterbukaan, amanah berkaitan dengan tanggung jawab, ‘adl berkaitan dengan keadilan, sedangkan ihsan menekankan pada kemanfaatan dan kebaikan.

Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak dapat dipisahkan dari persoalan moral.

Dalam konteks Indonesia, pemanfaatan AI juga perlu memperhatikan nilai kemanusiaan dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila. Artinya, teknologi seharusnya tidak hanya diarahkan untuk mengejar efisiensi dan produktivitas, tetapi juga memperhatikan keadilan, keamanan, tanggung jawab, serta kepentingan manusia.

AI pada dasarnya hanyalah sebuah alat. Baik atau buruknya dampak AI sangat bergantung pada manusia yang menggunakannya. Karena itu, semakin besar kemampuan teknologi, semakin besar pula kebutuhan manusia untuk memiliki tanggung jawab moral dalam mengendalikannya.

AI dalam Pembelajaran Fikih

Salah satu penerapan AI yang menarik dapat ditemukan dalam pembelajaran fikih. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa mencari informasi, mengenali berbagai pendapat ulama, serta membandingkan pandangan dalam suatu persoalan hukum Islam. Hal tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperluas wawasan dan menemukan bahan diskusi.

Namun, jawaban yang diberikan AI tidak dapat langsung dianggap sebagai keputusan hukum. Informasi tersebut tetap perlu diperiksa melalui sumber yang terpercaya, dalil yang relevan, metode pengambilan hukum, serta konteks persoalan yang sedang dibahas.

Dalam hal ini, peran pendidik tetap sangat penting untuk mengarahkan dan menguji informasi yang diperoleh.

Penggunaan AI dalam pembelajaran fikih justru dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa tidak hanya dituntut menemukan sebuah jawaban, tetapi juga harus mampu mempertanyakan dasar dari jawaban tersebut.

Dengan cara itu, AI dapat membantu memperkaya proses pembelajaran tanpa menghilangkan peran guru dan tradisi keilmuan Islam.

Mendidik Manusia atau Mengejar Ledakan Teknologi?

AI memiliki potensi besar untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan. Teknologi dapat memperluas akses terhadap informasi, mempercepat pekerjaan, membantu guru menyiapkan pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh sumber belajar yang lebih beragam.

Namun, kemajuan tersebut juga membawa risiko apabila manusia terlalu bergantung pada teknologi. Pendidikan dapat kehilangan maknanya apabila keberhasilan belajar hanya diukur berdasarkan kemampuan menghasilkan jawaban dengan cepat.

Padahal, pendidikan memiliki tujuan yang jauh lebih luas, yaitu membentuk manusia yang mampu berpikir, memiliki karakter, memahami nilai, bersikap kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Karena itu, pertanyaan “Mendidik Manusia atau Mengejar Ledakan Teknologi?” menjadi penting untuk direnungkan.

Pendidikan tidak seharusnya mengikuti perkembangan teknologi hanya karena teknologi tersebut sedang berkembang pesat. Sebaliknya, teknologi harus ditempatkan sebagai sarana yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

AI memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara tepat, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan apabila manusia menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Penggunaan AI yang bijak berarti mampu memanfaatkan teknologi sekaligus mempertahankan kemampuan manusia untuk membaca, memahami, memverifikasi, menganalisis, dan mengambil keputusan.

Dalam Pendidikan Agama Islam, prinsip tersebut menjadi semakin penting karena pendidikan tidak hanya berhubungan dengan pengetahuan, tetapi juga menyangkut akhlak, adab, nilai, dan pembentukan karakter.

AI dapat membantu manusia menemukan jawaban, tetapi pendidikan harus tetap membentuk manusia yang mampu memahami dan mempertanggungjawabkan jawaban tersebut.

Teknologi boleh berkembang dengan sangat cepat, tetapi arah perkembangannya harus tetap dikendalikan oleh nilai kemanusiaan. Dengan demikian, AI bukan menjadi pengganti manusia dalam pendidikan, melainkan menjadi mitra yang membantu manusia belajar, berpikir, dan berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.

--

Rahma Wanti Sabori
Mahasiswi Prodi Pendidikan Agama Islam UIN Palopo

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow