Dari Bahasa Wotu hingga Kurikulum OBE, Ini Kiprah UIN Palopo sepanjang Oktober 2026

Dari Bahasa Wotu hingga Kurikulum OBE, Ini Kiprah UIN Palopo sepanjang Oktober 2026
Dari Bahasa Wotu hingga Kurikulum OBE, Ini Kiprah UIN Palopo sepanjang Oktober 2026
Dari Bahasa Wotu hingga Kurikulum OBE, Ini Kiprah UIN Palopo sepanjang Oktober 2026
Dari Bahasa Wotu hingga Kurikulum OBE, Ini Kiprah UIN Palopo sepanjang Oktober 2026

Kontribusi kampus diukur melalui keterlibatan nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat, merawat warisan lokal, dan meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan. Foto: Humas UIN Palopo.

Kabar | hijaupopuler.id

Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo menunjukkan kontribusinya dalam pelestarian budaya lokal, kepedulian lingkungan, penguatan literasi, dan peningkatan mutu akademik melalui sejumlah kegiatan sepanjang 5–15 Oktober 2026. Rangkaian aktivitas tersebut melibatkan pimpinan universitas, organisasi mahasiswa, unit penunjang akademik, serta lembaga penjaminan mutu.

Berbagai kegiatan memperlihatkan peran perguruan tinggi selain berlangsung di ruang kelas, juga melalui keterlibatan dalam persoalan masyarakat, pelestarian warisan budaya, pengembangan budaya membaca, dan pembenahan sistem pembelajaran.

Pada Senin (5/10/2026), Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Palopo, Masruddin, menjadi narasumber dalam Diskusi Budaya bertema “Menggali Kearifan Lokal untuk Memperkuat Identitas Budaya” di Hotel Remaja, Masamba, Kabupaten Luwu Utara. Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan RI bersama DPR RI itu membahas pentingnya menjaga warisan budaya lokal. Dalam pemaparannya, Masruddin menyoroti ancaman terhadap keberlangsungan bahasa daerah, khususnya bahasa Wotu yang menurut data dalam presentasinya memiliki kurang dari 100 penutur, sebagian besar berusia di atas 50 tahun.

Ia juga mengangkat kekayaan budaya Tana Luwu, mulai dari tenun ikat sakral Rongkong, Tari Sumango, ritual Macera Tasi, Tari Pajjaga, hingga bahasa Wotu. Upaya pelestarian yang dipaparkan mencakup penelitian, penyusunan buku trilingual, penulisan buku Wotu di Persimpangan Jalan, pengembangan aplikasi, dan kajian ekolinguistik. Menurutnya, pelestarian bahasa membutuhkan keterlibatan pemerintah, keluarga, masyarakat, dan perguruan tinggi agar pengetahuan serta identitas budaya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Berikutnya, pada Sabtu (10/10/2026), Unit Kegiatan Khusus Mahasiswa Pecinta Alam (UKK Mapala) UIN Palopo menggelar penanaman mangrove di Pantai Songka, Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo. Kegiatan bertema “Menanam Kehidupan, Merawat Ciptaan, Gerakan Ekoteologi untuk Bumi Berkelanjutan” itu melibatkan sekira 20-an anggota Mapala dan mendapat dukungan Kelompok Konservasi Lawarani. Aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian kawasan pesisir dan keberlanjutan ekosistem.

Ketua Umum UKK Mapala UIN Palopo, Rifki, menjelaskan pendekatan ekoteologi menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia dalam merawat alam. Karena itu, penanaman mangrove diharapkan tidak berhenti pada penanaman bibit, tetapi dilanjutkan dengan perawatan dan pemantauan pertumbuhan agar manfaatnya bagi lingkungan pesisir dapat berkelanjutan.

Pada Senin (12/10/2026), UPA Perpustakaan UIN Palopo menerima kunjungan edukatif 40 siswi SMPIT Insan Madani Palopo bersama dua guru pendamping. Para siswi mendapatkan pengenalan fasilitas, koleksi, layanan, dan tata tertib perpustakaan, sekaligus mengikuti pemaparan materi hadis yang disampaikan dosen UIN Palopo, M Zuhri Abu Nawas. Kegiatan ini memperkenalkan perpustakaan perguruan tinggi sebagai ruang belajar yang dapat dimanfaatkan pelajar untuk memperluas wawasan.

Kepala UPA Perpustakaan UIN Palopo, Zainuddin S, mengapresiasi kunjungan tersebut dan berharap kegiatan serupa dapat mendorong tumbuhnya minat baca di kalangan generasi muda. Melalui pengenalan layanan perpustakaan yang dipadukan dengan pembelajaran keagamaan, kunjungan ini diharapkan memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam bagi para siswi.

Sementara itu, pada 13–15 Oktober 2026, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Palopo melaksanakan Bimbingan Teknis Integrasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dalam kurikulum Outcome-Based Education (OBE) melalui platform SEVIMA. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Gedung LPM, Kampus I UIN Palopo, ini melibatkan ketua dan sekretaris program studi serta Gugus Kendali Mutu (GKM), dengan pendampingan jajaran LPM dan UPA Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (TIPD).

Ketua LPM UIN Palopo, Muammar Arafat Yusmad, menjelaskan integrasi CPL dan CPMK diperlukan untuk menyelaraskan profil lulusan, capaian pembelajaran, mata kuliah, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Melalui kegiatan ini, program studi diharapkan mampu mengukur ketercapaian pembelajaran secara lebih sistematis, mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki, serta menjadikan evaluasi sebagai dasar peningkatan mutu lulusan secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan beragam bentuk kontribusi UIN Palopo, mulai dari menjaga identitas budaya lokal dan merawat ekosistem pesisir hingga membuka akses pembelajaran bagi pelajar serta memperkuat tata kelola akademik. Meski memiliki fokus berbeda, seluruh kegiatan dinilai menempatkan pengetahuan, kepedulian sosial, dan keberlanjutan sebagai bagian penting dari peran perguruan tinggi.

Dengan demikian kontribusi kampus diukur melalui keterlibatan nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat, merawat warisan lokal, dan meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow