Kemarau Panjang Adalah Teguran
Ketika kemarau panjang datang, barangkali yang perlu kita benahi bukan hanya cara memperoleh air, melainkan juga cara memperlakukan bumi yang selama ini menopang kehidupan kita. Ilustrasi/foto: pennyu.co.id dan penulis.
Perspektif | hijaupopuler.id
Musim kemarau panjang yang kita hadapi saat ini membawa dampak yang semakin dirasakan masyarakat. Bukan hanya gagal panen, kekurangan air bersih pun mulai terjadi. Untuk mendapatkan air, banyak warga bahkan harus begadang demi menunggu kesempatan memperoleh sumber air yang masih tersedia.
Lantas, bagaimana Islam mengajarkan pemeluknya menghadapi situasi seperti ini?
Dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Ikhlas Polres Palopo pekan lalu, kawan saya, Ustas Ilham MAg, menjelaskan hal tersebut secara singkat. Beliau mengutip sebuah riwayat tentang Imam Hasan Al-Basri, seorang ulama dari generasi setelah sahabat Nabi saw yang disebut sebagai murid Anas bin Malik.
Dikisahkan, ketika Hasan Al-Basri sedang mengajar murid-muridnya, datanglah tiga orang dari kampung yang berbeda. Masing-masing mengadukan persoalan hidup yang sedang mereka hadapi.
Orang pertama mengeluhkan kemarau panjang yang melanda kampungnya.
“Wahai Imam, apa yang harus kami lakukan? Kampung kami sedang dilanda kemarau panjang. Kami kesulitan mendapatkan air bersih, sementara tanaman-tanaman mulai mati.”
Hasan Al-Basri menjawab, “Segeralah kembali ke kampungmu dan perbanyak istighfar.”
Orang kedua kemudian menyampaikan persoalannya.
“Wahai Imam, saya sedang terlilit utang. Apa yang harus saya lakukan, sementara saat ini saya belum sanggup membayarnya?”
Jawaban sang Imam tetap sama, “Segeralah kembali ke rumahmu dan perbanyak istighfar.”
Berikutnya, orang ketiga mengungkapkan kegelisahannya karena belum dikaruniai keturunan.
“Wahai Imam, saya belum memiliki anak. Padahal, saya sudah lama menikah dan telah mencoba berbagai ramuan.”
Hasan Al-Basri kembali memberikan jawaban yang sama, “Kembalilah ke rumahmu dan perbanyak istighfar.”
Tiga orang datang dengan persoalan yang berbeda, tetapi ketiganya memperoleh jawaban serupa: memperbanyak istighfar.
Rupanya, istighfar bukan hanya tentang memohon ampun atas dosa-dosa, melainkan juga menjadi jalan untuk mengharapkan keberkahan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Penjelasan Ustaz Ilham tersebut merujuk pada kandungan Al-Qur’an, khususnya Surah Nuh ayat 10–12.
Dalam ayat-ayat tersebut, Nabi Nuh as mengajak kaumnya untuk senantiasa memohon ampun kepada Allah swt. Di dalamnya juga disebutkan janji-Nya bagi mereka yang beristighfar: diturunkannya hujan yang lebat, dilimpahkannya harta dan keturunan, serta dianugerahkannya kebun-kebun yang subur dan sungai-sungai yang mengalir.
Lantas, apa kaitan antara kemarau panjang dan permohonan ampun kepada Allah swt?
Dalam pandangan Islam, kemarau panjang dan berbagai bencana dapat menjadi teguran bagi manusia untuk merenungkan kembali perilakunya. Ketidakadilan dan keserakahan dalam memperlakukan bumi menjadi salah satu persoalan yang patut kita evaluasi bersama.
Salah satu contohnya adalah deforestasi atau penggundulan hutan. Ketika masih duduk di bangku sekolah, kita diajarkan bahwa pohon berfungsi menyimpan air di dalam tanah sekaligus melepaskan uap air ke atmosfer melalui proses transpirasi. Proses ini turut berperan dalam siklus air dan pembentukan awan hujan.
Namun, ketika hutan digunduli untuk membuka lahan perkebunan sawit, pertambangan, atau permukiman, persoalan lingkungan pun muncul. Berkurangnya tutupan hutan dapat mengganggu kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air serta memengaruhi siklus hidrologi. Akibatnya, ketersediaan cadangan air dapat berkurang dan risiko kekeringan semakin besar.
Di sinilah kita perlu melihat persoalan kemarau panjang bukan hanya dari sisi alamiah, tetapi juga dari sisi perilaku manusia dalam menjaga lingkungan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Ikhtiar spiritual yang dapat ditempuh adalah memperbanyak istighfar dan bertobat kepada Allah swt. Istighfar mengajak kita menyadari kesalahan, memohon ampun, dan memperbaiki diri. Namun, kesadaran tersebut semestinya juga diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk menghentikan perusakan lingkungan dan menjaga kelestarian hutan serta sumber air.
Dengan demikian, memperbanyak istighfar tidak berhenti sebagai ucapan di lisan, tetapi juga menjadi dorongan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah swt, sesama manusia, dan alam.
Sebagaimana kandungan Surah Nuh ayat 10–12 mengingatkan kita tentang janji keberkahan bagi mereka yang memohon ampun kepada-Nya, kita pun patut terus berharap agar hujan kembali turun dan bumi kembali subur. Pada saat yang sama, menjaga alam merupakan bagian dari ikhtiar agar sumber-sumber kehidupan tetap terpelihara.
Sebab, ketika kemarau panjang datang, barangkali yang perlu kita benahi bukan hanya cara memperoleh air, melainkan juga cara memperlakukan bumi yang selama ini menopang kehidupan kita.
Wallahu a’lam.
Nurdin
Mahasiswa Program S3 UIN Palopo
Apa Reaksi Anda?

