Dari Sampah Menjadi Berkah: Rumah dan Pesantren Jadi Titik Awal Ekonomi Sirkular
Sampah yang sebelumnya hanya berakhir di tempat pembuangan dapat diberi kesempatan untuk kembali memiliki fungsi. Foto: UIN Saizu Purwokerto.
Edukasi | hijaupopuler.id
Sampah sering kali hadir sebagai persoalan sehari-hari yang dianggap sederhana. Ia muncul dari dapur, rumah tangga, hingga lingkungan pesantren. Ketika tidak dikelola dengan baik, sampah menjadi beban bagi lingkungan. Namun, ketika cara pandang diubah, sesuatu yang selama ini dianggap harus dibuang justru dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai.
Gagasan itulah yang mengemuka dalam Workshop Pelatihan “Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkular” di Madrasah Pondok Pesantren Anwarul Hidayah, Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jateng, Sabtu (19/9/2026) kemarin.
Mengangkat tema “Dari Sampah Menjadi Berkah: Membangun Ekonomi Sirkular dari Rumah dan Pesantren,” kegiatan tersebut menjadi bagian dari KKN Tematik Angkatan 58 Kelompok 8 UIN Saizu Purwokerto.
Workshop ini mempertemukan dua kelompok yang memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan baru mengelola sampah, yakni ibu-ibu PKK dan para santri Pondok Pesantren Anwarul Hidayah.
Terungkap, dari rumah, perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Sementara di pesantren, kebiasaan tersebut dapat tumbuh menjadi budaya bersama yang dipelajari, dipraktikkan, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selama ini, persoalan sampah bukan hanya soal banyaknya volume yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana sampah diperlakukan sejak dari sumbernya. Ketika sampah bercampur dan langsung dibuang, berbagai material yang sebenarnya masih memiliki nilai ikut kehilangan peluang untuk dimanfaatkan kembali.
Di sinilah konsep ekonomi sirkular menemukan relevansinya.
Melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R), masyarakat didorong untuk mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta mendaur ulang material agar memiliki fungsi dan nilai baru.
Dengan cara pandang tersebut, sampah tidak berhenti sebagai limbah. Ia dapat masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan, sekaligus membuka peluang ekonomi di tingkat masyarakat.
Mengenali sampah sebelum mengubahnya menjadi berkah
Workshop menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi.
Seia Piantara membawakan materi “Kenali Sampahmu: Membangun Kesadaran dan Budaya Peduli Lingkungan.” Materi ini mengajak peserta mengenali jenis dan dampak sampah, memahami persoalan pengelolaan sampah di lingkungan pesantren, serta membangun kebiasaan sederhana yang dapat dimulai dari rumah, dapur, dan lingkungan sekitar.
Sementara itu, Ubaidillah menyampaikan materi “Sampah Jadi Berkah: Peluang Ekonomi Sirkular bagi Masyarakat dan Pesantren.”
Pembahasan diarahkan pada cara sederhana memahami konsep ekonomi sirkular, melihat sampah sebagai sumber daya, mengenal bank sampah, hingga menggali berbagai ide usaha yang dapat dikembangkan melalui pengelolaan sampah.
Dengan demikian, pembicaraan mengenai sampah tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Ada pertanyaan lain yang mulai dibuka: apa yang bisa dilakukan agar sampah memiliki nilai guna dan bahkan nilai ekonomi?
Dari kebiasaan kecil menuju gerakan bersama
Kegiatan tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga diberi ruang untuk berdiskusi dan membicarakan persoalan nyata yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini membuat ekonomi sirkular tidak sekadar menjadi istilah akademik. Ia mulai diterjemahkan ke dalam tindakan sederhana yang dapat dilakukan dari lingkungan terdekat.
Bagi ibu-ibu PKK, perubahan dapat dimulai dari rumah. Memilah sampah sejak awal, mengurangi barang sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta memisahkan material yang dapat didaur ulang merupakan langkah kecil yang dapat dilakukan secara konsisten.
Sementara bagi para santri, pesantren dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun budaya hidup bersih, mandiri, dan produktif.
Jika kebiasaan tersebut dilakukan bersama dan berkelanjutan, sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi material yang memiliki manfaat. Bahkan, dalam skala tertentu, pengelolaannya dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif.
Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah workshop. Ada kebiasaan baru yang tumbuh setelah kegiatan berakhir: masyarakat semakin terbiasa memilah sampah, pesantren memiliki budaya pengelolaan sampah yang lebih baik, dan muncul rintisan usaha produktif yang bersumber dari pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga maupun pesantren.
Pada akhirnya, “Dari Sampah Menjadi Berkah” bukan sekadar slogan. Ia adalah ajakan untuk mengubah cara pandang.
Rumah menjadi titik awal. Pesantren menjadi ruang pembelajaran. Masyarakat menjadi penggerak.
Ketika ketiganya berjalan bersama, menjaga lingkungan tidak harus berjarak dengan membangun kemandirian ekonomi. Sampah yang sebelumnya hanya berakhir di tempat pembuangan dapat diberi kesempatan untuk kembali memiliki fungsi.
Dari situlah ekonomi sirkular dapat tumbuh—dimulai dari kebiasaan kecil, bergerak dari rumah dan pesantren, lalu berkembang menjadi gerakan masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Apa Reaksi Anda?

