Mahasiswa KKN UIN Palopo Dorong Kepedulian Lingkungan dan Pemanfaatan Potensi Lokal di Luwu Raya

Mahasiswa KKN UIN Palopo Dorong Kepedulian Lingkungan dan Pemanfaatan Potensi Lokal di Luwu Raya
Mahasiswa KKN UIN Palopo Dorong Kepedulian Lingkungan dan Pemanfaatan Potensi Lokal di Luwu Raya
Mahasiswa KKN UIN Palopo Dorong Kepedulian Lingkungan dan Pemanfaatan Potensi Lokal di Luwu Raya

Terlihat pola pengabdian yang menempatkan potensi lokal sebagai titik awal pemberdayaan masyarakat, dimana sampah diolah menjadi media edukasi dan karya kreatif, hasil pertanian dikembangkan sebagai alternatif pangan, lahan dimanfaatkan untuk tanaman herbal, dan kawasan alam kembali diperkenalkan sebagai potensi wisata. Foto: Humas UIN Palopo.

Edukasi | hijaupopuler.id

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo mengembangkan berbagai program berbasis potensi lokal masyarakat di sejumlah wilayah penempatan. Program tersebut mencakup edukasi pengelolaan sampah, diversifikasi pangan, penanaman tanaman herbal, hingga upaya menghidupkan kembali potensi wisata alam desa.

Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan melalui program mahasiswa KKN di Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur. Masing-masing kelompok mengembangkan kegiatan sesuai kebutuhan serta potensi yang ditemukan di lokasi pengabdian.

Di Desa Sumber Agung, Kecamatan Kalaena, Kabupaten Luwu Timur, mahasiswa KKN menggelar program Edukasi Gerbang Sampah dan Kreasi Hijau di SD Negeri 151 Kalaena Kiri, Kamis (10/9/2026).

Sekira 23 siswa mengikuti kegiatan yang mengenalkan berbagai jenis sampah, cara memilahnya, serta barang bekas yang masih dapat dimanfaatkan kembali. Para siswa juga diajak melihat bagaimana barang bekas dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai guna melalui kreativitas.

Penanggung jawab kegiatan, Elsa Dwiyanti, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa memberikan edukasi lingkungan kepada anak-anak.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap anak-anak tidak hanya mengetahui jenis-jenis sampah, tetapi juga memahami bahwa sampah tertentu masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.

Sementara itu, di Desa Sidobinangun, Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, mahasiswa KKN Kelompok 54 UIN Palopo mengembangkan program yang mengangkat potensi hasil pertanian lokal.

Melalui Lomba Masak Hasil Tani Nonberas, Selasa (29/9/2026), masyarakat diajak mengenal dan mengolah berbagai bahan pangan lokal sebagai alternatif selain beras. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Desa Sidobinangun tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Tani Nasional 2026.

Perwakilan dari tiga dusun mengikuti lomba dengan mengolah sejumlah hasil pertanian lokal, antara lain jagung, ubi, kimpul, dan bunga telang, menjadi berbagai makanan dan minuman.

Kelompok ibu-ibu dan perempuan dari masing-masing dusun tidak hanya ditantang menghadirkan cita rasa yang baik, tetapi juga menu dengan kandungan gizi serta penyajian yang menarik. Penilaian dilakukan oleh dewan juri dari Puskesmas Tana Lili, Bidan Desa Sidobinangun, dan sejumlah guru SMAN 12 Luwu Utara.

Tokoh perempuan setempat, Hermina, menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat karena memperkenalkan bahan pangan alternatif kepada masyarakat.

“Dengan adanya kegiatan ini sangat bermanfaat, karena misalnya ada masyarakat yang tidak memiliki beras, mereka tetap dapat membuat menu makanan dengan menggunakan bahan pokok lainnya,” ungkapnya.

Upaya penguatan kepedulian lingkungan juga dilakukan mahasiswa KKN Kelompok 54 ini melalui program SEPEDA (Sekolah Peduli Lingkungan) bersama Forum Peduli Sidobinangun.

Program yang berlangsung sejak akhir September hingga Jumat (2/10/2026) itu menyasar pelajar dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Desa Sidobinangun.

Rangkaian SEPEDA diawali dengan penanaman Apotek Hidup di SMA Negeri 12 Luwu Utara, Jumat (25/9/2026). Kegiatan tersebut mengenalkan manfaat tanaman herbal sekaligus pemanfaatan lahan untuk aktivitas yang bernilai ekologis dan edukatif.

Sehari berikutnya, mahasiswa melaksanakan edukasi tentang sampah dan lingkungan di SD Negeri 229 Sidobinangun. Materi yang diberikan mencakup pentingnya menjaga kebersihan, pengelolaan sampah, serta dampak sampah terhadap kehidupan sehari-hari.

Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan Lomba Daur Ulang Sampah Anorganik “Waste to Worth” yang diikuti 10 kelas X hingga XII SMA Negeri 12 Luwu Utara.

Para siswa ditantang mengolah sampah anorganik menjadi karya kreatif yang memiliki nilai guna dan estetika. Penilaian meliputi kreativitas, inovasi, pemanfaatan bahan bekas, nilai manfaat karya, serta kemampuan peserta mempresentasikan hasilnya.

Ketua OSIS SMA Negeri 12 Luwu Utara, Fajar Zaky, mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam memanfaatkan sampah.

“Melalui kegiatan ini, siswa dapat mengumpulkan sampah dan mendaur ulangnya menjadi bahan yang lebih berguna,” ujarnya.

Program berbeda dikembangkan mahasiswa KKN Posko 30 Kelompok T02-03 Desa Pengkendekan, Dusun Balannalu, Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara. Mereka memilih Wisata Limbong Dewata sebagai salah satu program kerja utama.

Limbong Dewata merupakan kawasan alam pegunungan yang memiliki panorama serta kolam di kawasan atas gunung. Bagi masyarakat Balannalu, kawasan tersebut sebelumnya menjadi salah satu lokasi rekreasi, tetapi disebut mulai kurang terawat setelah terakhir ramai dikunjungi pada 2022.

Atas kebutuhan masyarakat untuk kembali merawat dan memanfaatkan kawasan tersebut, mahasiswa KKN Posko 30 membuka kembali jalur menuju Limbong Dewata sekaligus melakukan langkah awal untuk menghidupkan kembali kawasan wisata itu.

Kepala Dusun Balannalu, Muh Aswan, mengapresiasi pilihan mahasiswa KKN menjadikan Limbong Dewata sebagai program kerja utama.

“Di kondisi kami yang sangat terbatas, mereka menjadikan Wisata Limbong Dewata sebagai proker besar mereka,” ujarnya, Sabtu (3/10/2026) kemarin.

Menurut Aswan, kawasan Limbong Dewata merupakan bagian dari lingkungan alam yang selama ini dijaga masyarakat. Kehadiran mahasiswa KKN dinilai memberikan dorongan baru agar kawasan tersebut kembali diperhatikan dan dimanfaatkan.

Bagi mahasiswa KKN Posko 30, pengembangan Limbong Dewata juga berkaitan dengan tema KKN yang mengusung semangat ekoteologi dan desa ramah lingkungan. Program tersebut diarahkan tidak hanya untuk memperkenalkan kembali potensi wisata, tetapi juga membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kawasan alam.

Berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan pola pengabdian yang menempatkan potensi lokal sebagai titik awal pemberdayaan masyarakat. Sampah diolah menjadi media edukasi dan karya kreatif, hasil pertanian dikembangkan sebagai alternatif pangan, lahan dimanfaatkan untuk tanaman herbal, sementara kawasan alam kembali diperkenalkan sebagai potensi wisata.

Melalui pendekatan edukasi, kreativitas dan kolaborasi bersama masyarakat, mahasiswa KKN UIN Palopo turut membangun ruang pembelajaran yang berlangsung langsung di tengah kehidupan desa.

Keberlanjutan berbagai program tersebut pada akhirnya tidak hanya bergantung pada masa pelaksanaan KKN, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat untuk meneruskan kebiasaan mengelola lingkungan, memanfaatkan potensi pangan lokal, serta menjaga kawasan alam agar tetap dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow