Semangat Menuntut Ilmu Dalam Dunia Akademik

Semangat Menuntut Ilmu Dalam Dunia Akademik

"Jika Allah berkehendak menghinakan seseorang, maka Allah jadikan ia tidak semangat dalam mencari ilmu," sebuah ungkapan ulama Hasan Al-Bashri. Foto: fu.uinib.ac.id

Edukasi | hijaupopuler.id

Dalam kehidupan seorang Muslim, ilmu memiliki posisi yang sangat penting. Ilmu tidak hanya menjadi sarana untuk memahami agama, tetapi juga menjadi kunci dalam membangun peradaban.

Dr Muhammad Ash-Shiddiqy, seorang ulama dan pendidik yang dikenal dengan ketekunan dan kegigihannya dalam mengajarkan ilmu, menekankan pentingnya kesungguhan dalam menuntut ilmu. Ia menukil perkataan Hasan Al-Bashri:  

"Jika Allah berkehendak menghinakan seseorang, maka Allah jadikan ia tidak semangat dalam mencari ilmu."

Pernyataan ini bukan sekadar nasihat biasa, tetapi menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang merasa malas dalam menuntut ilmu. Ilmu adalah anugerah dari Allah swt yang harus dicari dengan penuh kesungguhan, bukan sekadar formalitas akademik semata.

Dalam dunia akademik, semangat menuntut ilmu seringkali mengalami pasang surut. Di tengah arus digitalisasi dan kemudahan akses informasi, banyak orang justru mengalami kemunduran dalam belajar. Distraksi dari media sosial, kemudahan mendapatkan informasi instan tanpa mendalami sumbernya, serta gaya hidup serba cepat telah membuat banyak orang kehilangan esensi dalam menuntut ilmu.  

Ash-Shiddiqy menegaskan bahwa dalam era modern ini, penting bagi untuk selalu belajar (ngaji), mengajar (mulang), serta menghidupkan ilmu syari'at serta pengetahuan Islam dengan niatan untuk diamalkan.

Hal ini sejalan dengan tradisi para ulama terdahulu yang tidak hanya mengejar ilmu untuk pengetahuan semata, tetapi juga untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.  

Kita sering melihat bagaimana mahasiswa atau akademisi terjebak dalam zona nyaman setelah meraih gelar tertentu. Banyak yang berpikir bahwa pencapaian akademik merupakan puncak perjalanan intelektual.

Padahal semakin dalam seseorang menyelami ilmu, semakin ia merasa banyak hal yang belum ia ketahui. Inilah hakikat dari ilmu: semakin dipelajari, semakin terasa luas cakrawalanya.  

Salah satu pesan mendalam dari Muhammad Ash-Shiddiqy adalah bahwa ilmu tidak hanya untuk dikumpulkan, tetapi juga untuk diamalkan. Dalam hal ini, ia mengutip sebuah kaidah:

"Ilmu itu ya tidak hanya dicari, tapi untuk diamalkan. Dan janganlah merasa puas terhadap ilmu yang kita miliki, semakin menyelam semakin merasa bodoh."

Pernyataan ini mengingatkan kita pada pesan para ulama terdahulu, seperti Imam Al-Ghazali yang mengatakan bahwa ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Dalam dunia akademik, fenomena ini sering kita jumpai ketika seseorang hanya fokus pada pencapaian intelektual tanpa menerapkannya dalam kehidupan nyata.  

Misalnya, seorang mahasiswa yang belajar tentang etika bisnis, tetapi dalam praktiknya tidak menerapkan nilai-nilai tersebut dalam pekerjaannya. Atau seorang akademisi yang ahli dalam kajian pendidikan, tetapi gagal menerapkan metode pengajaran yang baik kepada mahasiswanya.

Keutamaan konsistensi dalam menuntut ilmu

Muhammad Ash-Shiddiqy adalah sosok yang selalu konsisten dalam mengajarkan ilmu. Bahkan di tengah kesibukan dan keterbatasan fisik, beliau tetap menyampaikan kajian melalui live streaming, menunjukkan bahwa belajar dan mengajar adalah aktivitas yang tidak mengenal batasan waktu dan tempat.

Hal ini memberikan inspirasi bagi dunia akademik bahwa semangat mencari dan menyebarkan ilmu tidak boleh berhenti hanya karena kendala teknis. Kemajuan teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperluas jangkauan ilmu, bukan menjadi alasan untuk berhenti belajar.  

Bukankah Allah swt telah memerintahkan di dalam Alquran:

"Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku." (QS. Thaha: 114)  

Ayat ini menunjukkan bahwa permohonan untuk bertambahnya ilmu adalah bagian dari ibadah. Dengan kata lain, belajar bukan hanya menjadi kewajiban duniawi, tetapi juga bentuk ketundukan kepada Allah swt.  

Menjaga niat dan tidak meletakkan kebahagiaan pada harta

Dalam mengejar ilmu dan cita-cita, seseorang kadang tergoda untuk menjadikannya sebagai alat mencapai kekayaan materi. Namun Ash-Shiddiqy mengingatkan bahwa standar kebahagiaan bukanlah harta, sebagaimana perkataan ulama:

المال أدنى درجات الرزق

"Harta adalah derajat rezeki yang paling rendah."

Hal ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada pencapaian duniawi semata, tetapi pada keberkahan ilmu yang dimiliki.

Seorang ilmuwan, akademisi, atau santri sejati tidak akan merasa puas hanya dengan gelar atau penghargaan, tetapi akan terus mengejar ilmu untuk memberi manfaat bagi sesama.

Imam Al-Ghazali juga pernah mengatakan:

"Nafsu bisa membuat seorang raja menjadi budak, sementara sabar bisa membuat budak menjadi raja."

Dalam konteks akademik, ini berarti bahwa seseorang yang hanya mengejar ilmu demi status dan pujian akan terjebak dalam nafsunya sendiri. Sebaliknya, mereka yang sabar dan konsisten dalam menuntut ilmu akan mencapai kejayaan sejati, bukan hanya dalam bentuk penghargaan, tetapi juga dalam keberkahan hidup.  

Menjadikan ilmu sebagai motivasi dalam mengejar cita-cita

Cita-cita bukanlah sekadar impian yang bisa dicapai dengan tidur, tetapi merupakan motivator untuk terus berusaha keras. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt: 

"Katakanlah (Muhammad): Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS. Ali Imran: 31)

Ayat ini mengajarkan bahwa ilmu harus mengantarkan seseorang pada tindakan nyata, bukan sekadar menjadi bahan diskusi atau perdebatan intelektual.

Dalam dunia akademik, banyak mahasiswa dan peneliti yang berhenti di tengah jalan karena kehilangan motivasi. Mereka lupa bahwa ilmu bukan sekadar untuk mendapatkan pekerjaan atau status sosial, tetapi sebagai alat untuk memperbaiki diri dan masyarakat.

Kesimpulan: menuntut ilmu sebagai jalan hidup

Pesan Dr Muhammad Ash-Shiddiqy sejalan dengan ajaran Islam dan prinsip akademik yang menekankan pentingnya kesungguhan dalam mencari ilmu. Ilmu bukan hanya sekadar alat mencapai tujuan duniawi, tetapi juga sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati.

Dunia akademik seharusnya tidak hanya menjadi tempat mengumpulkan gelar, tetapi juga menjadi ladang amal yang melahirkan individu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dengan semangat menuntut ilmu yang tinggi, kita bisa melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat.

Sebagaimana pesannya: "Kejarlah cita-cita, bukan yang enggak cinta..."

Artinya, kejarlah ilmu dan kebaikan, bukan sekadar duniawi yang bersifat sementara.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow