Revenge Bedtime Procrastination, Kebiasaan Begadang yang Jadi Tren Global

Revenge Bedtime Procrastination, Kebiasaan Begadang yang Jadi Tren Global

Di negara kita, sejumlah destinasi alam mulai menawarkan paket “Deep Sleep Retreat” yang dirancang untuk membantu pengunjung mendapatkan tidur yang optimal. Ilustrasi/foto: Getty Images/Wang Yukun.

Tren | hijaupopuler.id

Di tengah kemajuan teknologi yang melaju sangat cepat—mulai dari kecerdasan buatan yang semakin canggih hingga konektivitas internet berkecepatan tinggi—dunia justru menghadapi persoalan yang tampak sederhana namun berdampak besar: krisis tidur massal.

Sejumlah laporan kesehatan global menunjukkan bahwa rata-rata penduduk di kota-kota besar kini hanya tidur sekitar 5,5 jam per malam, jauh di bawah kebutuhan ideal orang dewasa yang berkisar antara 7–8 jam. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: ke mana hilangnya waktu istirahat kita?

Terjebak dalam “Lampu Biru” yang Tak Pernah Padam

Penyebab krisis tidur saat ini bukan lagi sekadar konsumsi kafein atau tekanan pekerjaan, melainkan pola interaksi manusia dengan teknologi digital.

Perangkat digital—mulai dari ponsel, tablet hingga layar komputer—memancarkan cahaya biru (blue light) yang dapat mengganggu produksi hormon melatonin, hormon alami yang mengatur siklus tidur manusia. Pada saat yang sama, algoritma media sosial dan platform hiburan digital semakin mampu menyajikan konten yang sangat personal dan adiktif.

Akibatnya, banyak orang terjebak dalam fenomena yang dikenal sebagai “Revenge Bedtime Procrastination”—kebiasaan menunda tidur sebagai bentuk “balas dendam” atas hari yang terasa terlalu sibuk atau melelahkan. Waktu malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru dihabiskan untuk menggulir layar tanpa henti.

Seorang pakar neurobiologi, Doktor Arisandi, menjelaskan otak manusia saat ini terus menerima stimulasi digital yang intens. Kondisi tersebut membuat hormon dopamin—yang berkaitan dengan rasa senang dan ketertarikan—sering kali “mengalahkan” produksi melatonin yang dibutuhkan tubuh untuk beristirahat.

Kebangkitan Digital Detox 2.0

Di tengah situasi tersebut, muncul tren gaya hidup baru yang mencoba melawan dominasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Jika sebelumnya kemewahan sering diukur dari kepemilikan gawai terbaru atau akses internet tercepat, kini sebagian masyarakat justru mulai mencari ketenangan tanpa sinyal. Fenomena ini melahirkan gerakan yang kerap disebut sebagai “Digital Detox 2.0,” yaitu upaya sadar untuk membatasi interaksi dengan perangkat digital demi menjaga kesehatan mental dan kualitas tidur.

Praktik ini tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga mulai diadopsi dalam berbagai layanan gaya hidup dan pariwisata.

Wisata Tidur: Tren Perjalanan Baru

Industri pariwisata pun melihat peluang dari kebutuhan manusia untuk beristirahat secara lebih berkualitas. Muncul tren perjalanan baru yang dikenal sebagai sleep tourism atau wisata tidur.

Di Indonesia, sejumlah destinasi alam mulai menawarkan paket “Deep Sleep Retreat” yang dirancang khusus untuk membantu pengunjung mendapatkan tidur yang optimal. Beberapa lokasi seperti Ubud, Dataran Tinggi Dieng, hingga Pulau Alor mulai mempromosikan pengalaman menginap dengan pendekatan berbeda.

Alih-alih menawarkan spot foto estetik atau hiburan malam, tempat-tempat ini menyediakan kamar dengan isolasi suara yang maksimal, pencahayaan yang mengikuti ritme matahari alami, serta fasilitas tidur yang dirancang secara ergonomis. Bahkan beberapa penginapan mulai menggunakan teknologi sensor untuk menyesuaikan posisi bantal dan kasur dengan kontur tubuh pengunjung.

Tujuannya sederhana: mengembalikan kualitas tidur yang sering kali hilang dalam kehidupan modern.

Kembali ke Dasar

Perkembangan teknologi kemungkinan besar akan terus mempercepat ritme kehidupan manusia. Namun tubuh manusia tetaplah organisme biologis yang membutuhkan kegelapan, ketenangan, dan waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan diri.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh notifikasi dan layar digital, tantangan terbesar kita mungkin bukan lagi sekadar belajar menggunakan teknologi baru, tetapi belajar kapan harus menjauh darinya.

Malam ini, mungkin ada satu langkah sederhana yang bisa dicoba: letakkan ponsel di ruangan lain, matikan lampu, dan izinkan diri Anda “menghilang” sejenak dari dunia digital selama delapan jam.

Bisa jadi, itulah kemewahan paling langka di era modern.

--

Luthfi Muhammad Anwar
Mahasiswa Magister UIN Saizu Purwokerto

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow