Menyongsong Berkah di Tahun 2026: Antara Prasangka, Tindakan, dan Pikiran Positif
Sukses di tahun ini seharusnya tidak didefinisikan hanya dengan capaian angka, jabatan, atau pengakuan publik. Ilustrasi/foto : REUTERS/Vadim Skryabin dan penulis.
Opini | hijaupopuler.id
Awal tahun hampir selalu identik dengan resolusi. Kita menyusun smart planner, menuliskan target, memetakan peluang, sekaligus mengantisipasi risiko. Namun di tengah kesibukan merancang masa depan, ada satu aspek mendasar yang sering luput dari perhatian: manajemen pikiran. Sebagaimana nasihat Anregurutta Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, realitas eksternal sering kali hanyalah pantulan dari apa yang bekerja di dalam diri manusia.
Pesan ini relevan di awal 2026, ketika dunia masih berada dalam pusaran ketidakpastian—krisis global, percepatan teknologi, hingga perubahan sosial yang serba cepat. Dalam situasi seperti ini, keberhasilan tidak semata ditentukan oleh kecanggihan rencana, melainkan oleh kualitas pikiran yang melandasi setiap tindakan.
Prasangka dan Tindakan Sosial
Anregurutta Nasaruddin Umar mengajarkan sebuah hukum sosial dan spiritual yang sederhana namun mendalam: iringilah tindakan dengan pikiran positif, karena prasangka orang lain sangat bergantung pada cara kita bertindak. Manusia memang tidak memiliki kendali atas pikiran orang lain, tetapi sepenuhnya berdaulat atas sikap dan tindakannya sendiri.
Dalam kehidupan sosial, tindakan adalah bahasa paling jujur. Ketika seseorang bertindak dengan integritas, ketulusan, dan konsistensi, persepsi positif akan tumbuh dengan sendirinya. Sebaliknya, pikiran yang dipenuhi kecurigaan dan prasangka buruk kerap melahirkan tindakan yang ragu-ragu, defensif, bahkan agresif. Pada titik inilah, prasangka orang lain sering kali bukan sebab utama kegagalan, melainkan konsekuensi dari tindakan yang lahir dari pikiran yang tidak sehat.
Pikiran Positif dalam Perspektif Spiritual
Dalam psikologi spiritual Islam, pikiran positif tidak berhenti pada sikap optimistis semata. Ia berakar pada husnuzan billah—berprasangka baik kepada Allah—yang sekaligus menumbuhkan husnuzan binafsih, prasangka baik kepada diri sendiri. Pikiran yang jernih melahirkan keberanian untuk melangkah, sementara pikiran yang keruh justru menjadi beban sebelum perjalanan dimulai.
Hadis Qudsi menyebutkan,
“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Pesan ini bukan sekadar doktrin teologis, melainkan prinsip mentalitas hidup. Jika seseorang memulai 2026 dengan keyakinan bahwa tahun ini adalah ruang keberkahan dan pembelajaran, maka setiap peristiwa—bahkan yang tampak sebagai kegagalan—akan dibaca sebagai proses pendewasaan, bukan hukuman.
Ketika Rencana Gagal Bertemu Mentalitas Negatif
Tidak sedikit orang memiliki rencana luar biasa, tetapi gagal mengeksekusinya. Penyebabnya sering kali bukan kurangnya sumber daya, melainkan mentalitas yang negatif. Rencana hidup yang hebat di atas kertas dapat runtuh ketika pikiran dipenuhi ketakutan, prasangka, dan pesimisme.
Nasihat Anregurutta mengajak kita menyelaraskan tiga hal sekaligus: rencana, pikiran, dan tindakan—seirama dengan dzikir, fikir dan amal saleh. Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Rencana tanpa pikiran yang sehat akan kehilangan daya dorong. Pikiran positif tanpa tindakan nyata hanya akan menjadi angan-angan. Sementara tindakan tanpa fondasi spiritual berisiko kehilangan arah dan makna.
Tantangan sebagai Jalan Kenaikan Kelas
Memasuki 2026, tantangan hampir pasti datang. Namun, cara kita memaknainya akan menentukan kualitas respons. Ketika tantangan dipahami sebagai cara Allah swt menaikkan kelas kehidupan, tindakan yang lahir akan lebih tenang, terukur, dan berwibawa. Dari sinilah kepercayaan sosial tumbuh—orang lain menaruh prasangka baik bukan karena kata-kata, tetapi karena konsistensi yang mereka lihat.
Mentalitas seperti ini juga membuat seseorang tidak mudah tumbang oleh kritik dan tidak silau oleh pujian. Ia berjalan di atas nilai, bukan semata validasi.
Menuju Sukses yang Bermakna
Sukses di tahun 2026 seharusnya tidak didefinisikan hanya dengan capaian angka, jabatan, atau pengakuan publik. Sukses yang lebih bermakna adalah ketika seseorang mampu meninggalkan jejak kebaikan—dalam cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi dengan sesama.
Nasihat Anregurutta Prof Nasaruddin Umar layak dijadikan mercusuar di awal tahun. Setiap langkah yang diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim, dijalani dengan pikiran positif, dan diwujudkan dalam tindakan nyata, merupakan formula sederhana untuk menyongsong tahun yang penuh berkah.
Selamat tahun baru 2026, mari bertindak dengan indah—mengubah kata menjadi nyata—agar dunia pun membalas kita dengan prasangka yang indah pula.
Dr Muhammad Asriady SHd MThI
Wakil Pimpinan Ponpes Al-Ikhlas, Bone, Sulsel
Apa Reaksi Anda?
