Perlindungan yang Menjadi Ancaman, Pelajaran Iman dari Geopolitik di Kawasan Teluk

Perlindungan yang Menjadi Ancaman, Pelajaran Iman dari Geopolitik di Kawasan Teluk
Perlindungan yang Menjadi Ancaman, Pelajaran Iman dari Geopolitik di Kawasan Teluk

Satu prinsip tetap berlaku sepanjang zaman: kekuatan tanpa keimanan dan ketergantungan tanpa kemandirian hanya akan melahirkan kerentanan. Ilustrasi/foto: Pangkalan militer (kompas.com) dan penulis.

Opini | hijaupopuler.id

Selama beberapa dekade, sejumlah negara di kawasan Teluk merasa aman dengan keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka. Kehadiran kekuatan militer besar itu dipandang sebagai benteng pertahanan dari berbagai ancaman eksternal.

Namun sejarah sering menghadirkan ironi.

Apa yang dulu diyakini sebagai pelindung, dalam situasi tertentu justru dapat berubah menjadi sumber kerentanan. Dalam dinamika konflik geopolitik Timur Tengah, pangkalan militer asing di wilayah negara-negara Teluk kerap menjadikan kawasan tersebut ikut masuk dalam radar konflik pihak-pihak yang memusuhi Amerika Serikat.

Wilayah yang sebelumnya berharap perlindungan akhirnya terseret ke dalam pusaran konflik yang sebenarnya tidak mereka mulai.

Realitas ini tidak hanya bisa dilihat dari perspektif politik atau militer. Ia juga menyimpan pelajaran spiritual yang penting bagi umat Islam.

Alquran mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menggantungkan harapan sepenuhnya pada kekuatan duniawi. Allah swt berfirman:

"Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya." (QS. At-Talaq: 3)

Ayat ini tidak menolak strategi, teknologi, ataupun kerja sama politik. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan ikhtiar. Namun Alquran menegaskan bahwa ketergantungan mutlak kepada kekuatan selain Allah dapat melahirkan ilusi keamanan.

Sejarah manusia penuh dengan contoh kekuatan besar yang dianggap tak tergoyahkan, tetapi kemudian runtuh atau bahkan membawa dampak buruk bagi pihak yang terlalu bergantung kepadanya.

Alquran juga memberi peringatan agar umat Islam berhati-hati dalam menjadikan pihak luar sebagai penentu arah keamanan mereka.

Allah swt berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang luar sebagai teman kepercayaanmu; mereka tidak akan berhenti menimbulkan kemudaratan bagimu." (QS. Ali Imran: 118)

Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan peringatan agar umat Islam tidak memberikan posisi strategis kepada pihak yang kepentingannya tidak sejalan. Dalam konteks geopolitik modern, pesan ini terasa sangat relevan.

Ketika sebuah wilayah dijadikan pangkalan militer kekuatan besar, maka secara otomatis wilayah itu ikut menjadi bagian dari konflik kekuatan tersebut.

Akibatnya, ancaman yang sebenarnya tidak ditujukan kepada mereka dapat ikut menghantam wilayah mereka.

Islam justru mendorong umatnya untuk membangun kekuatan sendiri. Allah swt berfirman:

"Persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan yang kamu mampu." (QS. Al-Anfal: 60)

Ayat ini menegaskan bahwa keamanan tidak boleh dibangun di atas ketergantungan, tetapi di atas kemandirian, kesiapan, dan persatuan.

Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa umat Islam pernah menjadi kekuatan besar dunia bukan karena bergantung kepada kekuatan luar, melainkan karena memiliki persatuan, ilmu pengetahuan, serta kepercayaan diri sebagai umat.

Konflik yang terus terjadi di kawasan Timur Tengah hari ini memberikan beberapa pelajaran penting.

Pertama, aliansi militer bukanlah jaminan keamanan yang mutlak. Dalam beberapa kasus, ia justru dapat menyeret sebuah negara ke dalam konflik yang lebih luas.

Kedua, ketergantungan strategis berpotensi mengurangi kedaulatan politik dan keamanan suatu negara.

Ketiga, keamanan sejati tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh keadilan, stabilitas sosial, dan keimanan kepada Allah swt.

Rasulullah saw pernah bersabda:

"Jagalah (perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu." (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengandung pesan yang sangat mendalam: perlindungan sejati datang dari ketaatan kepada Allah swt, bukan semata-mata dari kekuatan dunia.

Pada akhirnya, geopolitik hanyalah salah satu panggung dari sunnatullah dalam perjalanan sejarah manusia. Kekuasaan bisa berubah, aliansi dapat berganti, dan kekuatan besar bisa melemah.

Namun satu prinsip tetap berlaku sepanjang zaman: kekuatan tanpa keimanan dan ketergantungan tanpa kemandirian hanya akan melahirkan kerentanan.

Karena itu, umat Islam perlu mengambil pelajaran dari realitas ini—membangun kekuatan sendiri, memperkuat persatuan, dan menjadikan tawakkal kepada Allah sebagai fondasi utama keamanan.

Sebab sering kali, ketika manusia menggantungkan perlindungan kepada selain Allah swt, perlindungan itu justru berubah menjadi ancaman. Wallahu a’lam.

---

Dr H Rukman AR Said Lc MThI
Ketua LP2M UIN Palopo dan Sekretaris Umum MUI Kota Palopo

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow