Serial Jumat (Edisi 17) : Tauhid dan Media Sosial

Serial Jumat (Edisi 17) : Tauhid dan Media Sosial
Serial Jumat (Edisi 17) : Tauhid dan Media Sosial

Dalam dunia yang cepat dan bising ini, menjadi netizen bertauhid adalah perjuangan. Tapi itulah misi kita untuk menjadikan setiap ruang kehidupan sebagai tempat menyebar cahaya iman. Ilustrasi/foto : bincangsyariah.com dan penulis.


Islami | hijaupopuler.id

Jangan Ganti Allah dengan Validasi Manusia

Di era digital, banyak orang—disadari atau tidak—menjadikan media sosial sebagai tempat mencari makna diri. Ukuran kebahagiaan dan keberhasilan jadi tergantung pada likes, views, komentar, dan pengakuan dari manusia. Inilah salah satu bentuk “syirik modern” yang halus: menukar rida Allah dengan tepuk tangan manusia.

Tauhid yang sejati mengajarkan: Tujuan hidup kita bukan membuat orang terkesan, tapi membuat Allah swt rida.

“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan seseorang pun dalam ibadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Jika kita renungkan, banyak kegelisahan dalam bermedia sosial sebenarnya berakar dari kebutuhan akan validasi:

• Posting sesuatu → tidak banyak yang menyukai → merasa tidak berharga

• Lihat orang lain tampak bahagia → merasa tertinggal

• Ingin tampil sempurna → padahal hati sedang lelah

Padahal Allah swt tidak menilai dari seberapa menarik feed kita, tapi seberapa jujur dan ikhlas niat di balik apa yang kita lakukan.

Tauhid menata ulang orientasi: “Untuk siapa aku melakukan ini?”

Tauhid: Filter Utama Sebelum Posting dan Sharing

Media sosial itu seperti pisau. Ia bisa bermanfaat, bisa juga melukai. Karena itu, tauhid perlu dijadikan “filter utama” sebelum kita memposting sesuatu. Tanyakan tiga hal ini sebelum menulis, mengomentari, atau membagikan:

1. Apakah ini mendekatkan aku kepada Allah swt atau hanya ingin terlihat baik di depan manusia?

Kadang kita tergoda untuk berbagi kebaikan, tapi niatnya bergeser dari dakwah menjadi pencitraan. Tauhid membantu kita menjaga niat tetap lurus.

2. Apakah ini akan memberi manfaat atau justru menyebar keburukan?

Tauhid mengajarkan tanggung jawab. Apa yang kita tulis, kita bagikan, bisa menjadi pahala jariyah—atau dosa jariyah. Jangan anggap remeh istilah “sekadar share.”

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. Dan barang siapa menunjukkan kepada keburukan, maka ia mendapat dosa seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

3. Apakah ini perlu atau hanya pelampiasan emosi dan ego?

Tauhid mengajarkan kita untuk sabar dan menjaga diri. Kadang kita ingin “melawan” dengan komentar atau sindiran, tapi apa gunanya jika akhirnya hanya menambah dosa?

Hati-hati: Media Sosial Bisa Menjadi Ladang Riya

Riya itu memperlihatkan ibadah atau kebaikan bukan karena Allah, tapi karena ingin dilihat orang. Dalam bentuk modern, riya bisa muncul dalam:

• Menampilkan sedekah untuk dipuji

• Menulis status religius tapi hati ingin disebut alim

• Berbagi doa agar dilihat taat, bukan karena ingin menyebarkan kebaikan

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya.” (HR. Ahmad)

Tauhid melindungi kita dari jebakan ini. Ia mengingatkan: kebaikan yang tak terlihat manusia tapi dinilai Allah jauh lebih berharga dari pujian yang cepat berlalu.

Gunakan Media Sosial sebagai Sarana Tauhid

Bukan berarti media sosial harus ditinggalkan. Justru media sosial bisa menjadi ladang pahala, jika kita pandai meniatkan dan memanfaatkannya.

Beberapa cara menjadikan media sosial sebagai sarana tauhid:

• Menyebarkan inspirasi tauhid, ayat-ayat Alquran, nasihat ringan

• Menjaga adab online: tidak nyinyir, tidak menyebar hoax, tidak merendahkan

• Menguatkan komunitas kebaikan: ikuti akun yang menyejukkan iman

• Menjadikan aktivitas online sebagai bentuk ibadah digital—asal niatnya benar.

Jadi Netizen Bertauhid

Dalam dunia yang cepat dan bising ini, menjadi netizen bertauhid adalah perjuangan. Tapi itulah misi kita: menjadikan setiap ruang kehidupan—termasuk dunia digital—sebagai tempat menyebar cahaya iman.

Refleksi

• Validasi manusia hanya sementara. Tapi rida Allah kekal selamanya.

• Setiap kali jari ini ingin mengetik, ingin menanggapi, atau ingin menunjukkan diri—jangan lupa bertanya kepada hati nurani: “Untuk siapa?” dan “Untuk apa?”

Dr H Rukman AR Said Lc MThI | Ketua LP2M UIN Palopo dan Sekretaris Umum MUI Kota Palopo

Untuk membaca kembali edisi sebelumnya (ke-16) dari Serial Jumat ini, silahkan klik tautan berikut:

https://hijaupopuler.id/serial-jumat-edisi-16-tauhid-dalam-kehidupan-nyata-dan-overthinking

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow