Songkabala: Harmoni Tradisi Bugis dan Nilai Keagamaan dalam Kehidupan Sosial

Songkabala: Harmoni Tradisi Bugis dan Nilai Keagamaan dalam Kehidupan Sosial
Songkabala: Harmoni Tradisi Bugis dan Nilai Keagamaan dalam Kehidupan Sosial

Lebih dari sekadar ritual, Songkabala adalah praktik kebudayaan yang mengajarkan bahwa kesuksesan hidup tidak hanya ditentukan oleh usaha material, tetapi juga oleh kekuatan spiritual dan kepedulian sosial. Ilustrasi/foto : budaya-indonesia.org dan penulis.

Perspektif | hijaupopuler.id

Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat Bugis masih memegang teguh sejumlah tradisi leluhur yang sarat makna. Salah satunya adalah Songkabala, sebuah praktik budaya yang merefleksikan harmoni antara adat dan agama dalam kehidupan sosial. Tradisi ini tidak sekadar menjadi simbol identitas kultural, tetapi juga berfungsi sebagai medium spiritual untuk menautkan manusia dengan Sang Pencipta.

Songkabala lazim dilaksanakan sebagai ungkapan syukur sekaligus penunaian janji atas tercapainya suatu hajat. Dalam pandangan masyarakat Bugis, setiap fase penting kehidupan—seperti awal turun ke sawah, merantau untuk mencari nafkah, menjelang pernikahan, peresmian rumah baru, hingga memulai pekerjaan—merupakan titik krusial yang membutuhkan kekuatan spiritual, doa, dan keberkahan.

Keunikan Songkabala terletak pada prosesinya yang sangat kental dengan nilai-nilai Islam. Tradisi ini umumnya diawali dengan puasa sunnah sebagai bentuk pengendalian diri dan pendekatan spiritual kepada Allah swt. Selanjutnya, shalat hajat dilaksanakan untuk memohon kelancaran serta keselamatan. Zikir bersama kemudian menjadi ruang kolektif untuk memperkuat keimanan dan menumbuhkan ketenangan batin.

Puncak dari tradisi Songkabala diwujudkan melalui sedekah makanan yang dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar. Praktik ini tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga mencerminkan etika sosial masyarakat Bugis yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, Songkabala menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak selalu berada pada posisi yang saling meniadakan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan. Tradisi ini menjadi ruang dialektika antara nilai adat dan ajaran Islam, yang secara nyata membentuk karakter masyarakat Bugis: sabar, religius, bertanggung jawab, dan berorientasi pada harmoni sosial.

Lebih dari sekadar ritual, Songkabala adalah praktik kebudayaan yang mengajarkan bahwa kesuksesan hidup tidak hanya ditentukan oleh usaha material, tetapi juga oleh kekuatan spiritual dan kepedulian sosial. Di sinilah Songkabala menemukan relevansinya—sebagai warisan budaya yang tetap hidup, adaptif, dan bermakna di tengah perubahan zaman.

Abustan Djunaedi
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Maros, Sulsel.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow