Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Penjaga Peradaban

Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Penjaga Peradaban
Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Penjaga Peradaban
Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Penjaga Peradaban

Kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi, melainkan oleh kualitas manusia yang dibentuk melalui tangan-tangan para guru. Foto: Humas UIN Palopo.

Khutbah | hijaupopuler.id

Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo, Abbas Langaji, mengingatkan kembali posisi strategis guru sebagai penjaga peradaban. Pesan itu disampaikannya saat menjadi khatib Jumat di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M Jusuf, Makassar, Jumat (24/7/2026).

Dalam khutbah bertajuk "Peranan Guru dalam Membangun Karakter Manusia," Abbas menegaskan guru merupakan profesi yang memikul amanah besar. Tugas guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan juga membentuk akhlak, karakter, dan kepribadian generasi penerus.

Menurutnya, dalam perspektif Islam, guru menjalankan misi yang sangat mulia sebagai perantara penyebaran ilmu yang bersumber dari Allah swt. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui prestasi akademik, tetapi juga dari lahirnya manusia yang berakhlak mulia.

"Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari terbentuknya karakter yang berakhlak mulia," ujar Abbas di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh profesi lahir melalui sentuhan seorang guru. Dokter, insinyur, hakim, ulama, maupun pemimpin bangsa, semuanya pernah dididik oleh guru yang menanamkan ilmu sekaligus nilai-nilai kehidupan.

Namun, di balik peran besar tersebut, profesi guru masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Kesejahteraan yang belum merata, tingginya ekspektasi masyarakat, hingga stigma negatif ketika guru menjalankan fungsi pembinaan menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.

Abbas kemudian mengangkat kisah yang kerap dikaitkan dengan Kaisar Hirohito pasca-Perang Dunia II. Dalam narasi yang banyak dikenal, Hirohito disebut lebih dahulu menanyakan jumlah guru yang masih tersisa dibandingkan kekuatan militer negaranya. Kisah tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa kebangkitan sebuah bangsa berawal dari pendidikan, dengan guru sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia.

Menurut Abbas, tantangan guru pada era digital justru semakin berat. Selain dituntut meningkatkan kompetensi akademik peserta didik, guru juga harus menjadi teladan dalam membangun karakter di tengah derasnya arus informasi, perubahan gaya hidup, serta berbagai pengaruh yang berpotensi mengikis nilai-nilai moral.

Karena itu, ia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak boleh dipisahkan dari penguasaan ilmu pengetahuan. Keduanya harus berjalan seiring agar lahir generasi yang cerdas, berintegritas, adaptif terhadap perubahan, sekaligus memiliki akhlak yang kuat.

Menutup khutbahnya, Abbas mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengembalikan penghormatan terhadap profesi guru. Guru, katanya, perlu mengajar dengan hati dan keteladanan. Peserta didik hendaknya memuliakan guru sebagai jalan memperoleh keberkahan ilmu. Orang tua perlu memperkuat sinergi dengan sekolah, sementara pemerintah dan masyarakat berkewajiban menghadirkan penghargaan serta kesejahteraan yang layak bagi para pendidik.

Sebab, sebagaimana pesan yang mengalir sepanjang khutbah itu, kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi, melainkan oleh kualitas manusia yang dibentuk melalui tangan-tangan para guru.

Naskah khutbah ini selengkapnya pada tautan di bawah:

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow