Guru Diunduh, Murid Diunggah
Digitalisasi bukan hanya soal koneksi melainkan tentang bagaimana teknologi digunakan untuk memanusiakan proses belajar. Ilustrasi/foto : tirto.id dan penulis.
Opini | hijaupopuler.id
Pagi di sebuah sekolah negeri aktivitas berjalan seperti biasanya. Para siswa baris berbaris di depan halaman. Di ruang kelas, para guru membuka laptopnya dan menyiapkan materi pelajaran daring. Di layar, ikon terkoneksi internet berkedap-kedip setiap saat menandakan koneksi internet tidak stabil. Materi yang telah disusun semalaman belum sempat terkirim.
Di balik sekolah dan ruang kelas sederhana itu, program transformasi digital pendidikan Indonesia berhadapan dengan kenyataan di lapangan yakni antara ambisi besar dan keterbatasan di lapangan.
Sementara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menargetkan kurang lebih 300.000 sekolah akan terkoneksi penuh ke internet pada 2025 dari total 441.000 sekolah di seluruh jenjang.
Program ini merupakan agenda besar digitalisasi pendidikan yang diharapkan memperluas akses belajar dan memperkuat kualitas pengajaran. Tetapi, data menunjukkan bahwa 17,4 persen masyarakat Indonesia belum memiliki akses internet memadai. Hal itu berarti masih terdapat jutaan murid dan guru yang berjuang untuk sekadar terhubung ke jaringan.
Digitalisasi pembelajaran menghadirkan wajah baru. Guru kini tidak lagi sebagai pengajar tetapi juga sebagai kurator konten digital yang bertugas menyaring informasi, menyusun materi daring, dan menjaga arah belajar murid di tengah banjir informasi di internet.
Di lain sisi, murid tidak lagi sebatas penerima informasi. Tetapi, mereka belajar dengan cara baru yakni mengunggah karya, membuat video eksperimen, dan mempresentasikan ide melalui platform digital.
Dalam ekosistem semacam ini muncul metafora yang pas, guru yang diunduh, murid diunggah. Metafora ini menjelaskan perubahan besar cara belajar. Pengetahuan tidak lagi dialirkan dari guru ke murid tetapi juga berjalan dua arah. Murid memproduksi dan membagikan pengalaman belajarnya sedangkan guru harus memastikan proses itu tetap bermakna dan bernilai.
Peran Baru dan Beban Lama
Bagi banyak guru, bergesernya peran ini meniscayakan penyesuaian besar. Mau tidak mau mereka harus bisa mengaplikasikan perangkat baru, memahami platform, lalu memproduksi konten yang sesuai dengan kebutuhan murid.
Kendati tugas administratif terus berjalan, harapan kemampuan digital terus meningkat. Banyak guru kini merasa perannya kian kompleks, dari pendidik berubah menjadi editor dan kreator konten. Beban kerja bertambah, tetapi dukungan belum sepenuhnya terjamin.
Berbagai pelatihan literasi digital terlaksana di berbagai daerah, tetapi belum merata. Di beberapa sekolah, guru menyiapkan pembelajaran daring masih berupa inisiatif pribadi. Guru mempersiapkan video pembelajaran dengan perangkat pribadi, mengupload materi dengan kuota pribadi, dan mengatur jadwal daring di luar jam kerja formal.
Sementara, murid di daerah dengan akses internet cukup memadai mulai menunjukkan perubahan signifikan dalam cara belajar. Siswa lebih aktif membuat karya, menelusuri berbagai sumber belajar, dan mendokumentasikan hasil belajar di media publik digital.
Memang, pendidikan menjadi proses kreatif yang senantiasa bergerak. Tetapi di lain sisi, murid di wilayah dengan jaringan kurang memadai masih berjuang untuk sekedar terhubung ke internet bahkan kesulitan mengakses materi pembelajaran.
Adanya perubahan peran guru dan murid ini menuntut pembacaan ulang terhadap makna hari guru yang selama ini dirayakan dengan bunga, piagam dan upacara. Dalam konteks ini, apresiasi simbolik seperti itu terlihat sederhana ketimbang bertambahnya pekerjaan guru di masa kini.
Pengakuan terhadap profesi guru perlu digeser dari sekadar seremoni menuju dukungan nyata berupa pelatihan atau workshop berkelanjutan, infrastruktur teknologi yang memadai, serta kebijakan yang melindungi kesejahteraan dan waktu kerja mereka.
Momen Hari Guru ini sebaiknya menjadi ajang refleksi dalam rangka mengkaji ulang arah transformasi pendidikan terutama dalam menjawab pertanyaan tentang apakah digitalisasi pendidikan benar-benar membuat proses belajar lebih inklusif atau justru memperlebar jurang antara yang mampu dan yang tertinggal. Apakah guru diberi ruang untuk berinovasi atau sekadar menyesuaikan diri dengan sistem yang terus berubah tanpa dukungan yang memadai.
Mencari Keseimbangan Baru
Kendati demikian, di tengah tantangan baru itu muncul berbagai inisiatif positif. Guru membentuk komunitas belajar sebagai ruang bersama dan saling berbagi materi dan strategi pembelajaran daring.
Komunitas itu dimanfaatkan ruang kolaborasi, tempat bertukar inspirasi dan berbagi pengalaman dalam menghadapi perubahan. Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata dari semangat gotong royong pendidikan yang kini berlangsung di dunia maya.
Fenomena murid yang aktif mengunggah karya digitalnya menunjukkan bahwa generasi pembelajar kini tumbuh dengan cara yang berbeda. Siswa mulai terbiasa mengartikan pengetahuan secara visual, narasi, dan interaksi daring.
Di sini peran guru menjadi semakin penting dalam menjaga keseimbangan antara kreativitas dan tanggung jawab etik penggunaan teknologi. Dalam arus besar informasi, guru tetap menjadi navigator. Teknologi mempercepat tetapi nilai dijaga dan dituntun oleh guru.
Transformasi digital pada dasarnya merupakan jalan panjang menemukan keseimbangan baru. Di satu sisi, ia membuka ruang bagi kolaborasi, inovasi, dan kreativitas yang tak terbatas. Tetapi di sisi lain, ia menuntut kesiapan sistem yang adil dan berkelanjutan. Di sinilah keadilan digital menjadi kunci agar pendidikan tidak hanya maju di permukaan tetapi juga merata dalam akses dan kualitas.
Guru diunduh murid diunggah adalah potret dari perubahan zaman. Di balik unduhan materi, ada kerja senyap seorang pendidik yang menyiapkan pembelajaran dengan dedikasi tinggi. Di balik setiap unggahan karya murid, ada semangat belajar yang tumbuh dalam ruang baru bernama digital.
Pendidikan kini bergerak dalam lintasan yang lebih cair, antara dunia nyata dan maya, antara peran lama dan peran baru, antara tuntutan teknologi dan kebutuhan manusiawi.
Jika keseimbangan ini terjaga, digitalisasi bukan hanya soal koneksi melainkan tentang bagaimana teknologi digunakan untuk memanusiakan proses belajar. Di situlah esensi pendidikan bahwa pendidikan menjadi ruang navigasi masa depan tanpa kehilangan nilai dasar kemanusiaan.
Dan dari sana pulalah makna sesungguhnya dari Hari Guru ini, yakni sebuah refleksi atas ikhtiar panjang para pendidik yang terus beradaptasi menjaga api belajar tetap menyala di tengah dunia yang semakin digital.
Muhammad Suryadi R | Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi, Peneliti Parametric Development Center, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Parepare, dan Sekretaris PC GP Ansor Kabupaten Barru
Apa Reaksi Anda?

