Menjaga Akidah Tidak Harus Membenci yang Berbeda
ukuran keberagamaan bukan hanya seberapa keras kita mengatakan bahwa keyakinan kita benar, tetapi juga seberapa adil kita memperlakukan orang yang tidak memiliki keyakinan yang sama. Ilustrasi/foto: detik.com dan penulis.
Opini | hijaupopuler.id
Ada sebuah kesalahpahaman yang terus berulang dalam percakapan tentang toleransi beragama: seolah-olah menjadi toleran berarti harus mengurangi keyakinan, sementara teguh dalam akidah berarti harus menjaga jarak, bahkan membenci mereka yang berbeda.
Kita seperti dipaksa memilih: teguh dalam iman atau toleran terhadap perbedaan.
Padahal, mengapa harus memilih?
Seorang Muslim dapat meyakini Islam sebagai kebenaran tanpa harus menghina agama lain. Ia dapat teguh dalam akidah tanpa memusuhi tetangga yang berbeda keyakinan. Ia juga dapat mempertahankan prinsip agamanya sekaligus bekerja sama dengan siapa pun dalam urusan kemanusiaan.
Di situlah kedewasaan beragama diuji.
Toleransi sering disalahpahami sebagai keharusan untuk mengatakan bahwa semua agama sama. Padahal, menghormati keyakinan orang lain berbeda dengan membenarkan keyakinannya.
Saya dapat menghormati Anda sebagai manusia tanpa harus menyetujui seluruh keyakinan Anda. Begitu pula Anda dapat menghormati keyakinan saya tanpa harus menjadi Muslim.
Toleransi bukan proyek untuk membuat semua orang menjadi sama. Toleransi justru dibutuhkan karena kita berbeda. Jika semua orang sudah sama, kita tidak membutuhkan toleransi.
Islam sendiri tidak mengajarkan kebencian kepada perbedaan. Alquran memberikan sejumlah prinsip penting dalam mengatur hubungan dengan mereka yang berbeda keyakinan.
QS Al-Baqarah ayat 256 menegaskan, lā ikrāha fī al-dīn, tidak ada paksaan dalam agama. Dalam QS Al-Hujurat ayat 13, keberagaman manusia tidak ditempatkan sebagai alasan untuk saling merendahkan, melainkan sebagai jalan untuk li ta‘ārafū, saling mengenal.
Lebih jauh, QS Al-Mumtahanah ayat 8 memberikan prinsip bahwa umat Islam tidak dilarang berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang berbeda agama selama mereka tidak memerangi karena agama.
Artinya, perbedaan keyakinan tidak otomatis menjadi alasan untuk berlaku tidak adil.
Islam membedakan antara persoalan akidah dan muamalah. Akidah memiliki batas yang jelas, sementara muamalah memiliki ruang yang jauh lebih luas.
Toleransi Berbatas
Lalu, di mana batas toleransi?
Pertanyaan ini penting karena toleransi juga tidak boleh dipahami sebagai kebebasan tanpa batas. Seorang Muslim memiliki prinsip dalam persoalan akidah dan ibadah. Ia tidak harus mengikuti ritual agama lain hanya demi dianggap toleran. Ia juga tidak harus mengatakan bahwa seluruh doktrin agama sama demi membuktikan dirinya moderat.
Di sinilah kita membutuhkan apa yang saya sebut sebagai toleransi berbatas.
Toleransi berbatas berarti teguh dalam akidah, terbuka dalam muamalah, adil terhadap semua, dan damai dalam perbedaan.
QS Al-Kafirun ayat 6 mengajarkan, lakum dīnukum wa liya dīn. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa pengakuan terhadap perbedaan tidak harus menghilangkan identitas.
Kita dapat berbeda tanpa harus bermusuhan.
Ada satu persoalan penting dalam masyarakat demokratis: sesuatu yang tidak boleh dilakukan seorang Muslim menurut keyakinannya tidak otomatis berarti harus dilarang negara bagi semua orang.
Ini adalah pembedaan yang sering luput.
Batas teologis mengatur apa yang diyakini dan dilakukan seorang Muslim. Sementara batas yuridis mengatur bagaimana seluruh warga negara hidup bersama.
Keduanya tidak boleh dicampuradukkan.
Konstitusi Indonesia menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Pada saat yang sama, Pasal 28J mengingatkan bahwa pelaksanaan hak dan kebebasan harus menghormati hak orang lain serta tunduk pada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang untuk tujuan yang sah.
Dengan kata lain, negara harus melindungi kebebasan sekaligus memastikan kebebasan tidak digunakan untuk merampas hak orang lain.
Teguh Tidak Berarti Membenci
Mengapa sebagian orang merasa bahwa untuk membuktikan kecintaan kepada agamanya, ia harus membenci agama lain?
Bukankah keyakinan yang kuat justru seharusnya melahirkan ketenangan?
Orang yang yakin tidak perlu terus-menerus marah kepada orang yang berbeda. Orang yang memahami agamanya tidak harus menjadikan perbedaan sebagai ancaman.
Kita perlu membedakan antara menolak sebuah gagasan dan membenci manusia yang memiliki gagasan tersebut.
Seorang Muslim boleh tidak menerima doktrin agama lain sebagai kebenaran menurut keyakinannya. Tetapi hal itu tidak memberikan legitimasi untuk menghina pemeluknya.
Perbedaan teologis adalah sesuatu yang harus dihadapi dengan ilmu. Kebencian adalah pilihan perilaku. Keduanya tidak sama.
Toleransi juga bukan sikap lemah.
Sebagian orang masih menganggap toleransi sebagai tanda kelemahan, seolah-olah orang yang toleran adalah orang yang tidak memiliki pendirian. Anggapan ini perlu dibongkar.
Toleransi membutuhkan kedewasaan. Mudah sekali membenci orang yang berbeda. Yang sulit adalah tetap teguh pada keyakinan sambil memperlakukan orang yang berbeda dengan adil.
Yang mudah adalah membuat kelompok sendiri merasa paling benar. Yang sulit adalah mengatakan:
“Saya meyakini agama saya benar, tetapi saya tidak akan menggunakan keyakinan itu sebagai alasan untuk merendahkan martabat Anda.”
Di situlah kualitas keberagamaan diuji.
Kebebasan Beragama Bukan Hadiah Mayoritas
Selama ini toleransi terkadang dipahami seolah-olah kelompok mayoritas “memberikan izin” kepada kelompok minoritas untuk menjalankan agamanya.
Cara berpikir semacam ini problematik.
Kebebasan beragama bukan hadiah dari kelompok mayoritas. Ia adalah hak warga negara.
Seorang warga negara tidak seharusnya berkata, “Silakan Anda beribadah, saya mengizinkan.” Yang lebih tepat adalah, “Silakan Anda menjalankan hak konstitusional Anda; saya juga menjalankan hak saya.”
Dengan demikian, toleransi tidak ditempatkan dalam relasi kuasa antara pihak yang memberi izin dan pihak yang menerima izin.
Kita semua berdiri sebagai warga negara yang setara.
Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, agama memang harus dijaga. Konsep ḥifẓ al-dīn merupakan salah satu tujuan fundamental syariat.
Namun, menjaga agama tidak berarti membenarkan semua tindakan yang mengatasnamakan agama.
Agama juga harus dibaca bersama tujuan syariat lainnya: menjaga jiwa, akal, harta, keturunan, martabat manusia, keadilan, dan kemaslahatan.
Karena itu, seseorang tidak dapat mengatakan, “Saya melakukan kekerasan demi membela agama,” lalu menganggap kekerasan tersebut otomatis menjadi tindakan religius.
Jika cara yang digunakan justru merusak jiwa, menghancurkan harta, menciptakan ketakutan, dan memproduksi kebencian, maka ada persoalan serius dalam perspektif maqāṣid.
Agama tidak boleh dibela dengan cara yang menghancurkan tujuan moral agama itu sendiri.
Perbedaan Tidak Menghalangi Kemanusiaan
Masyarakat Indonesia menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar perbedaan agama: kemiskinan, bencana alam, kerusakan lingkungan, korupsi, kesenjangan pendidikan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta ancaman terhadap kelompok rentan.
Dalam menghadapi persoalan tersebut, apakah kita harus menanyakan agama seseorang terlebih dahulu?
Tidak.
Ketika terjadi bencana, kita menolong manusia. Ketika ada orang kelaparan, kita memberi makanan. Ketika lingkungan rusak, kita bekerja bersama memperbaikinya.
Kita tidak harus sepakat tentang Tuhan untuk sepakat bahwa manusia tidak boleh disakiti.
Kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk sepakat bahwa korupsi adalah kejahatan.
Kita tidak harus beragama sama untuk bekerja sama menyelamatkan lingkungan.
Perbedaan teologis tidak harus menjadi penghalang bagi kemanusiaan.
Toleransi di Ruang Digital
Tantangan toleransi hari ini semakin kompleks karena perbedaan masuk ke layar ponsel.
Satu potongan video dapat menjadi bahan kemarahan jutaan orang. Satu unggahan dapat memicu penghinaan terhadap kelompok agama. Satu komentar dapat mengubah perbedaan pendapat menjadi permusuhan.
Di ruang digital, kita sering lupa bahwa di balik setiap akun terdapat manusia.
Karena itu, toleransi hari ini bukan hanya persoalan bagaimana kita hidup berdampingan secara fisik. Toleransi juga menyangkut bagaimana kita berbeda secara digital.
Kita perlu belajar bahwa tidak semua perbedaan harus dijawab dengan kemarahan. Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan penghinaan. Tidak semua perbedaan harus menjadi konten permusuhan.
Agama seharusnya hadir untuk memanusiakan manusia, bukan menjadi bahan bakar untuk mempermalukan manusia.
Pada akhirnya, toleransi yang kita butuhkan bukan toleransi yang membuat orang kehilangan identitas agamanya.
Kita tidak membutuhkan umat beragama yang kehilangan keyakinan agar dapat hidup damai. Yang kita butuhkan adalah umat beragama yang kuat dalam keyakinan dan matang dalam menghadapi perbedaan.
Kita membutuhkan Muslim yang mencintai Islam tanpa harus membenci pemeluk agama lain. Kita membutuhkan umat Kristen yang teguh dalam imannya tanpa harus merendahkan Muslim. Kita membutuhkan seluruh umat beragama yang mampu mempertahankan identitas keyakinannya sekaligus menghormati warga lain.
Dengan cara itu, keberagaman tidak menjadi ancaman. Ia menjadi kekuatan.
Indonesia tidak dibangun untuk menjadi negara yang seluruh warganya memiliki keyakinan yang sama. Indonesia dibangun untuk menjadi rumah bersama bagi warga yang berbeda.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mempertentangkan akidah dengan toleransi.
Keduanya dapat berjalan bersama.
Akidah memberi kita identitas.
Toleransi memberi kita cara memperlakukan orang lain.
Maqāṣid memberi kita orientasi kemaslahatan.
Konstitusi memberi kita aturan hidup bersama.
Karena itu, saya menawarkan satu formula sederhana:
Teguh dalam akidah.
Terbuka dalam muamalah.
Setara dalam kewargaan.
Adil dalam perbedaan.
Damai dalam kehidupan.
Kita tidak perlu menghapus perbedaan untuk menciptakan perdamaian. Kita hanya perlu belajar bahwa berbeda tidak sama dengan bermusuhan.
Menjaga akidah tidak mengharuskan kita membenci perbedaan.
Justru semakin matang seseorang dalam beragama, semestinya semakin matang pula ia dalam memperlakukan manusia.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberagamaan bukan hanya seberapa keras kita mengatakan bahwa keyakinan kita benar, tetapi juga seberapa adil kita memperlakukan orang yang tidak memiliki keyakinan yang sama.
Dan mungkin, di situlah makna toleransi yang sesungguhnya.
Muh Akbar
Mahasiswa S3/Dosen UIN Palopo
Apa Reaksi Anda?

