Perspektif Geopolitik Friedrich Ratzel dalam Pertahanan Negara

Perspektif Geopolitik Friedrich Ratzel dalam Pertahanan Negara

Geopolitik Friedrich Ratzel, Hijaupopuler.id, Januari 2024.

Dalam lanskap yang terus berubah, strategi pertahanan negara menjadi suatu pilar vital dalam menjaga kedaulatan dan keberlangsungan sebuah negara. Di balik fondasi teoritis yang digunakan untuk merancang strategi-strategi ini, terdapat penjuru pemikiran yang menarik dan relevan yang berasal dari seorang ahli geografi Jerman, Friedrich Ratzel.

Ratzel, melalui konsepnya tentang "Lebensraum" atau ruang hidup, memunculkan gagasan yang terus mempengaruhi bagaimana negara-negara mempertimbangkan pertahanan mereka. Bagi Ratzel, keberlangsungan suatu negara sangat bergantung pada ruang hidup yang mencakup wilayah, sumber daya alam, dan pengaruh politik yang memadai.

Konsep ruang hidup ini telah menjadi sebuah landasan berharga dalam perencanaan pertahanan negara. Menghubungkan aspek geografis dengan kebutuhan akan keamanan, negara-negara mempertimbangkan faktor-faktor seperti posisi geografis yang strategis, akses ke sumber daya alam, dan keberadaan wilayah yang kritis dalam upaya untuk melindungi batas-batas nasional mereka dari ancaman luar.

Namun, sementara konsep Ratzel telah memberikan pandangan yang berharga tentang pentingnya ruang dalam pertahanan negara, penggunaannya terkadang disertai dengan kritik. Beberapa kritikus menyoroti bahwa teori Ratzel terlalu fokus pada determinisme geografis dan kurang mempertimbangkan aspek-aspek sosial, ekonomi, dan politik yang juga berperan penting dalam kompleksitas keamanan nasional.

Beberapa poin ini juga sempat menjadi bahan perdebatan para kandidat calon presiden dalam acara debat Capres yang digelar KPU. Pada kesempatan itu, KPU mengangkat salah satu tema soal Geopolitik. Hal itupun menjadi isu sentral di antara kandidat. Kita bisa melihat pernyataan dari kandidat Prabowo yang menganggap bahwa kesiapan pertahanan dalam hal alat utama sistem persenjataan (alutsista) mesti diadakan untuk antisipasi dan pencegahan. Ini adalah bagian dari pertahanan nasional. Sementara itu, dari kandidat lain, Anis Baswedan seolah membantah hal itu. Ia menegaskan, saat ini pertahanan negara tidak hanya berbicara soal alusista, tapi setiap jengkal kehidupan rakyat mesti dipastikan keamanannya. Anis mengatakan bahwa salah satu yang paling merajalela sekarang adalah kejahatan-kejahatan dalam dunia digital. Ini juga harus menjadi perhatian negara. 

Dari pandangan kedua kandidat ini, tentunya sudah bisa kita lihat di mana letak perbedaan perpektifnya soal pertahanan negara. Namun perbedaan pandangan ini tidak harus soal salah benar, perbedaan ini mungkin saja terpengaruh dari latar belakang mereka yang berbeda pula. Hal yang harus kita ketahui adalah bangsa saat ini membutuhkan sistem pertahanan yang seperti apa dan prioritasnya di mana?

Saat ini kita berada pada era di mana ancaman terhadap keamanan semakin beragam dan kompleks, strategi pertahanan negara telah berkembang jauh dari sekadar memperluas wilayah. Faktor-faktor seperti keamanan siber, ancaman teroris, dan dinamika geopolitik global juga menjadi fokus penting dalam perumusan kebijakan pertahanan.

Dalam merangkai strategi pertahanan, negara-negara tidak hanya bergantung pada aspek geografis semata. Mereka memadukan elemen-elemen tersebut dengan pengetahuan mendalam tentang perkembangan teknologi, diplomasi yang cerdas, dan kerja sama internasional yang erat untuk menciptakan pertahanan yang kuat dan adaptif.

Jika ada satu hal yang pasti, kontribusi Friedrich Ratzel melalui teori ruang hidupnya telah membuka jendela pemahaman tentang pentingnya faktor geografis dalam perencanaan pertahanan negara. Namun, dalam menghadapi realitas dinamis saat ini, paradigma ini menjadi bagian dari kerangka kerja yang lebih luas, di mana kebijakan pertahanan terus beradaptasi demi menjaga keamanan dan stabilitas suatu bangsa.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow