Ramadan dan Orientasi Ibadah: Pesan Rektor UIN Palopo untuk Jamaah Tarawih
Niat yang menentukan apakah suatu amalan benar-benar merupakan bentuk ketaatan, kebiasaan, atau sekadar mengikuti lingkungan sekitar. Foto: Humas UIN Palopo.
Islami | hijaupopuler.id
Ramadan bukan sekadar pergantian hari dalam kalender hijriah, melainkan momentum spiritual untuk membenahi orientasi ibadah. Pesan itu disampaikan Rektor UIN Palopo, Abbas Langaji, saat membawakan ceramah tarawih di Masjid Nur Al-Abhar, Kelurahan Salotellue, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Sabtu (21/02/2026) malam.
Dalam tausiyahnya pada malam ke-4 Ramadan tersebut, Rektor Abbas menegaskan bahwa bulan suci menyimpan keutamaan besar atas setiap amal. Ia menjelaskan bahwa satu salat fardu yang dikerjakan di bulan Ramadan dinilai setara dengan 70 kali salat fardu di luar Ramadan. Sementara salat sunah yang ditunaikan sepanjang Ramadan disebut bernilai setara dengan salat fardu di luar Ramadan.
“Ramadan menghadirkan limpahan pahala. Namun, besarnya pahala itu sangat ditentukan oleh niat,” ujarnya di hadapan jemaah.
Menurutnya lagi, niat menjadi pembeda utama antara ibadah yang bernilai di sisi Allah swt dengan aktivitas yang hanya bersifat rutinitas. Perbuatan yang tampak sama di mata manusia bisa memiliki nilai berbeda di sisi Allah swt karena perbedaan niat yang melatarinya.
Ia menambahkan, niat pula yang menentukan apakah suatu amalan benar-benar merupakan bentuk ketaatan, kebiasaan, atau sekadar mengikuti lingkungan sekitar.
Mengakhiri ceramahnya, Rektor Abbas mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai ruang evaluasi diri. Puasa, salat, dan berbagai amal kebaikan, kata dia, hendaknya tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi benar-benar menjadi ibadah yang hidup—lahir dari kesadaran, dijaga dengan keikhlasan, dan diteguhkan oleh niat yang benar.
Apa Reaksi Anda?

