Zona Nyaman Guru dan Masa Depan Pendidikan
Guru yang baik bukanlah guru yang berhenti berubah karena merasa sudah berpengalaman, melainkan guru yang terus belajar agar pengalamannya tetap relevan bagi generasi berikutnya. Foto/ilustrasi: tebuireng.online.
Edukasi | hijaupopuler.id
Education is the most powerful weapon which you can use to change the world. Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Kutipan ikonis Nelson Mandela ini bukan sekadar pemanis retorika, melainkan refleksi perjuangan panjangnya melawan penindasan. Dalam konteks Indonesia saat ini, gagasan tersebut tetap relevan. Pendidikan tidak semata-mata menjadi jalan untuk meraih gelar akademik, tetapi juga instrumen penting untuk memutus rantai kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan membangun masyarakat yang berpengetahuan.
Pendidikan kerap disebut sebagai mesin penggerak perubahan. Namun, bagaimana jika mesin itu justru berjalan di tempat karena operatornya enggan bergerak? Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada praktik pembelajaran yang bertahan pada pola lama. Sebagian guru terus menggunakan bahan ajar, metode mendikte, dan pola pencatatan yang sama selama bertahun-tahun. Bahkan, cara menyampaikan materi dan lelucon yang digunakan di ruang kelas pun nyaris tidak berubah.
Sementara itu, dunia di luar kelas bergerak begitu cepat. Teknologi digital telah membuka peluang baru bagi guru dan murid untuk mengeksplorasi pengetahuan, menemukan sumber belajar, dan menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik. Ketika perubahan berlangsung begitu pesat, mempertahankan metode lama tanpa evaluasi justru berisiko membuat pembelajaran kehilangan relevansinya.
Di era digital, guru memiliki peluang besar untuk mengembangkan metode mengajar sesuai kebutuhan dan minat murid. Berbagai platform pembelajaran, seperti Ruangguru dan sumber belajar digital lainnya, menyediakan materi yang dapat diakses dengan relatif mudah. Video edukasi, infografis, simulasi, dan podcast dapat menjadi alternatif untuk menjelaskan materi yang kompleks dengan cara yang lebih menarik.
Namun, pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan kesiapan guru. Perkembangan karakteristik murid, termasuk generasi Z dan generasi Alpha, menuntut institusi pendidikan untuk terus mengevaluasi pendekatan pembelajaran. Materi yang semula disampaikan melalui uraian panjang dapat dikembangkan menjadi visualisasi atau konten audiovisual yang lebih mudah dipahami. Meski demikian, teknologi bukan tujuan akhir. Penggunaannya harus tetap diarahkan pada pemahaman, penalaran, dan pencapaian tujuan pembelajaran.
Persoalannya, sebagian guru bisa saja merasa bahwa gelar sarjana yang diperoleh puluhan tahun lalu dan pengalaman mengajar yang panjang sudah cukup menjadi bekal hingga masa pensiun. Pola pikir semacam ini berpotensi melahirkan pembelajaran yang monoton, ketika murid lebih banyak diminta menghafal daripada memahami esensi ilmu yang dipelajari.
Sikap tersebut semakin terlihat ketika guru berhadapan dengan perubahan teknologi. Alih-alih mempelajari media pembelajaran baru, sebagian orang justru buru-buru menyalahkan perkembangan zaman dan menganggap teknologi sebagai penyebab kemerosotan moral murid. Padahal, setiap perubahan memang membawa peluang sekaligus risiko. Tantangannya bukan sekadar menerima atau menolak teknologi, melainkan memahami cara menggunakannya secara tepat.
Tulisan ini bukan ajakan agar guru bergantung sepenuhnya pada platform digital. Teknologi hanyalah salah satu instrumen pembelajaran, bukan pengganti kompetensi pedagogik, keteladanan, maupun hubungan manusiawi antara guru dan murid.
Dalam buku Pengetahuan Sebagai Strategi, Muhammad Suryadi R. menekankan pentingnya guru untuk menyesuaikan diri dengan zaman tempatnya hidup. Gagasan tersebut mengingatkan bahwa guru tidak cukup hanya menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Guru juga perlu terus belajar, memperbarui pengetahuan, dan memahami perubahan sosial agar tetap relevan dalam menjalankan perannya. Tanpa kemauan beradaptasi, identitas keguruan dapat menghadapi dilema: dituntut membimbing masa depan, tetapi justru enggan meninggalkan kebiasaan masa lalu.
Guru yang terjebak dalam zona nyaman juga berisiko membangun ruang kelas yang kurang terbuka terhadap pertanyaan kritis. Murid yang patuh dan diam mungkin dianggap ideal, sedangkan pertanyaan di luar buku teks dipandang sebagai gangguan. Akibatnya, pembelajaran kehilangan salah satu unsur terpentingnya, yakni ruang untuk bertanya, menguji gagasan, dan membangun pemahaman secara mandiri.
Di sinilah jurang antara guru dan murid dapat melebar. Ketika murid terbiasa menggunakan teknologi untuk mencari informasi, sementara guru enggan mempelajari perkembangan tersebut, keduanya berpotensi memiliki cara pandang yang berbeda terhadap proses belajar.
Pertanyaan mendasarnya sederhana: bagaimana guru dapat menuntun murid menuju masa depan jika ia sendiri enggan melepaskan diri dari kebiasaan masa lalu?
Dahulu, guru menjadi salah satu sumber utama informasi di ruang kelas. Kini, murid dapat mengakses berbagai sumber pengetahuan melalui mesin pencari dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Data PISA 2025 menunjukkan bahwa 53 persen murid Indonesia yang disurvei menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali dalam sepekan. Angka ini lebih tinggi daripada rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yakni 46 persen. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa AI telah menjadi bagian dari pengalaman belajar sebagian murid Indonesia.
Perkembangan ini menuntut guru memperkuat kompetensi digital sekaligus kemampuan pedagogiknya. Kemampuan menggunakan teknologi perlu disertai kecakapan membimbing murid untuk memeriksa kebenaran informasi, menilai kualitas sumber, serta memahami batas penggunaan AI dalam pembelajaran. Penguatan kompetensi digital guru juga menjadi salah satu arah kebijakan Kemendikdasmen dalam menindaklanjuti hasil PISA 2025.
Guru yang tidak memahami perkembangan teknologi berisiko kesulitan membedakan tugas yang lahir dari proses penalaran murid dengan tugas yang sebagian besar dihasilkan melalui penyalinan atau bantuan AI tanpa pemahaman memadai. Persoalannya bukan pada penggunaan teknologi itu sendiri, melainkan pada bagaimana teknologi digunakan dan bagaimana proses belajar tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Jika guru hanya berperan sebagai penyampai informasi yang tersedia di buku teks, murid mungkin akan mempertanyakan relevansi pembelajaran di kelas ketika informasi serupa dapat diperoleh dalam hitungan detik. Pada titik ini, otoritas intelektual guru dapat melemah. Bukan karena guru harus mengetahui segala hal, melainkan karena ia kehilangan kesempatan untuk menunjukkan bagaimana pengetahuan diuji, dipahami, dan digunakan secara bijaksana.
Padahal, peran guru tetap sangat penting. AI dapat membantu mencari informasi, merangkum bacaan, atau menawarkan jawaban, tetapi murid masih membutuhkan bimbingan untuk menilai ketepatan informasi, memahami konteks, mempertimbangkan nilai etis, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Di sinilah guru berperan sebagai pembimbing intelektual yang membantu murid membedakan informasi yang benar dari yang keliru, serta pengetahuan yang bermakna dari jawaban instan yang belum dipahami.
Karena itu, keluar dari zona nyaman bukan berarti guru harus meninggalkan seluruh metode konvensional. Metode ceramah, membaca buku, dan mencatat tetap dapat digunakan selama sesuai dengan tujuan pembelajaran. Yang perlu ditinggalkan adalah anggapan bahwa satu metode akan selalu efektif untuk setiap generasi dan setiap situasi.
Guru tidak dituntut menjadi ahli teknologi dalam semalam. Ia hanya perlu memiliki kemauan untuk belajar, mencoba pendekatan baru, mengevaluasi hasilnya, dan memperbaiki kekurangan. Pengalaman panjang tetap menjadi modal berharga, tetapi pengalaman tersebut akan semakin bermakna jika disertai keterbukaan terhadap pengetahuan baru.
Pada akhirnya, pendidikan tidak akan bergerak maju apabila orang-orang yang menjalankannya berhenti belajar. Guru bukan sekadar penjaga pengetahuan masa lalu, melainkan pendamping yang membantu murid memahami perubahan dan mempersiapkan masa depan. Sebab, tugas guru bukan membuat murid terus bergantung kepadanya, tetapi menumbuhkan kemampuan agar mereka mampu berpikir, belajar, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Guru yang baik bukanlah guru yang berhenti berubah karena merasa sudah berpengalaman, melainkan guru yang terus belajar agar pengalamannya tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Nur Rizky Oktaviani, S.Pd.
Guru MA Darul Ulum Amessangeng Maros, Sulsel.
Apa Reaksi Anda?

